Rhoma Irama : Usia 73 Tahun atau 37 Tahun Apa Bedanya ?

KUNINGAN (MASS) – Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut hari jadi ke-73 tahun Rhoma Irama tepat tanggal 11 Desember 2019 nanti. Mengkomparasikan dengan angka usia sebaliknya dari usia Rhoma Irama saat ini semata hanya untuk menarik garis lurus konsistensinya dalam memajukan dan menjaga musik dangdut agar selalu dalam jalur patronnya.

Disamping itu juga untuk mengetahui sejauh mana kreatifitas dan produktivitas serta pencapaian diantara kedua usia tersebut.

Rujukan data untuk tulisan ini diambil dari berbagai sumber terutama dari media daring yang menyajikan begitu banyak pilihan data. Untuk media daring, data banyak diambil dari grup Facebook Kelompok Pengapresiasi dan Kolektor Album-album Soneta (Kelana) yang menyajikan banyak data faktual.

Hal ini dikarenakan pendirinya sendiri memiliki kedekatan dengan Rhoma Irama dan juga para personel Soneta Group. Disamping itu diantara anggotanya kerap saling mengkoreksi validitas informasi yang disampaikan di grup, sehingga informasi yang ada tidak hanya faktual tapi juga aktual.

Sebagaimana diketahui Rhoma Irama dilahirkan di Tasikmalaya Jawa Barat pada tanggal 11 Desember 1946. Terlahir dengan nama Irama kerap disapa dengan panggilan Oma yang kemudian kelak berganti nama menjadi Raden Haji Oma Irama atau yang akrab disebut Rhoma Irama selepas kepulangan dari haji pada tahun 1976.

Apabila berpijak dari tahun kelahiran, maka usia ke-37 tahun jatuh pada tahun 1982. Pada kurun waktu tersebut Rhoma Irama tengah berada pada puncak karirnya, mengingat begitu banyaknya prestasi yang telah ditoreh bersama Soneta Group, tidak hanya di industri musik tapi juga di industri perfilman nasional.

Memulai debut bersama Soneta Group pada tahun 1970 kemudian memproklamirkan diri sebagai Sound of Moslem pada tahun 1973 yang kerap disangka sebagai tahun terbentuknya Soneta. Sebenarnya Rhoma Irama terjun di kancah musik melayu sudah dari tahun 1968.

Hal ini berdasarkan penelusuran rekaman lagu kali pertama Rhoma Irama yang berjudul Pelita Hidup dengan iringan Orkes Melayu Candraleka. Bersama Soneta Grouplah Rhoma Irama menemukan identitasnya dalam bermusik dan mampu mengangkat citra musik dangdut menjadi lebih berkelas dengan revolusi yang dilakukannya.

Terjun dalam industri perfilman nasional pertama kali pada tahun 1976 dengan judul film Penasaran. Walaupun memang sempat hadir bersama Soneta Group dalam film Krisis X tahun 1975, akan tetapi tidak bisa dianggap sebagai film pertamanya karena hanya sebatas cameo saja tidak memiliki peran penting dalam film tersebut.

Walau kerap dikritisi para kritikus film, tapi tak bisa dimungkiri film-film Rhoma Irama lah yang selalu penuh sesak oleh penonton dibanding film-film lainnya pada masa itu. Tercatat Pada tahun 1982 Rhoma irama sudah mengeluarkan album volume bersama Soneta Group sebanyak 11 album.

Untuk album soundtrack film sebanyak 12 album, serta telah membintangi film sebanyak 12 judul film dari mulai film penasaran sampai dengan film pengorbanan produksi tahun 1982. Dari capaian penjualan album bersama Soneta tersebut rata-rata mendapat Golden Record atau Platinum Award.

Bila dihitung lebih dari 11 Golden Record yang telah diterima oleh Rhoma Irama. Untuk filmnya pun rata-rata mampu menarik massa untuk memadati bioskop, bahkan untuk film pengorbanan berhasil menyabet Piala Antemas sebagai salah satu film terlaris.

Film pengorbanan dari segi anggaran mungkin tidak bisa disamakan dengan film satria bergitar yang memulai masa syuting tahun 1983 dengan biaya yang sangat fantastis mencapai Rp.1 miliar. Dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp.400 juta, biaya film pengorbanan pada kurun waktu tersebut sudah cukup besar bila dibanding dengan film-film nasional lainnya yang menghabiskan biaya dikisaran Rp150 Juta sampai dengan Rp.250 juta.

Perlu diketahui juga untuk urusan honor film Rhoma Irama boleh dibilang paling tinggi dengan honor sekali main film sekitar Rp35 Juta yang akan sangat sulit disamai oleh aktor lain pada masa itu.

Dalam hal musik hal spesial lainnya adalah mengeluarkan album live show dari Tambak Sari Surabaya pada tahun 1982, mungkin satu-satunya di Indonasia dan juga sekaligus menjadi pelopor dalam mengeluarkan album live show.

Sebagaimana diketahui kala itu merekam album live show tidak semudah saat ini karena terkendala masalah teknis, disamping itu dengan biaya yang cukup besar dengan respon pasar yang mungkin tidak sesaui harapan menjadi sandungan dalam mengeluarkan album live show.

Tapi dengan kebesaran nama Rhoma Irama ternyata album tersebut mendapat respon yang positif, bahkan hingga kinipun menjadi incaran para kolektor.

Dalam urusan politik pun Rhoma Irama memiliki daya pikat yang luar biasa, terhitung dua kali yakni pada tahun 1976 dan tahun 1982 Rhoma yang kala itu menjadi juru kampanye PPP mampu mendorong PPP menumbangkan Partai Golkar diwilayah Jakarta yang merupakan basis massanya.

Hal inilah yang menjadi awal mula dari pencekalan Rhoma Irama oleh pemerintah, hingga kesulitan manggung tidak hanya di luar negeri akan tetapi juga di dalam negeri, padahal manajer The Rooling Stones pada tahun 1980-an hendak mengajak Rhoma irama dan Soneta Group untuk show di Amerika.

Boleh dibilang usia 37 tahun merupakan usia gemilang dari seorang Rhoma Irama, selain produktif dalam berkarya juga misinya yang luar biasa dalam bermusik yang tidak hanya menjadikan musik sebagai sarana bersenang-senang akan tetapi ada bentuk pertanggungjawabannya kepada Alloh.

Tentu yang diejawantahkan kedalam revolusi musik dangdut, sehingga menjadikan musik ini menjadi lebih berestetika dan juga beretika yang menjadi identitas Soneta Group selama ini.

Usia saat ini 73 tahun merupakan usia yang matang dari seorang Rhoma Irama, akan tapi tidak membatasi ruang gerak produktivitasnya. Bila kita lihat sepanjang tahun 2019 ini jadwal shownya terhitung sangat padat, selain manggung untuk acara-acara hiburan di televisi juga terlibat untuk manggung dalam urusan politik seperti halnya pemilihan presiden juga pemilihan kepala derah beberapa waktu lalu.

Disamping itu beliau juga aktif mengisi ceramah, baik atas undangan masyarakat maupun dalam memperingati hal tertentu seperti halnya peringatan Maulid Nabi. Ternyata usia yang sudah kian menanjak tidak menghalanginya dari berbagai aktivitas yang menguras tenaga dan fikirannya.

Untuk urusan prestasi pun Rhoma Irama masih diperhitungkan, tepatnya pada tanggal 17 November 2019 mendapat penghargaan dalam Ajang Anugerah Dangdut Indonesia (ADI) 2019 sebagai Legenda Dangdut Paling Mantul atas kiprahnya selama puluhan tahun di bidang musik dangdut.

Bila melihat prestasinya dari awal karir hingga saat ini sudah tak terhitung penghargaan yang sudah disematkan kepada beliau, sehingga untuk penghargaan tahun ini seolah menjadi pemanis dalam menyambut usianya yang ke-73 tahun.

Untuk urusan film, tahun ini memang hanya menjalani syuting FTV dengan judul Banyak Jalan Menuju Rhoma yang akan ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta dalam waktu dekat. Total sudah 26 Film dan 3 FTV yang dibintangi oleh Rhoma Irama sejak dari tahun 1976 sampai dengan tahun 2019.

Dalam setiap filmnya selalu konsisten dengan unsur dangdut dan kental dengan nafas islami yang selalu menjadi ciri khasnya.

Dalam hal urusan musik secara grup memang saat ini Soneta Group kerap mendapat kritikan dari para fansnya sehubungan penambahan instrument dholak yang dianggap kian menjauhkan dari identitas Soneta selama ini.

Terlebih penambahan satu orang personel brass section yang semula tiga orang kini menjadi 4 orang dianggap terlalu “berisik” oleh sebagian fans. Para fans cenderung mengharapkan formasi Soneta seperti halnya formasi III yang terkesan solid dan original dalam musiknya.

Untuk hal tersebut sepertinya memang Rhoma Irama punya pertimbangan tersendiri, apalagi posisi pemain dholak semula diposisikan sebagai cadangan apabila pemain gendang utama berhalangan tampil. Kehadiran pemain tambahan pada posisi brass section pun sebetulnya memang dimaksudkan untuk menambah musik Soneta supaya lebih kian semarak.

Terlepas dari keinginan para fansnya, Rhoma Irama sepertinya terus berupaya untuk menghadirkan sesuatu yang baru dalam musik Soneta. Revolusi dangdut memang sudah dilewatinya, akan tetapi jiwa inovasinya seorang Rhoma Irama tak pernah padam.

Memang tidak adil rasanya bila membandingkan prestasi maupun pencapaian Rhoma Irama antara masih berusia 37 tahun dengan 73 tahun, karena banyak faktor penentu dalam pencapaian di kedua usia tersebut,

Namun satu hal yang mesti diingat bahwa konsistensinya untuk memajukan musik dangdut patut diapresiasi. Tak salah bila beliau pernah berujar “ gitar boleh tua, Rhoma Irama boleh tua, akan tetapi semangat untuk memperjuangkan dangdut yang positif harus selalu bersemangat muda”, sepertinya semangat inilah yang mendasarinya selama ini.

Selamat ulang tahun Rajaku, semoga tetap berkarya bersama Soneta hingga waktu yang membatasinya***

 

Penulis : Agus Fitriyana

(Fans berat Rhoma Irama dan juga merupakan salah seorang anggota Forsa Kuningan).

 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com