Puisi : Kandas

KUNINGAN (MASS)-
Telah tiba saatnya, janji diingkari,
Harapan tak terpenuhi,
Kisah kita akhiri,
Serta jutaan kenangan harus kita simpan sendiri-sendiri.
 
Aku sadar, banyak rasa yang belum tersampaikan,
Puisi-puisi yang belum sempat kubacakan,
Amarah yang tak terluapkan,
Impian yang tak tercapai dengan pelaksanaan, serta seluruh rencana akhirnya berujung wacana.
 
Kita sepakat hari itu untuk selesai. Tak ada lagi kisah lanjutan, kita mengakhirinya dengan pertemuan singkat. Sebulan setelahnya kita bertemu, lagi-lagi aku pulang dengan berlinang air mata. Kini sudah tak ada lagi rasa dan raga yang saling terpaut.
 
Belakangan aku sadar, kita tak pernah benar-benar saling terikat.
Aku ada hanya untuk menyembuhkan luka mu di masalalu dan Kita hanyalah kebetulan – kebetulan yang disengajakan Tuhan. Kebetulan saja, aku membuatmu nyaman.
 
Butuh waktu sangat lama untuk mengikhlaskan, sebab aku belum pernah sejatuh cinta ini, lalu dihancurkan sepatah itu.
Pada akhirnya, aku harus berprasangka baik kepada tuhan yang mempertemukan. Tuhan ingin aku banyak belajar untuk “tidak terlalu”. Tidak terlalu menyayangi, tidak terlalu berharap, serta tidak terlalu larut dalam sedih.
 
Untukmu, semoga kamu mendapatkan sesorang yang lebih baik dari ku, seseorang yang akan mampu kamu perlakukan dengan baik, perempuan beruntung yang akan dengan bangga kamu kenal kan pada teman-teman dan keluarga mu.
 
Untukmu, Terima kasih atas tiap kasih yang pernah kuterima. Kamu mengubah cara pandangku, bahwa tidak semua kekasih pantas menerima kasih yang penuh.
Sebab yang penuh kasih lebih cenderung berujung “kasihan”.
Aku tidak mau itu terulang.
 
Untukmu, Terima kasih telah jadi salah satu bagian terbaik dari hidupku.
Lembaran-lembaran sobek tak akan kututupi, pun akhir kisah yang menyedihkan ini.
Aku menyayangimu sepenuhnya, sampai waktu kamu hanya menyayangiku seperlunya.
 
Pada rasa tanpa kata,
Pada telinga tanpa suara terdengar,
Pada mata yang enggan melihat masa lalu yang kelam,
Aku begitu percaya bahwa cinta itu soal makna, bukan sekadar kata.
 
Hari ini, satu tahun yang lalu di tanggal ini kita sama-sama jujur tentang perasaan kita masing-masing.
Namun Hari ini, aku gagal.
Sebab kumpulan kata di atas yang terbentuk menjadi utas, kisah kita jadi kehilangan makna.
Walau begitu, aku percaya kisah ini perlu dibagikan.
Sebagai bukti kita pernah “saling”, sebelum kita “berpaling”.
 
Lalu bila kamu bertanya apa yang paling menyedihkan dari kisah ini semua, jawabannya ada pada judul.***
Penulis : Dahana
tinggal di Kuningan

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com