Negara Sejuta Alibi

KUNINGAN (Mass) – Media adalah elemen terpenting dalam kehidupan manusia, yang dapat menjadi alat penambah wawasan dan informasi tentang dunia luar. Begitu pula di Indonesia, media sudah menjadi hal yang hidup berdampingan dengan manusia Indonesia sebagai sebuah bukti adanya dampak kemajuan tekhnologi. Dari hal yang positif hingga hal yang negatif terjadi, sebagai imbas kemajuan di bidang Tekhnologi. Baik media cetak ataupun non cetak semuanya menjadi penunjang hidup manusia Indonesia.

Salah satunya yaitu media masa yang berupa koran, majalah dan lain sebagainya. Di kala pagi, koran sudah membudaya menjadi teman mata dan pembuka informasi. Kemudian dengan kemudahan akses jaringan saat ini, facebook, instagram, whatsapp dan berbagai media online lainnya sudah menjadi hal yang membudaya di kalangan kita saat ini. Dari hal-hal tersebut dapat membuka cakrawala kita ke arah yang positif atau bahkan juga ke arah yang negatif. Bahkan tidak jarang, orang yang berniat jahat dengan sebuah lembaga atau seseorang akan mencoba melakukan sesuatu yang negatif yang berakibat fatal, dengan menggunakan media sosial.

Dalam media online, sudah tersedia banyak sekali aplikasi yang dapat kita gunakan sebagai alat untuk menuliskan hal-hal yang kita fikirkan, atau mungkin tulisan yang ingin kita publikasikan. Misalnya saja Dinding Facebook, Blog, Youtube dan masih banyak lagi. Kita dapat menuliskan apapun tanpa ada batasan di dalamnya. Dan hal ini hampir sejalan dengan asa mengemukakan pendapat secara bebas, namun belum dapat dikategorikan pendapat yang bertanggung jawab. Karena kita hanya memiliki hak menuliskan apa yang dapat kita tuliskan, dan apa yang kita ingin tuliskan tanpa ada kaidah sebagai batasan kebebasan tersebut menjadi hal yang bertanggung jawab.

Kemajuan tekhnologi tidak terlepas dari dampak negatif dan positif, karena hal ini merupakan dampak yang selalu berdampingan erat di dalam sebuah peristiwa. Banyak di kalangan kita yang mendapat pundi-pundi rupiah dengan kemajuan tekhnologi, menciptakan blog-blog dan aplikasi yang dapat menguntungkan, serta ada pula yang menggunakan kemajuan tekhnologi untuk mengasah bakat, share ilmu-ilmu yang bermanfaat, bahkan ada pula yang menjadikan tekhnologi sebagai alat dakwah yang efektif. Di samping itu, ada pula yang mendapat dampak negatif akibat tangan-tangan jahil, seperti anak-anak yang belum cukup umur melihat dan membaca hal-hal yang belum sewajarnya mereka baca, banyak pula penipuan dan bahkan penistaan agama yang dituliskan dan dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Mereka hanya berniat untuk mencari keuntungan semata, bahkan ada di kalangan mereka yang berniat untuk menghancurkan sebuah agama, dengan membuat blog berisi tulisan-tulisan yang nyeleneh, tidak sesuai dengan fakta, bahkan banyak pula yang begitu dengan gamblangnya menistakan agama.

Sudah banyak berita-berita dimuat di media sosial. Ketika berita satu muncul, kemudian jika orang yang bersangkutan dalam berita tersebut butuh perlindungan dan memiliki banyak uang dan jabatan, maka mediapun disulap dengan ombang-ambing berita lain. Dan berita tersebut terus berjalan hingga waktu yang lama. Maka sungguh ironis ketika kita secara sadar melihat fenomena bahwa, negara kita sudah jadi negara yang hukumnya mampu dibeli oleh uang. Hukum berlaku tegas hanya bagi orang-orang di kalangan bawah, sedangkan bagi kalangan atas, hukum hanyalah permainan yang bisa dengan murah dan mudah dibeli dengan uang.

Dari kemurahan dan kemudahan hukum itulah, negara ini seolah dijadikan sebagai negara sejuta alibi. Karena setiap berita yang tersorot media itu bisa selalu dialihkan hanya untuk melindungi nama baik yang tercemar. Dan pengalihan berita tersebut banyak dinodai dengan uang-uang suap dari para penjahat yang tidak tahu malu. Bahkan amanah yang diembannyapun bukan menjadi cambuk, malah menjadi kunci kesemana-menaan mereka hidup di negeri ini.***

Penulis: Euis Intan Nurhamidah Binti Kusnadi (mahasiswi)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com