Sekilas tentang Sikap Spiritual

KUNINGAN (MASS) – Ada ranah-ranah dalam diri setiap individu yang tidak bisa dijangkau oleh individu lain. Dalam dunia pendidikan formal terdapat istilah afektif, kognitif dan psikomotorik. Ketiganya memiliki karakteristik yang berbeda dari segi cara transformasi dan internalisasi pengetahuan ataupun dari segi cara pengukurannya. Afektif terkait dengan sikap, perasaan, emosi dan karakteristik moral. Kognitif menitik beratkan pada proses intelektual. Psikomotorik menunjukkan pada gerakan-gerakaan jasmaniah dan kontrol jasmaniah.

Ketiga ranah tersebut saling melengkapi satu sama lain, terlebih lagi dalam pendidikan islam. Orang yang hidup sebagai penganut agama, tentunya memiliki tanggung jawab terhadap dirinya, orang lain dan yang utama ialah terhadap Tuhannya.

Salah satu dari ketiga ranah tersebut ialah ranah afektif, dimana afektif terbagi menjadi dua yaitu sikap sosial dan sikap spiritual. Sikap sosial merupakan sikap-sikap yang berhubungan dengan hubungan sosial, seperti simpati, empati, tanggung jawab, menyadari hak dan kewajiban. Sikap spiritual lebih kepada bagaimana hubungan individu dengan Allah SWT. Pembentukan afektif tidak lepas dari peran kognitif, di mana setidaknya afektif akan bekerja sesuai dengan kapasitas kualitas transformasi intelektual. Namun, tidak selalu ditemukan bahwa kualitas kognitif yang baik menunjukkan kualitas afektif yang baik.

Contoh kecilnya dalam kehidupan sehari-hari, ada anak petani tidak sekolah tapi memiliki akhlak baik dan rajin ibadah, tetapi ada anak Bupati yang sarjana, namun buruk akhlaknya dan ibadahnya berantakan.
Hal ini menunjukkan bahwa kognitif hanya berperan sampai batas tertentu, tergantung bagaimana hati individu itu membatasinya. Dalam buku yang berjudul “Alaa Wa Hiyaa Qalbu”, ditulis oleh Iqra Firdaus, menyebutkan bahwa hati manusia memiliki tiga pasukan, yaitu pasukan Iradah (kehendak), pasukan Qudrah (kekuatan), dan pasukan Idrak (Ilmu dan pencerapan).

Pasukan iradah merupakan pasukan pendorong dan penyemangat, baik mendorong kemanfaatan (kebaikan) maupun kebatilan, pasukan ini memiliki prajurit yang dinamakan mutmainah (baik) dan amarah (jahat). Pasukan qudrah (kekuatan) merupakan yang menggerakkan anggota badan untuk mewujudkan sesuatu yang diinginkan oleh pasukan iradah. Dan pasukan idrak bertugas untuk mencerap dan mengetahui berbagai hal. Jika diibaratkan, ia layaknya mata-mata, yang terdiri dari panca indera dan akal fikiran sebagai wadah ilmu pengetahuan, akal fikiran berpengaruh pada kondisi hati dan kadar ilmu pengetahuan (kognitif) bisa mempengaruhi dua pasukan sebelumnya. Ketiga pasukan ini dapat bekerja sama dan saling mempengaruhi.

Pasukan idrak dapat mengetahui yang halal dan haram, yang berbahaya dan bermanfaat serta yang ragu-ragu. Pasukan idrak bisa menentukan dua pasukan lainnya untuk memilih apakah menghindari atau menerobos bahaya. Contohnya, ketika menurut pasukan idrak zina itu haram sesuai pengetahuan yang didapatkan, tetapi karena pasukan iradah lebih kuat, ia pun akhirnya menerobos jatuh pada zina dengan dikerahkan oleh kekuatan pasukan qudrah.

Manusia tidak mungkin menghindar dari kehidupan bermasyarakat, maka sudah semestinya potensi sikap sosial manusia harus terus dikembangkan dan diterapkan, agar kehidupan bermasyarakat dapat berjalan dengan baik. Sikap sosial menyentuh pada lingkup hak dan kewajiban bermasyarakat, maka tidak salah apabila induvidu melakukan kejelekan lalu mendapat teguran berupa nasihat atau kritikan dari sekitarnya, bahkan disebut sampah masyarakat. Hal ini dikarenakan out put sikap sosialnya tidak sesuai dengan yang semetinya.

Namun, berbeda dengan sikap spiritual seseorang, atau yang menunjukkan bagaimana hubungan individu dengan Tuhannya. Beberapa masyarakat mungkin bisa melihat indikator kualitas spiritualnya dari bagaimana individu itu beribadah, itu pun hanya secara fisik yang terlihat.

Kemungkinan ada perbedaan antara fisik yang terlihat dengan isi batin yang sesungguhnya. Inilah yang di awal tadi disebutkan bahwa ada ranah-ranah individu yang tidak bisa dijangkau oleh individu lain, yaitu ranah batin atau isi hati. Hati merupakan tempat bersemayamnya keyakinan seseorang, maka hanya pemilik hatinya yang bisa mengetahui apa yang ada di hatinya.

Kembali lagi kepada tiga pasukan hati, bisa saja penampilan seseorang yang terlihat islami, karena idrak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menyamar, dan qudrah melakukan kerjanya dengan menggerakan diri dalam penyamaran atas perintah pasukan iradah, atau apapun bisa terjadi sesuai pengetahuan, kemampuan dan kepentingan apa yang dimiliki seseorang.

Dalam menentukan bagaimana keyakinan seseorang, tidak serta-merta dapat dilihat dari indikator-indikator yang kasat mata saja, tapi selebihnya hanya orang tersebut yang mengetahuinya. Maka, jika boleh menyinggung tentang tingkat keimanan atau kekafiran, memang benar bukan hak manusia dalam menentukannya dalam batas makna bahwa kafir merupakan orang yang tidak percaya Allah dan Rasul-Nya.

Sebutan kafir pada orang lain hanya akan membuat renggang hubungan bermasyarakat dan bernegara, pasalnya sebutan itu memiliki sensitifitas negatif yang dikhawatirkan akan menimbulkan gesekan antar umat beragama.

Mestinya yang kita lakukan ialah terus menelisik ke dalam memahami diri masing-masing, apakah kita termasuk orang yang pantas disebut beriman atau orang yang pantas disebut kafir, bukan malah sibuk menjelajah keluar mencari kekafiran orang lain..
Sekian…

Ifan M M Arifin
Penulis adalah sarjana PAI IAIN Syekh Nurjati Cirebon asal Kuningan.
Saat ini, aktif di IPNU Kuningan

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com