Pancasila sebagai Corak Demokrasi Warisan Leluhur

Pengantar Rapat Paripurna Pengambilan Sumpah Anggota DPRD Periode 2019-2024

Pada kesempatan yang berbahagia ini, dengan penuh syukur dan bangga saya atas nama pribadi dan pimpinan menyampaikan penghargaan yang setinggi tingginya kepada saudara saudara anggaota dprd kabupaten Kuningan periode 2014 – 2019 atas darma baktinya untuk masyarakat kabupaten kuningan yang sebenarnya adalah darma bakti kita kepada bangsa dan negara kesatuan republik indonesia, semoga darma bakti tersebut menjadi catatan sejarah emas yang akan di gali kembali oleh anak cucu kita kelak di kemudian hari, mengenang masa pengabdian kita, terdapat perbedaan pendapat, ketegangan, kebersamaan, kekesalan, kerinduan, semua itu pernah menghiasi perjalanan kita, semoga semua itu menuntun kita untuk berpikir lebih dewasa dan menemukan kebenaran dari dinamika tersebut,

Dalam kesempatan ini pula disampaikan selamat dilantik menjadi anggota DPRD kabupaten kuningan peroide 2019-2024. Semoga diberikan kemampuan yang optimal untuk memegang dan menunaikan  kepercayaan dan amanat luhur  ini sehingga berbuah berkah, manfaat dan maslahat buat kita dan keluarga khususnya,  dan untuk seluruh penduduk kuningan umumnya. Amiin yra.

Hadirin yang kami mulyakan

Di hari yang bersejarah ini, dihadapan  incu putu kuningan nu pinilih atau  terseleksi, dan  tidak hanya oleh mekanisme prosedural politik pileg kemarin saja,  tetapi oleh seleksi sejarah dan alam kuningan. Maka saya melihat, fenomena hari ini  bukan hanya acara seremonial dan prosedural saja, tetapi suatu tahapan sejarah kemanusiaan kita, yang penting dan bermakna. Jika kita meyakini kebudayaan kita yang luhur, maka tiada lain bahwa hari ini telah terlahir, wong agung, jalma-jalma utama kuningan.

Maka pada kesempatan  ini, ijinkan saya berbicara tidak terbatas formalitas seremonial semata, tetapi ingin memancangkan sesuatu idealita dan optimisme kita dalam kehidupan politik kita hari ini dan masa yang akan datang.

Secara formal kedinasan institusi DPRD, selaku pimpinan pada periode 2014 – 2019, tentunnya saya mengajak, mari kita tingkatkan kinerja DPRD kuningan ini ke depan, dengan mengoptimalkan peran dan fungsi institusi DPRD yaitu, legislasi, penganggaran dan pengawasan sebagaimana telah diatur  perundang-undangan yang berlaku. Apa yang baik, yang telah dicapai periode lalu mari pertahankan, dan apa yang kurang dan belum behasil mari kita wujudkan pada periode berikutnya.

Dan sebagai sesama zoon politikon, para partisipan politik, yang telah di kader di institusi Partai masing-masing untuk menjadi pemimpin-pemimpin kuningan, saya juga mengajak kepada rekan sekalian, pada momentum ini, kita perbaharui niat dan tekad politik kita yang sesuci-sucinya dan niat sekuat-kuatnya untuk mewujudkan kemaslahatan bersama di bumi kuningan ini. Hanya dengan ini kita  punya harapan serta dapat menatap masa depan kita dengan tegap dan penuh optimisme.

Pada kesempatan ini pula, mari kita saling memberi isi dan tema keberadaan kita pada tataran idealita, pada horizon yang lebih luhur dan optimal dalam ikhtiar suluk politik kita, jangan lelah untuk menyalakan api perjuangan dari  hal-hal ideal  dari persitiwa-peristiwa yang mungkin kita anggap sederhana, tetapi soal politik dengan lakon dan para lelakonnya selalu bukan keadaan dan peristiwa yang sederhana, tetapi persoalan masyarakat dan negara adalah sesuatu yang semestinya ditempatkan secara ningrat, luhur dan agung. Adapun pada kenyataanya, mungkin  dalam opini publik, perilaku kaum politisi dalam hal ihwal politik terlihat gampangan dan bahkan rendahahan, tetapi hal itu bukan alasan untuk tidak membicarakan yang ideal dan sakral dari politik, karena itulah sejatinya dinamakan politik, dari dahulu hingga sekarang bahkan sampai kapanpun nanti. The politik bukanlah hal yang gampangan belaka, akan tetapi sesuatu yang ningrat, prinsipil dan substantif.

Hadirin yang kami mulyakan

Jika tadi saya mengatakan wong agung atau jalma utama, dalam konsep plato soal keutamaan manusia. Wong agung adalah simbol manusia logos dimana pemenuhan logos tidak lain adalah polis. Jadi wong agung sesungguhnya penghuni wahana politik. Tidak bisa menyerahkan politik kepada wong cilik. Dalam tradisi sunda wong agung itu adalah budak angon, dan wong cilik itu budak buncireung, atau dalam terminology politik indonesia kontemporer yang dirumuskan oleh kaum santri, wong agung itu adalah roin atau imam/pemimpin dan wong cilik itu adalah roiyyah atau rakyat, ketika sebuah hadis sering disitir, kullukum roin wa masuulun an roiyyatihi, bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban akan kepemimpinannya. Maka dari hadist ini dalam tradisi santri dirumuskanlah suatu kaidah politik yaitu, tashoroful imam ala roiyyah manutun bil maslahah, bahwa kebijakan politik itu haruslah berorientsi kepada kemaslahatan rakyat. Dari hadist inilah kata rakyat itu berasal.

Fhilosofia-philotumia, wong agung, wong cilik, jalma utama  jalma sukerta, budak angon  budak buncireung, atau roin  roiyyah itu pada awalnya bukanlah sesuatu yang dialamatkan pada sekumpulan orang-orang, komunitas atau golongan. Tetapi adalah kualitas yang disematkan  kepada pribadi/ perseorangan. Semua itu lebih kepada analisa akan sosok personal manusia dengan nilai kemanusiaannya.

Menurut plato dalam politeia atau the republik, ada ajaran tentang keutamaan atau disebut arete. Bahwa segala sesuatu itu mempunyai kualitas optimal . Keutamaan adalah jika sesuatu itu dapat mewujudkan ciri dan fungsi khasnya secara optimal. Sebuah pisau itu dikatakan optimal jika fungsinya untuk memotong itu benar. Jika pisau itu sudah tidak dapat memotong maka dia tidak optimal. Seekor kuda itu optimal jika dapat berlari kencang dan kuat.

Menurut plato, yang menjadi ciri prinsip adalah jiwa nya. Dan jiwa itu dia gambarkan sebagai sebuah kereta yang yang dikendalikan oleh seorang sais dan di tarik oleh dua kuda yang berwarna hitam dan putih. Kuda hitam adalah apa yang dia namakan kondisi ephitumia, yaitu jiwa yang melulu berhasrat pada makan-minum dan sex. Atau kalau sekarang semua itu dilambangkan dalam uang/ kapital. Kuda putih adalah kondisi jiwa yang sudah terlepas dari uang dan berhasrat pada yang disebut kehormatan dan harga diri yang dinamakan thumos. Dan sang sais adalah rasio,  yaitu pengetahuan dan yang dinamakan logos. Dalam pandangan plato keadilan dan keteguhan itu terjadi apabila logos yang mengendalikan thumos dan ephitumia, dan Jika terbalik maka ketidak adilan dan kekacauan akan terjadi.

Jika ciri khas yang prinsip pada manuisia itu adalah jiwanya, maka jiwa ini harus optimal. Keoptimalan itu jika ada dalam moderasi. Jika hasrat makan-minum dan sex terkendalikan dalam takaran moderat maka hasrat itu pada posisi keutamaannya. Keoptimalan kuda putih atau thumos itu adalah pada keberanian dan keoptimalan logos itu pada kebijaksnaannya. Maka bisa kita fahami  jiwa logos yang telah mencapai kebijaksanaan itulah seoptimal-optimalnya manusia menurut plato. Maka dia menteorikan bahwa the politik itu urusannya manusia bijaksana atau philosof, manusia yang mencintai kebijkasanaan. Jika urusan politik dan kepemimpinan tidak diserahkan pada para philosof maka yang ada adalah kekacauan belaka.

Kemudian aristoteles murid plato meneruskan ajaran gurunya dengan teori logos dan phonee. Bahwasannya yang membedakan manusia dengan mahluk tuhan yang lainnya adalah manusia mempunyai kemampuan logos, yaitu abstraksi dan konseptualisasi atau pengetahuan tentang yang baik dan indah atau disebut kalos kagathos. Hewan hanya mempunyai kemampuan phonee, yaitu hanya bisa menbunyikan perasaan dan tidak bisa merumuskan secara rasional.

Mengekspresikan kemampuan logos ini ada di suatu tempat yang namanya polis atau negara. Jadi menurut aristoteles manusia sebagai mahluk rasional mendapatkan kepenuhannya dalam kehidupan bersama yang disebut negara  atau polis.

kemudian oleh kaum republikan kemampuan logos didefinisikan sebagai upaya mengekspresikan secara deleberatif untuk mengupayakan apa yang adil dan yang indah hanya ada di suatu tempat yang disebut respublika atau wahana publik.  Dan yang tidak memiliki kemampuan logos berada di suatu wahana yang disebut resprivat, suata wahana untuk survival dan mengatur urusan yang   sifatnya pribadi. Disinilah kiranya berasal kata republik yang menjadi nama negara kita, dari sini pula kita mengenal ruang publik dan ruang private dalam teori politik modern. Hanya saja gagasan dan pemikiran respublika  yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini semakin kering dan tenggelam dalam wacana dan pemikiran bernegara kita hari ini. Dibuktikan dengan adanya pemanfaatan kejadian papua.

Dengan demikian yang namanya respublika adalah wahana tindakan-tindakan untuk mewujudkan apa yang baik dan elok bagi kehidupan bersama. Dan itulah politik dengan para partisipannya dalam arti yang ideal.

Disini  penting rasanya untuk diungkapkan  dalam momentum yang tepat ini. Dalam upaya  memperbaharui kembali niat dan tekad politik kita. Serta mencoba menduduk perkarakan, memberi isi dan tema, sehingga siapa kita hari ini dan apa yang harus kita serius lakukan secara optimal.

Tantangan besar kita hari ini  ke depan dalam  mengaktulisasikan ideal politik ini adalah cara pandang teknokratik dan lagam demokrasi prosedural. Sebagaimana kita tahu kehidupan modern ini ditandai dengan gelombang sain dan teknologi dalam menyelesaikan problem-problem kehidupan material dan system demokrasi dalam kehidupan politik. Namun pada kenyataanya sain, teknologi dan demokrasi yang modern itu menjadi sesuatu yang harus diyakini dan dijalankan oleh seluruh bangsa dan negara di bumi ini. Nilai ini telah behasil meminggirkan tentang pemikiran dan gagasan tradisi kita tentang kehidupan bersama yang utama. Rasa-merasa dan  kearifan kebudayaan kita seolah sudah usang dan tidak berlaku lagi.

Sain dan teknologi bukan tidak perlu, tetapi didalamnya tersembunyi suatu rasa dan nalar teknis. Dan demokrasi sesungguhnya adalah prosedural  yang memuluskan rezim oligharky yang menggurita, yaitu politik yang dikendalikan oleh kaum penumpuk modal dan kapital.

Nalar dan sikap teknik adalah suatu cara pandang dunia dan cara bertindak yang menjadikan segala sesuatu adalah objek yang musti diurus dan ditangani. Segala sesuatu adalah gugusan instrumen benda mati yang bisa dikuantifikasi, di kendalikan dan diramalkan oleh yang namanya manusia sebagai pusatnya. Manusia modern dengan nalar teknik dan sikap instrumentalnya menurut philosof jerman abad 20, martin heidegger, merasa bahwa segala yang ada, berada untuk dirinya. Maka tampil sikap mengejakan, mengeksploitasi dan mengkoloni. Yang berada selain manusia modern itu adalah yang dinamakan the others, yang lain. Bisa berupa alam, masyarakat dan bangsa-bangsa.

Itulah tantangan besar kita sebagai pengingat untuk memilih dan memilah dalam ikhtiar kita mewujudkan politik kita di polis kita yang kita sebut kuningan ini. Tentunya menggunakan cara pandang teknokratik dan demokrasi prosedural di atas sebagai mainstream politik kita tidaklah tepat.  Cara pandang dan praktek politik demikian tidaklah punya akar dari khasanah kebudayaan bangsa-bangsa di indonesia. Disinilah kita perlu melihat kembali kepada kebudayaan dan tradisi kita. Dalam konteks kuningan, perlulah kita merefleksikan kembali khasanah kebudayaan sunda yang jauh telah mengakar di bumi kuningan ini. Kembalinya kita kepada tradisi   nalar dan sikap seni, yaitu cara pandang  dan sikap yang mengkonservasi, memelihara dan menjaga yang baik dan indah yang masih relevan untuk ditampilkan hari ini. Bukan sikap yang membentangkan secara keras objek terhadap alam, masyarakat dan bangsa-bangsa lain.

Kembali kepada sikap seni dalam politik kita demokrasi  sebagai jalan politik  yang dirumuskan dalam sila ke 4 dari pancasila, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijkasnaan dalam permusyawaratan perwakilan. Inilah demokrasi indonesia yang sesungguhnya. Karena nilai-nilai demokrasi model ini telah tumbuh dan berkembang dalam rasa-merasa dan kebudayaan bangsa indonesia, yang kita tampilkan dalam kemoderenan indonesia hari ini.

Demokrasi  musti kita kuatkan ke depan yaitu demokrasi kerakyatan yang berhikmah kebijaksanaan. Perhatikanlah kata kerakyatan, hikmah dan kebijkasanaan. Kerakyatan adalah respublika,  dan kepemimpinan hikmah kebijksanaan adalah keutamaan manusia dengan logosnya

Kita hari ini adalah orang-orang pilihan kuningan. Praktis dalam peroide 5 tahun ke depan kendali dan kebijakan politik dan pememrintahan kuningan salah satunya berada di tangan kita. Tantangan dan permasalahan kuningan terhampar dihadapan kita, menunggu sentuhan politk kita untuk kita jawab dan selesaikan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Apa yang kita lakukan dalam periode pengabdian tugas dan funsi kita  sesungguhnya, yang harus menjadi sebuah pembelajaran dan pendidikan politik kita bagi rakyat kuningan.

Sebagai star awal memulai semua agenda politik itu setidaknya ada dua hal yang harus di perhatikan :

Dimulai hari ini kita bersikap, perbaharui niat dan tekad kita, sesuci-sucinya sekuat-kuatnya untuk mengisi wahana tindakan politik sebagai sikap sejarah kita hari ini dan pembelajaran, pendidikan politik kita bagi generasi kuningan yang akan datang.

Mari kita tempatkan amanat masyarakat   dalam tataran agung, luhur, ningrat dan sakral adanya, juga kebudayaan luhur yang diwariskan kepada kita dari para leluhur.

Hindari tindakan perendahan  politik yang tidak sesuai dengan kebudayaan luhur kita tetapi dampaknya membuat politik itu dangkal dan tidak terhormat, akibatnya yang dirugikan dari semua proses pendangkalan politik itu adalah rakyat. Jadi mari kembali dan jangan lelah kepada idelaita politik kita sebagai acuan nilai, tekad, ucap dan lampah politik kita.

Itu yang dapat pimpinan sampaikan sebagai gambaran untuk melangkah lembaga masyarakat yang bernama DPRD Kuningan, semoga bermanfaat untuk kita dan masyarakat kita.***

Cag Rampes,

Wassalamualaikum Wr, Wb

Rana Suparman S.Sos

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com