Peran Siti Hajar Sering Terlupakan

KUNINGAN (MASS)- Selain bentuk ibadah, berkurban juga mengandung banyak nilai-nilai pendidikan. Selain pendidikan sosial berbagi untuk sesama, namun ada yang sering terlupakan yakni pendidikan keyakinan (tauhid).

Pendidikan keyakinan yang ditanamkan oleh Siti Hajar yang merupkan istri Nabi Ibrahim as kepada anaknya bernama Ismail as.

Peran Siti Hajar seringkali terlupakan dalam sejarah berkurban. Kesuksesannya dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai rubbubiyah kepada nabi Ismail adalah salah satu kunci tercapainya pembentukan pribadi muslim.

Sosok Siti Hajar yang pintar, solehah dan pekerja keras mampu memberikan pendidikan karakter kepada Ismail meskipun hanya seorang diri dalam mendidik, sehingga dalam keadaan ujian yang berat dan tidak masuk akal nabi Ismail dipinta untuk disembelih oleh ayah kandungannya sendiri.

Hal ini sesuai dengan firman Alah SWT dalam QS Ash-Shafat ayat 101-102. “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”

Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

Sikap ikhlas dan yakin pada diri Nabi Ismail merupakan buah dari proses tarbiyah ibunya. Semua sifat-sifat terpuji yang dimiliki Ismail tidak lepas dari peran ibunya yang telah mendidiknya saat ia ditinggal sang ayah di gurun sahara yang tandus.

Sosok Siti Hajar yang tidak kenal lelah dalam dalam memberikan perhatian, kelembutan, kesabaran, nilai-nilai kebenaran dan ketaatan kepada Allah menghasilkan sosok Ismail yang mulia.

Dengan sifat matinul khuluq (akhlak yang kokoh) serta salimul aqidah (akidah yang lurus). Hal ini mengisyaratkan akan pentingnya peran seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Apapun jabatannya, apapun pekerjaannya jangan sampai melupakan tugas utamanya di rumah. Sebab keberhasilan seorang anak sangat dipengaruhi oleh sentuhan pendidikan dan pengajaran ibunya.

Sehingga dalam pepatah bahasa Arab mengatakan “Al-Ummu madrasatul uula” (ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya). Begitu pentingnya peranan seorang ibu dalam mendidik anak, tidak sedikit dalam catatan sejarah Islam lahirnya para nabi dan tokoh Islam berkat peranan sang ibu.

Siti Hajar membesarkan nabi Ismail tanpa didampingi oleh suaminya Nabi Ibrahim, Nabi Isa yang dibesarkan dan didik oleh Siti Maryam seorang diri.

Imam Syafi’i seorang ulama masyhur yang sejak kecil sudah yatim. Namun peranan ibunyalah yang memuat beliau mejadi Imam Madzhab.

Hal ini menunjukan bahwa pendidikan utama seorang ibu merupakan kunci kesuksesan seorang anak kelak. Dan kesabaran seorang ibu dalam mendidk anaknya akan mengahsilkan sesuatu yang bermanfat kelak.

Hal ini dipertegas oleh Allah dalam firmannya. “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar:10).**

Penulis : Sopian Asep Nugraha

Mahasiswa Pascasarjana IAIN Syeknurjati Cirebon

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com