Rhoma Irama dan Revolusi Musik Dangdut

KUNINGAN (MASS) – Tanggal 11 Desember 2018 ini Rhoma Irama genap berusia 72 tahun dan untuk Soneta Grupnya sendiri genap berusia 48 tahun.

Rentang usia cukup panjang dan mungkin satu-satunya grup musik angkatan lama yang masih eksis dan diterima penggemarnya. Bahkan julukan Raja Dangdut yang disematkan kepada Rhoma Irama sampai detik ini pun tidak ada yang bisa menggesernya. 

Semua itu tidak terlepas dari Revolusi yang dilakukan oleh Rhoma Irama dan Soneta Grup terhadap musik dangdut. Sebagaimana diketahui musik dangdut merupakan bagian dari identitas bangsa yang telah terinternalisasi secara budaya melalui proses panjang.

Perkembangan musik dangdut tidak bisa dilepaskan dari Rhoma Irama yang berkontribusi cukup besar bagi kemajuan musik dangdut itu sendiri. Musik dangdut kini bisa sejajar dengan musik rock, pop dan musik lainnya merupakan buah dari perjuangannya bersama Soneta Grup yang dibentuknya pada tahun 1970. 

Sebelum menekuni musik dangdut, terlebih dahulu Rhoma Irama sudah bermusik di jalur rock dan pop. Bahkan tercatat Rhoma irama pernah memiliki grup band sendiri dimana salah satunya yang penulis ingat nama grup bandnya tersebut adalah GayHand.

Penulis sendiri belum tahu apa yang melatari pengambilan nama tersebut untuk bandnya kala itu, mengingat nama yang cukup aneh untuk sebuah band dan bisa menimbulkan persepsi negatif atas penamaan tersebut. 

Sebelum Soneta benar-benar diikrarkan sebagai sebuah grup, Rhoma Irama masih sempat mengikuti ajang Pop Asian Festival Song pada tahun 1970-an yang dimenangi oleh beliau sebagai juara pertama, dimana lagu yang dibawakan pada festival tersebut merupakan salah satu lagu dari Thom Jhon yang berjudul I Who Have Nothing.

Setelah Soneta Grup berdiri pun beliau masih sempat mengeluarkan beberapa album pop yang cukup mendapat respon positif dari pasar. Salah satu album popnya yang bertajuk remaja dan bulan.

Menurut penulis sendiri merupakan album pop yang paling pop, mengingat tema lagunya beragam dengan aransemen musik yang cukup dinamis dan nyaman buat dinikmati. Awal terjun di musik rock dan pop inilah yang kelak juga memberikan pengaruh dan sentuhan dalam merevolusi musik dangdut. 

Salah satu fakta yang cukup menarik awal Rhoma Irama masuk dan menekuni jalur musik dangdut adalah berkat dorongan istrinya almarhumah Hj Veronica. Berkat dorongan istrinyalah Rhoma Irama mampu menepis keraguan dan justru menemukan passionnya di musik dangdut ini.

Seandainya tanpa dorongan istrinya mungkin tak akan pernah ada revolusi dalam musik dangdut, musik ini akan tetap stagnan dan akan terus termarjinalkan.

Rhoma Irama secara pasti mulai menekuni dangdut dapat diketahui melalui album pertamanya bertajuk pelita hidup yang diproduksi pada tahun 1968 dengan iringan Orkes Melayu Chandraleka.

setelah itu berturut-turut bergabung dengan Orkes Melayu Sagita, Pancaran Muda, El Sitara, Purnama dan akhirnya pada tanggal 11 Desember 1970 membentuk grupnya sendiri Soneta Grup yang kemudian diikrarkan sebagai Sound of Moslem pada tahun 1973.

Memang sebelum mendirikan Soneta rata-rata penjualan lagunya biasa saja, baru setelah membentuk Soneta grup dan mengeluarkan album volume yang berisi kumpulan beberapa lagu baru penjualannya mengalami lonjakan yang sangat signifikan terutama pada penjualan album volume satu begadang, dimana seolah hal ini juga menjadi pijakan dan pembuka jalan dalam rangka melakukan revolusi musik dangdut.

Revolusi dangdut yang dilakukan Rhoma Irama tidak hanya terbatas pada esensi dangdut sebagai sebuah musik dengan menerapkan patron melalui proses iterasi buah pemikirannya, akan tetapi juga pada perangkat instrumen yang mendukung musik dangdut.

Revolusi yang dilakukannya memang tidak dengan sekonyong-konyong, akan tetapi dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan agar mampu dicerna selera masyarakat dangdut. 

Unsur Rock merupakan yang paling awal dan dominan diterapkan dalam revolusi musik dangdut. Deep Purple merupakan salah satu grup musik rock yang menginspirasi Rhoma Irama dalam memformulasikan musiknya. Bahkan seiring waktu akhirnya ditambahkan pula alat tabuh drum yang melengkapi gendang sehingga terasa sekali unsur rocknya yang diimprovisasi sedemikian rupa oleh pemain gendangnya H. Cofiv.

Disamping itu dengan memasukan unsur Brass Section yang terdiri dari pemegang terompet, Saxsofon dan Alto Sax kian menggenapi revolusi yang dilakukan Rhoma Irama. 

Rhoma Irama merupakan seorang musisi yang dianugerahi talenta yang luar biasa baik kemampuan vokalnya maupun kepiawaiannya mencipta dan memainkan musik. Disamping itu para personel Soneta Grup pun rata-rata cukup piawai dalam memainkan instrumen musik pegangannya.

Perpaduan dua faktor inilah yang benar-benar memuluskan Rhoma Irama dalam melakukan revolusi musik dangdut. Puncaknya dapat disimak pada album Menggapai Matahari keluaran tahun 1986.

Dalam salah satu albumnya lagu yang berjudul seni merupakan sebuah karya luar biasa yang menjadi indikator keberhasilannya dalam merevolusi musik dangdut, dikarenakan baik secara aransemen musik maupun muatan lirik lagunya benar-benar menunjukkan kematangan revolusi yang dilakukannya. 

Ada satu hal muatan penting merupakan inti dari revolusi musik dangdut itu sendiri, yaitu nafas Islami yang berupaya dilekatkan kedalam musik dangdut. Hal ini ditandai pula dengan ikrar Soneta sebagai Sound of Moslem pada tahun 1973.

Disamping itu dengan terjunnya Rhoma Irama kedalam dunia perfilman nasional kian mengokohkan upaya revolusi musik dangdut yang dilakukannya, mengingat nafas Islami dan musik dangdut selalu dibawa dalam film-filmnya. 

Tidak dapat dimungkiri dengan revolusi pada musik dan syair yang dilakukan Rhoma Irama menjadikan musik dangdut lebih beretika dan berestetika, sehingga tak heran bila musik dangdut yang memang sudah lekat dengan sebagian besar masyarakat Indonesia kian diterima dan diakui secara luas keberadaannya.

Tak salah memang bila musik dangdut sekarang ini manjadi identitas budaya bangsa yang keberadaanya sudah menjangkau berbagai kalangan masyarakat. 

Selamat ulang tahun Rajaku, semoga engkau dan Soneta tetap memberikan kontribusi bagi masyarakat luas dengan Nada dan Dakwah yang telah menjadi identitas musik Soneta dan menjadi kebanggan masyarakat musik dangdut**

Penulis : Agus Fitriyana

Tinggal Kecamatan Kuningan

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com