Penyesalan Anak Tukang Tape

KUNINGAN (MASS) – Rintik hujan mulai terhenti, aku menatap pemandangan yang teramat indah yang kurasakan pada hari ini, nampaknya hujan itu terdiam, terhenti sama seperti hatiku ini yang terbelenggu, tersipu, termengu melihat rintik hujan itu berhenti.

Imajinasiku ketika sepi itu datang tak karuhan. Di tempatku ketika terdiam, tersipu dan termengu. Aku melihat seseorang berwajah tua, kulitnya hitam sedang berjalan menghampiriku. Semakin dia berjalan menghampiri, semakin dekat dia datang ke tempatku. Aku yang sedang menatap hujan yang mulai terhenti. Tersadar ternyata dia ayahku

Ia berkata padaku “sedang apa kamu ?” ujar ayahku,
“sedang menatap hujan yang terhenti.” Jawabku,
“tak ada kerjaan sekali kamu isan !!” jawab ayahku,
“hanya sedang bermalas- malasan.” Jawabku,
“bermalas- malas tak membuat kamu jadi hidup, jika kamu hidup dalam kehidupan. Berkerjalah dengan keras supaya kamu menjadi hidup dalam kehidupan. Bantulah ayahmu ini berjualan tape ketan, keliling rumah warga !”
dan aku hanya terdiam membiarkan ayahku marah, perkata yang di lontarkan.

Ayahku nampaknya tak berguna bagiku pekiranku. Pekerjaaku bermalas- malasan di rumahku. Ayahku bekerja sebagai penjual tape ketan khas Kuningan. Tape ketan adalah makanan khas kota kuda. Cara pembuatan makanan Kuningan yang menjadi oleh- oleh. Mudah menurutku, bahan utamanya adalah beras ketan.

Ketika aku melihat ayahku membuatnya dengan sangat simpel mencuci beras ketan hingga bersih, selanjutnya direndam dalam campuran 1 liter air pandan yang wangi selama satu malam, lalu tiriskan beras yang sudah direndam untuk di kukus sampai meletup- letup sambil menunggu beras matang. Tahap selanjutnya masaklah sebanyak 400 ml hingga mendidih, lalu siramkan kedalam ketan yang masih panas dan di aduk hingga merata hingga di kukus kembali selama seperempat jam.

Tahap terakhir di angkat dan di dinginkan selama beberapa saat. Jika sudah dingin, baru bisa dihaluskan. Tambahkan campuran lengkuas dan daun katuk yang diremas dengan air, kemudian disaring untuk dijadikan pewarna, kemudian dibungkus kecil- kecil dengan menggunakan daun jambu air, hingga pada akhirnya diamkan selama 3 hari. Itu yang aku lihat setiap pekerjaan ayahku membuat tape.

Nampaknya aku hobi bermalas- malasan, tidak melakukan sesuatu membuatku merasa nikmat yang ku rasakan, kenikmatan sesungguhnya bermalas- malasan pikirku. Biarkan ayahku yang bekerja, aku hanya ingin hidup dengan kesenangan, tak mau ada pekerjaan, tak mau ada masalah, tenang dalam kesenangan.

Nampaknya hidupku merasa bahagia, pekerjaanku bermalas- malasan, karena akulah Bos tape ketan khas Kuningan. Ayahku yang menjadi karyawanku semua hasil dari penjualan semua milikku pikiran di dalam otakku.

Suatu ketika ayahku sedang membuat tape ketan, ia meminta bantuan kepada aku yang senang bermalas- malasan. Ayahku terlihat lelah.

“ ISAN.. bantulah ayahmu ini, ayah sudah tua, tak seperti kamu yang segar bugar. Bantulah ayah membuat tape ketan. Ayo bantu !!” ayahnya marah.

“tak mau bantu, biarlah kamu mengerjakan pekerjaanmu sendiri. Karna pekerjaan itulah pekerjaanmu sendiri.”

Nampaknya ia mulai tak sadar telah menyakiti ayahnya. Ia mulai membangkang seperti Babi hutan yang di kejar anjing hutan.

“Keterlaluan kamu ISAN ! Kamu tak tahu arti dari kesopanan !!”
“Tak ada kesopanan bagi kenikmatan !!”
“Kenikmatan yang kamu peroleh itu tak lama pasti akan cepat berakhir. “ ujar ayahnya,

“Kenikmatan itu selalu ada, karna kenikmatan kekuasaan sudah tertanam dalam tubuhku, dan kenikmatan bermalas- malasan itulah yang ku senangi.”

Ayahku hanya terdiam termengu mendengar perkataan aku yang dilontarkan begitu menyakitkan hatinya terluka, tapi dia terus bekerja keras. Pekerjaan merupakan kewajibannya pikir ayahku dia mulai bekerja dengan hati yang paling dalam. Panas, hujan, dingin, selalu dia lewatkan setiap hari.

Aku tak peduli apa yang dirasakan oleh ayahku. Ayahnya berjuang demi menghidupi kebutuhan yang diperoleh untuk ku, tapi aku tak tahu diri, ia hanya bisa bermalas- malasan, tak mengenal apa arti dari kehidupan.waktu itu ayahku mulai merasa kesakitan ketika sudah berjualan.

“Kamu sudah pulang ? mana hasil uang jualan tape ketannya ?” ujarku
“Isan, panggillah aku nama ayah, jangan panggil (kamu), tidak baik seorang anak memanggil ayahnya dengan sebutan kamu. Ayah merasa sakit.”

“Tak perlu banyak bicara !! mana hasilnya !!”
“Ini hasil uangnya. Ayah mau tidur, jika ayah tidur selamanya, maka kamu harus kuat, jangan bermalas- malasan, dalam kehidupan ini kamu harus bekerja keras, tak selamanya orang berada dalam kesenangan, pasti ada kalanya kepedihan !!”

Ayahku pergi ketempat peristirahatan, nampaknya aku tak tahu diri. Aku acuh bagaikan hati yang terbakar. Ternyata kalimat terakhir itu merupakan kalimat yang dilontarkan ayahku.

Menjelang pagi ku berkata.
“Ayah bangun !! sudah waktunya bekerja !!” sambil memegang bagian tubuhnya.
“Bangun ayah …..! bangun !! jangan malas !!” sambil marah tak karuan
“Bangun !! bangun !! hari ini waktunya bekerja !” semakin muncak amarahnya
“Bangunlah…. bangunlah” Tiba- tiba menangis
“Bangunlah ayahku, bangunlah ayahku. Aku ingin kamu bekerja…”
“Bangun………. ayahku…….” sambil berteriak.

Akhirnya, ternyata ayahku telah meninggal Kan ku. Aku hanya bisa menangis membayangkan penyesalan yang telah dilakukan. Ternayata aku sungguh menyesal, hanya bisa terdiam, termengu, merasakan kesakitan yang paling dalam.

Menatap ayahku yang tertidur selamanya membuat ku tiba-tiba terdiam dan melihat sebuah tulisan yang ada di samping ayahku.Ternyata isi dari kertas itu merupakan tulisan yang menyatakan bahwasannya ia bukan anak si tukang tape ketan, ternyata ayahku menemukan ku di depan rumah. Ayahku merupakan bujangan yang belum pernah menikah.

Hujan kembali datang menemani tangisan terbelenggu, tersipu dan termengu.

Jujun Junaeni (Mahasiswa Uniku)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com