Peranan Kearifan Lokal Pada Pendidikan Karakter

KUNINGAN (Mass) – Berbagai fenomena sosial yang muncul akhir-akhir ini pun cukup mengkhawatirkan yaitu fenomena kekerasan dalam menyelesaikan masalah menjadi hal yang umum, pemaksaan kebijakan terjadi hampir pada setiap level institusi. Manipulasi informasi menjadi hal yang lumrah, penekanan dan pemaksaan kehendak satu kelompok terhadap kelompok lain dianggap biasa. Hukum begitu jeli pada kesalahan, tetapi buta pada keadilan.

Tampaknya karakter sebagian masyarakat Indonesia yang santun dalam berperilaku, musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah, local wisdom yang kaya dengan pluralitas, toleransi, dan gotong royong telah berubah wujud menjadi hegemoni kelompok-kelompok baru yang saling mengalahkan.

Apakah kearifan lokal yang kita miliki seolah punah, dan hilang fungsinya dalam membentuk karakter di masyarakat?

Kearifan lokal merupakan warisan masa lalu yang berasal dari leluhur, yang tidak hanya terdapat dalam sastra tradisioanl (sastra lisan atau sastra tulis) sebagai refleksi masyarakat. Tetapi terdapat dalam berbagai kehidupan nyata, seperti filosofi dan pandangan hidup, kesehatan, dan arsitektur.

Dalam dialektikan hidup-mati (sesuatu yang hidup akan mati), tanpa pelestarian dan revitalisasi. Kearifan lokal pun suatu saat akan mati. Bisa jadi, nasib kearifan lokal mirip pustaka warisan leluhur yang setelah sekian generasi akan lapuk dimakan rayap. Sekarang pun tanda pelapukan kearifan lokal makin kuat terbaca.

Kearifan lokal acap kali terkalahkan oleh sikap masyarakat yang makin pragmatis, yang akhirnya lebih berpihak pada tekanan dan kebutuhan ekonomi. Sebagai contoh, di salah satu wilayah hutan di Jawa Barat, mitos pengeramatan hutan yang sesungguhnya bertujuan melestarikan hutan/alam telah kehilangan tuahnya sehingga masyarakat sekitar dengan masa bodoh membabat dan mengubahnya menjadi lahan untuk berkebun sayur.

Ungkapan jawa tradisional, mangan ora mangan waton kumpul (biar tidak makan yang penting kumpul). Hal itu, sekarang pun makin kehilangan maknanya. Banyak perempuan di pedesaan yang berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk bekerja di manca negara, dan adapula pemuda yang hendak mengadukan nasibnya di beberapa kota di Indonesia dengan resiko dari pada hidup menanggung kemiskinan dan kelaparan.

Kearifan lokal hanya akan abadi kalau kearifan lokal terimplementasi dalam kehidupan kongkret sehari-hari sehingga mampu merespons dan menjawab arus zaman yang telah berubah. Kearifan lokal juga harus terimplementasikan dalam kebijakan negara, misalnya dengan menerapkan kebijakan ekonomi yang berasaskan gotong-royong dan kekeluargaan sebagai salah satu wujud kearifan lokal kita.

Untuk mencapai itu, perlu implementasi ideologi negara (yakni Pancasila) dalam berbagai kebijakan negara. Dengan demikian, kearifan lokal akan efektif berfungsi sebagai senjata, tidak sekedar pustaka yang membekali masyarakatnya dalam merespons dan menjawab arus zaman.

Revitalisasi kearifan lokal dalam merespons berbagai persoalan akut yang dihadapi bangsa dan negara, seperti korupsi, kemiskinan, dan kesenjangan sosial, hanya akan berjalan jika didukung oleh kebijakan negara yang disertai dengan keteladanan. Tanpa kedua hal tersebut, kearifan lokal hanya merupakan aksesori budaya yang tidak bermakna.

Kearifan lokal diberbagai daerah pada umumnya mengajarkan budaya malu (jika berbuat salah). Akan tetapi, dalam realitas sekarang, budaya malu seolah telah luntur. Peraturan yang ada pun kadang-kadang memberi peluang kepada seorang terpidana atau bekas terpidana untuk menduduki jabatan publik. Karena itu, budaya malu sebagai bagian dari kearifan lokal semestinya dapat direvitalisasikan untuk memerangi korupsi, apalagi dalam negara pun dikenal konsep halal-haram (uang yang diperoleh dari koruspi adalah haram).

Di antara berbagai penggerusan kearifan lokal saat ini, di sisi lain kita masih menyaksikan pemanfaatan kearian lokal, misalnya di dunia medis terjadi pengembangan obat herbal yang merupakan warisan leluhur di bidang medis, yang kemudian disempurnakan dengan standar farmakologi yang berlaku. Jadi, itu adalah salah satu wujud kearifan lokal yang telah memperoleh revitalisasi dalam masyarakat.

Menggali dan melestarikan berbagai unsur kearifan lokal, tradisi dan pranata lokal, termasuk norma dan adat istiadat yang bermanfaat dan dapat berfungsi efektif dalam pendidikan karakter. Hal ini berarti, untuk mengetahui suatu kearifan lokal di suatu wilayah, khususnya diwilayah Kabupaten Kuningan. Maka, kita harus bisa memahami nilai-nilai budaya yang baik, yang ada diwilayah kita. Sebelumnya nilai-nilai kearifan lokal itu sudah diajarkan secara turun-temurun, baik itu oleh orang tua, guru-guru kita kepada kita selaku anak atau muridnya. Dimana budaya gotong-royong, saling menghormati, dan tepa salira merupakan contoh kecil dari kearifan lokal.

Sudah selayaknya, kita untuk menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal yang ada agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman, dan menjadi karakter bangsa Indonesia yang lebih berkualitas dan berkarakter.

Penulis: Oon Mujahidin. S.Pd.I (Pemuda Awirarangan, Jurnalis Muhammadiyah.Or.Id dan Sekertaris Bidang Informasi dan Komunikasi Pemuda Muhammadiyah Kuningan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com