Refleksi: Peran Santri dalam Menghadapi Era Digitalisasi dan Globalisasi

KUNINGAN (MASS) – Sebagian besar masyarakat Indonesia mengartikan santri adalah seseorang yang menimba ilmu di pondok pesantren dan mengkaji kitab-kitab kuning. Padahal apabila kita renungi kata santri itu sangat luas cakupannya, dalam bahasa Sansakerta kata santri berasal dari kata sastri yang memiliki arti melek huruf.

Apabila membicarakan huruf secara gamblang yang terbayang adalah sebuah tulisan dan apabila membicarakan tulisan berarti berbicara sebuah bacaan. Ini sangat kait eratannya dengan wahyu yang pertama kali turun di gua hiro yaitu perintah membaca. Kita tahu dan yakini bahwa alam tercipta tidak dengan sendirinya, akan tetapi ada yang menciptakan. Dalam ilmu tauhid disebutkan adanya alam sebagai salah satu dalil Aqli adanya sang pencipta, yaitu Allah Swt.

Lalu pertanyaannya kenapa wahyu yang pertama turun adalah perintah membaca? Bukan perintah solat yang merupakan ibadah vertikal kepada sang pencipta? Ini sangat erat kaitannya ketika Rasulullah Saw mendekati usia 40 tahun, beliau telah banyak merenungi kaumnya yang tidak sejalan dengan kebenaran, hal tersebut membuat rasulullah mengasingkan diri (uzlah) dari kaumnya. Beliau biasa mengasingkan diri di sebuah gua, yang bernama gua hiro yang terletak di jabal nur.

Dalam uzlahnya, rasulullah banyak beribadah dan merenungi kekuasaan Allah di alam semesta yang begitu sempurna. Dalam perenungannya rasulullah semakin menyadari keterpurukan kaumnya yang masih terbelenggu oleh kesyirikan.

Syirik adalah menganggap bahwa Allah berserikat atau mempunyai sekutu, bahkan yang paling parah menganggap bahwa Allah berbilang, ini tidak memungkinkan bahkan mustahil apabila tuhan berbilang, karena dengan adanya dua tuhan atau lebih akan membuat alam rusak dengan kekuasaan tuhan yang berbilang atau berserikat, kalo dalam kitab tijan daruri disebut tasalsul. Ini menjadi alasan mengapa dakwah rasulullah pertama di Mekkah adalah menanamkan paham monoteis dan menolak paham politeis.

Dengan hal tersebut Allah menurunkan wahyu pertamanya dengan perintah membaca, yaitu membaca dengan merenungi semua yang ada di alam semesta bahkan membaca masyarakat yang tidak sejalan dengan kebenaran. Sehingga rasulullah bisa mengubah kondisi masyarakat yang jahiliyyah menjadi masyarakat madani yang beradab.

Kita lihat perkembangan dunia santri di era digitalisasi dan globalisasi, dimana dunia tidak terbatas ruang dan waktu. Santri harus bisa mengimbangi antara kehidupan duniawi dan ukhrowi. Dengan pemahaman bahwa santri adalah seseorang yang melek akan sebuah huruf kemudian secara objektif menjadi sebuah tulisan yang akhirnya menjadi sebuah bacaan.

Maka dapat disimpulkan bahwa santri harus bisa membaca kondisi masyarakat di zaman sekarang yang semakin kurang beradab dengan pesatnya perkembangan teknologi, sehingga tontonan menjadi tuntunan, akan tetapi tuntunan hanya menjadi tontonan.

Maka peran santri harus mengubah kondisi masyarakat dengan memahami agama islam yang kata Nurcholish madjid bersifat universal sehingga bisa memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan, tidak menganggap bahwa agama islam sudah tidak bisa lagi memecahkan masalah kendati secara normatif teks-teks sakral tidak sesuai dengan kondisi sosial maupun kultur bangsa Indonesia.

Akan tetapi santri harus mengambil pesan moral yang terkandung dalam teks Al-qur`an serta mengkontekstualisasikan dengan kondisi bangsa Indonesia, sehingga peran santri dalam membangun bangsa dan negara sangat berpengaruh bagi etika dan moralitas masyarakat, serta bisa mengubah ke arah masyarakat madani yang beradab.***

Penulis adalah :
Alif Fathil Ajiz
Kader Ikatan Mahasiswa Kuningan (Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga di IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com