Menjadi Guru Qolbu Itu Tidak Hanya Rupiah yang Dilihat

KUNINGAN (MASS) – Mengapa banyak siswa yang kurang happy menghadapi gurunya? Dan sangat jarang guru menjadi guru idola anak didiknya. Karena pada sosok guru kurang mencerminkan keteladanan.

Salah satu contoh dalam gaya hidup, mereka melarang merokok kepada muridnya ternyata gurunya sendiri merokok. Belum lagi masalah metode dalam pengajarannya. Padahal setiap anak mempunyai kekhasannya sendiri sendiri baik dalam belajar.

Murid belajar ada yang tipe visual, audiovisual, dan kinestetik. Oleh karena itu saya akan mengadakan training bagi guru yang dikemas dalam sebuah acara SPIRITUAL TEACHING MENJADI GURU QOLBU. Saya akan mengadakan road show ke sekolah dan madrasah.

Dan ini saya lakukan bersamaan dengan road show seminar motivasi kepada generasi muda terutama anak MTs/SMP, MA/SMA, dan kalangan mahasiswa. Menjadi guru qolbu tidak hanya rupiah yang dilihat tapi bagaimana dia menjadi sosok guru yang menginspirasi dan memberikan kebermanfaatan untuk sebanyak orang.

Kita kenal dengan Esih Sukaesih seorang guru yang mengajar anak didiknya terbaring selama 30 tahunan. Atau Hallen Kaller seorang tuna wicara yang terus menebar manfaat bagi lingkungannya. Mereka tidak lagi melihat lipatan rupiah disitu.

Belum lagi tantangan guru di masa yang akan datang justru semakin berat. Karena tugas guru selain mengajar, dia juga harus membimbing dan mendidik peserta didik menuju masa depan yang cerah. Di tengah tantangan zaman yang semakin hari kian sarat dengan tindakan yang mengarah kepada distorsi kemanusiaan.

Guru harus tampil kedepan sebagai pembela nilai-nilai kemanusiaan yang sejati. Ketika mentalitas anak didik mulai digerogoti racun narkoba, pergaulan bebas, dan perilaku menyimpang lainnya, guru tidak hanya berpangku tangan, guru harus tampil sebagai penyelamat.

Beban yang harus dipikul oleh guru memang terasa berat, akan terasa menjadi ringan manakala terpatri dalam sanubari guru jiwa pengabdian yang tulus, kecintaan terhadap anak bangsa dan tanggung jawab kepada bangsanya.

Tantangan guru adalah tantangan menghadapi zaman yang terus berubah. Di tengah kondisi zaman yang serba cepat yang mengakibatkan terjadinya guncangan terhadap tata nilai, maka sikap proaktif guru sangat dibutuhkan.

Ia harus menjadi sosok yang dapat menghadirkan sejumlah jawaban ketika disodorkan berbagai pilihan. Ketika anak didik loyo dalam belajar, maka guru tampil sebagai dinamo yang memberikan dorongan hasrat belajar.

Ketika anak didik diracuni narkoba, guru selayaknya menjadi penawar dengan perilaku yang menyejukkan, sikap dan tindakan yang arif. Ketika anak didik membutuhkan figur yang ideal, maka sosok guru tampil kedepan sebagai personifikasi nilai-nilai ideal.***

Penulis: Dr H Muhamad Nurdin (Kasi PD Pontren Kemenag Kuningan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com