Pembangunan Infrastruktur Kita Tidak Bermanfaat

KUNINGAN (MASS) -Pernahkah kita berfikir untuk apa pemerintah membangun jalan tol dimana-mana, membangun infrastruktur secara besar besaran, namun kenapa manfaatnya tidak terasa oleh kita yang berada di daerah?
 
Sebelumnya, saya ingin mengatakan bahwa saya bukan seorang pendukung paslon manapun, 01 atau 02. So. jangan pikir kalau tulisan ini merupakan Alat Peraga Kampanye (APK). tulisan ini murni luapan kekesalan saya ketika melihat netizen yang tak kunjung henti hentinya mengkritik tanpa dasar.
 
Pemerintah memang tidak memberikan fasilitas kepada masyarakat secara langsung, karena, harus kita akui, bahwa memberikan fasilitas secara langsung kepada masyarakat TERKADANG lebih menimbulkan dampak buruk, ketergantungan contohnya.
 
Analoginya seperti ini, apAbila anda menemukan seorang pengemis di pesisir pantai, mana yang lebih baik ada berikan kepadanya, seekor ikan dari hasil tangkapan anda, atau seperangkat alat pancing?
 
Jika anda memberikannya ikan, maka pada hari itu si pengemis kenyang dan besok akan kembali kelaparan seperti saat anda menemuinya. Tapi jika anda berikan alat pancing, setidaknya si pengemis bisa mencari mkanannya sendiri, tidak lagi ketergantungan pada orang yang lewat di kemudian hari.
 
Jadi keadaan seperti inilah yang sedang terjadi di negara kita, pembangunan infrastruktur tidak memberikan ikan kepada masyarakat, namun memberikan alat pancing untuk digunakan dengan baik.
 
Begitulah yang terjadi pad tol di Papua sana, tol tersebut memang tidak digunakan langsung oleh masyarakat sekitar, namun peruntukannya jelas, untuk LOGISTIK.
Pernah bertanya kenapa harga bensin di Papua pada tahun 2009 bisa mencapai Rp 70.000 per liter? Jawabannya karena logistik, lalu sekarang harga bensin di Papua telah beranjak stabil di angka Rp. 6.500 per liter, kenapa? Jawabannya lagi-lagi karena logistik.
Akses yang mudah untuk dijangkau membuat harga-harga komoditi semakin murah, dan sebaliknya, akses yang sulit dijangkau membuat harga-harga komoditi semakin mahal, bahkan mungkin biaya logistiknya lebih besar dari harga jual komoditi tersebut.
 
Suatu ketika saat teman mengenyam Pendidikan di suatu perguruan tinggi di daerah Tangerang Selatan, saya terkejut tatkala mengetahui harga jeruk Florida dapat jauh lebih murah dibandingkan jeruk medan. Kenapa? Jawabannya sama, logistik.
 
Kapal kargo dari negara lain mungkin dapat langsung masuk ke Tanjung Priok setelah sebelumnya singgah di pelabuhan kedua terbesar di dunia, Singapura. Tapi kapal kargo dari Medan pasti akan mengalami rugi kalau hanya mengangkut langsung satu atau dua komoditi langsung ke Priok, sehingga kargo dari dalam negeri akan mengambil jalur memutar untuk angkut/bongkar di pelabuhan lain termasuk di Singapura.
Inilah yang membuat biaya logistik bagi komoditi dalam negeri lebih mahal dari komoditi luar negeri. Jadi bukan tanpa alasan kalau pemerintah merealisasikan upaya perbaikan logistik kita melalui Tol Laut dan Tol Darat.
Faktanya tol laut memberikan efiensi waktu bagi logistik dalam negeri, yang biasanya pengiriman dari pulau Jawa ke pulau lainnya bisa mencapai dua minggu, kini hanya sekitar 4-5 hari, pun pola produksi dan konsumsi di kota-kota kecil meningkat.
“Dampaknya mengurangi disparitas harga” tukas Harry Budianto Direktur Usaha Angkutan Kargo dan Tol Laut PT. Pelni.
 
So, Perbaikan logistik bukanlah suatu pemborosan anggaran, efeknya mungkin tidak bisa anda tanyakan pada emak-emak di pasar karena toh butuh hitungan tahun agar harga-harga komoditas bisa stabil di angka yang terjangkau masyarakat kecil.
Contohnya penurunan harga bensin di Papua yang butuh waktu Panjang hingga 10 tahun sejak 2009 hingga 2019. Tanpa logistik yang aksesabel bagaimana harga komoditi bisa lebih terjangkau dari sekarang? Jadi, pentingkah pembangunan infrastruktur kita?
 
#thinkahead
#inibukankampanye
Penulis adalah : Dahana Fitriani
Mahasiswa tinggal di Kuningan

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com