Nasruddin, Anaknya dan Keledainya

(Anekdot Orang Plin Plan*Filsafat Humor*Cara Jenaka Belajar dari Guru Kehidupan)

KUNINGAN (MASS) – Suatu hari Nasruddin pergi bersama anaknya ke luar kota. Dalam perjalanan itu sang anak naik keledai, sementara Nasruddin berjalan kaki sambil memegang tali keledai yang ditunggangi anaknya.

Tiba-tiba seseorang menegur dan berkata, “Sungguh zaman memang sudah edan, bagaimana mungkin seorang anak naik keledai dengan nyaman sementara ayahnya dibiarkan berjalan kaki. Sungguh anak biadab dan tak tahu diri.”

Mendengar itu, sang anak berkata pada Nasruddin, “Ayah, bukankah sudah kukatakan padamu, naikilah keledai ini, biarlah aku yang berjalan kaki.” Nasruddin pun menuruti kemauan anaknya dan menuruti ucapan orang yang menegurnya.

Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan sekelompok orang yang lagi-lagi mencela Nasruddin dan anaknya. “Pantaskah orang tua ini membiarkan anaknya berjalan kaki sementara dia dengan enaknya duduk di atas keledainya. Sungguh orang tua yang tidak punya kasihan pada anaknya.”

Mendengar omongan itu, Nasruddin akhirnya mengajak anaknya naik keledai berdua. Mereka bertemu lagi dengan kerumunan orang yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Salah satu dari mereka berkata, “Hai teman-teman, coba kalian lihat, betapa kejamnya mereka, menunggangi keledai yang lemah itu berdua.”

Karena tidak tahan mendengar ucapan mereka, Nasruddin dan anaknya turun dari keledai. Keledai itu dituntun sementara mereka berdua berjalan kaki.

Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan sesama orang yang sedang bepergian. Mereka berkata, “Kalian berdua ini sudah gila, membiarkan keledai begitu saja tanpa dinaiki, sementara kalian berjalan kaki padahal udara siang ini sangat panas.”

Dengan kesal Nasruddin berkata pada anaknya, “Anakku, manusia memang bisanya hanya mencela. Tidak ada yang selamat dari cercaan orang lain.”

Bahaya Orang Plin Plan

Berikut dinukil sebuah tulisan tentang bahaya orang plin plan, bertajuk: Jangan Plin-plan, dari Nasaruddin Umar, Rabu 1 Juli 2015 Jam 09.10:

Salah seorang sahabat Nabi, Ibn Mas’ud r.a. menegur seseorang: “Janganlah kamu menjadi imma’ah. Lalu ditanya apakah imma’ah itu? Dijawab oleh Ibn Mas’ud: “Imma’ah ialah orang yang tidak punya pendirian, orang yang angin-anginan”.

Sesungguhnya imma’ah bisa menjadi nama lain dari munafik, karena memiliki unsur persamaan, yaitu menguntungkan diri sendiri dan berpotensi merugikan orang lain.

Sifat plin-plan sudah merupakan fenomena kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat kita. Kita bisa menjumpai di mana-mana. Bulan ini atau minggu ini masih berpendirian A, tetapi bulan atau minggu berikutnya berpendirian lain lagi. Bahkan hari ini berpendirian B keesokan harinya berganti pendirian lagi. Yang lebih memprihatinkan, dalam waktu bersamaan ia memiliki dua atau lebih pendirian.

Jika berjumpa si A, ia menjadi bagian si A. Di tempat berbeda berjumpa si B maka ia menjadi pendukung berat si B. Pada kesempatan lain berjumpa si C, dan ia tampil sebagai teman terdepan si C.

Orang-orang seperti ini lebih berbahaya dari orang munafiq, karena berpotensi menjadi tukang adu-domba (al-namimah). Satu saja orang seperti ini bisa merusak tatanan masyarakat, apalagi jika lebih dari satu orang.

Kehadiran orang-orang seperti ini sangat menyedot energi. Itulah sebabnya Allah Swt mengutuk orang seperti ini dan menempatkannya di neraka paling sadis: “Inna al-munafiqin fi al-darq al-asfal min al-nar” “Sesungguhnya orang-orang munafiq ditempatkan di neraka paling bawah.” (Q.S. al-Nisa’/4:145).

Perilaku imma’ah dengan tegas juga dicela Rasulullah Saw dalam sabdanya: “Orang yang paling dibenci Allah ialah pengadu domba, perusak hubungan antara sesama dan orang yang mencari cacat orang lain yang tidak bersalah.” (H.R. Ahmad).

Dalam hadis lain ditegaskan: “Barang siapa yang bermuka dua di dunia, maka ia akan mempunyai lidah bercabang dari api neraka di akhirat.” (H.R. Abu Daud).

Tegasnya, orang-orang munafik sangat buruk citranya dalam Al-Qur’an dan hadis. Dampak sosial orang-orang seperti ini juga sangat buruk, karena mereka akan tega membangun “istana” di atas puing-puing kehancuran orang lain. Ia berpotensi meninggalkan kawan di tengah jalan, bahkan mungkin berbalik “membalas air susu dengan air tuba”.

Ironisnya, orang-orang yang sudah terjangkiti penyakit sosial seperti ini tidak pernah sadar akan keburukan perbuatannya. Semuanya dipandang wajar dan sah. Mukanya seperti setebal tembok. Ia tidak punya rasa malu.

Maka orang-orang PLIN-PLAN dikategorikan sebagai MAYAT BERJALAN , karena nilai utama hidup itu ialah berpegang kepada keyakinan dan rasa malu.

Renungan

Kejam…

Itulah dampak yang bisa ditimbulkan oleh perilaku imma’ah.

Kejam…

Itulah sisi lain jejak elektronik di era Medsos.

Seperti Nasruddin yang sedang menasihati dirinya sendiri: “Anakku, manusia memang bisanya hanya mencela. Tidak ada yang selamat dari cercaan orang lain.” Sejatinya Nasruddin sedang mentertawakan dirinya sendiri yang tidak bisa mengelak dari sifat plin plan, lalu berwasiat kepada anaknya: “Anakku, berhati-hatilah dengan imma’ah, bisa jadi tidak ada yang  selamat dari sifat itu.”

Hadanallahu Waiyyakum Ajma’in……19530430 TITIK

Wallahu a’lam

Oleh : Awang Dadang Hermawan (Ketua DPC PBB Kab. Kuningan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com