Menguatkan Cinta, Menumbuhkan Pengorbanan

KUNINGAN (MASS) – “Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga” begitulah kiranya petikan syair dari para pujangga yang dinyayikan oleh raja dangdut tersohor Indonesia. Semua makhluk hidup yang diciptakan Allah Swt lengkap dengan berbagai macam organ, indra dan seluruh unsur yang terdapat di dalamnya serta lengkap dengan segala fungsinya, Allah Swt pun menciptakan dan menitipkan rasa cinta yang ada dalam hatinya.

Hewan, tumbuhan, malaikat terlebih sebagai manusia yang sudah diciptakan dengan sebaik-baik bentuk tidak hanya fisiknya akan tetapi lengkap dengan akal serta hati nuraninya sebagaimana telah di sebutkan dalam al-quran surat at-tin ayat 4.

Sebagai contoh rasa cinta, harimau yang terkenal dengan raja hutan sangat sadis kepada binatang lainnya akan tetapi lemah lembut dan menyayangi kepada anaknya, ikan hiu sebagai predator di lautan yang ditakuti oleh semua ikan tunduk kepada anaknya, sekalipun firaun yang mengaku tuhan membunuh anak yang terlahir laki-laki tapi bisa luluh dengan cinta kepada seorang anak laki-laki yang justru akan menghancurkannya. Begitulah kekuatan cinta.

Terkadang makna cinta memiliki arti yang sangat sempit dan sering disalahgunakan, seperti cintanya anak-anak yang beranjak remaja atau dewasa. Mereka melakukan hal-hal yang tidak wajar bahkan kadang menyalahi aturan dan norma yang ada dan banyak kejadian kasus yang sering kita lihat baik di media elektronik maupun media cetak. Sungguh sangat miris masa depan bangsa sudah kehilangan mahkotanya, itu semua akibat dari ketidak fahaman dan menyalah gunakan makna cinta yang sesungguhnya.

Rasulullah saw adalah pribadi mulia yang sangat menghargai dan menempatkan cinta benar-benar sesuai porsi dan kadarnya. Kejernihan hatinya, kelembutan bahasanya, ketulusan budi pekertinya serta anggun dalam fisik dan wajahnya sehingga memanjakan mata bagi yang memandangnya, menentramkan jiwa bagi yang mendengarnya dan membuat rindu ketika tidak berada di hadapannya.

Sejatinya kita sebagai ummat akhir zaman hendaknya bisa menggunakan cinta dengan sebaik-baiknya karena Rasulullah saw pernah ditanya terkait cinta, beliau Saw menjawab : “Al-mar’u ma’a man ahabba” (seseorang akan dikumpulkan bersama yang dicintainya), Maka cintailah Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya.

Sandaran dan arahan terkait cinta kita sebagai muslim sudah jelas dengan mencintai Allah Swt dan Rasul-Nya di atas segala-galanya, mengerjakan hal-hal yang di perintahNya serta berkorban untuk menjauhi yang di larangNya. Bila kita melihat sejarah para sahabat terdahulu bagaimana kehidupannya sebelum dan setelah hadirnya hidayah padanya.

Misalnya Umar bin Khattab betapa bencinya kepada rasulullah saw bahkan salah satu orang yang gemar untuk berusaha membunuh nabi, akan tetapi berubah total ketika cinta meliputi dirinya bahkan pengorbanan cintanya kepada baginda nabi sangat tidak diragukan lagi baik dari sikapnya, perjuanganya, kebijakannya dan lain sebagainya bahkan orang yang paling lantang dengan pedangnya ketika ada yang mengatakan rasulullah saw telah wafat di waktu kematiannya, maka akan di penggal bahkan mengatakan murtad kepada yang lainnya akan tetapi Abu Bakar As-siddiq menenangkan dan memahamfakannya dengan lemah lembut dan penuh cinta.

Untuk lebih meningkatkan cinta dan menguatkan pengorbanan kita, maka perhatikanlah firman Allah Swt dalam al-quran surat ali imron : 31
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali Imran ayat 31).

Sebagai pemuda maupun pemudi hendaklah banyak belajar dengan kisahnya nabi Yusuf alaihi salam dan bunda siti Maryam. Nabi yusuf alaihi salam yang di karunia Allah Swt dengan ketampanan yang sangat luar biasa sehingga pernah dihadapkan dengan ujian bujuk rayuan istri pembesar raja Mesir dan hampir melakukan perbuatan keji yang dilarang Allah Swt, akan tetapi Allah Swt palingkan pandangannya sehingga tidak terjerumus dengan rayuanya.

Begitu juga dengan bunda siti Maryam, pemudi salihah yang tidak pernah bersentuhan dengan lawan jenis selama hidupnya dan beliau seorang gadis yang tidak mau terkotori oleh perbuatan yang tidak terpuji, akan tetapi Allah Swt memberikan kabar bahwa siti Maryam akan hamil melalui malaikat Jibril yang menjelma sebagai laki-laki dan belum pernah tahu dan ketemu sama sekali dengannya.

Dari dua kisah tersebut dapat kita ambil pelajarannya bahwasannya Islam dengan syariatnya telah memberikan gambaran untuk bisa menempatakan makna cinta pada porsinya serta berkorban untuk bisa menjaga dan mempertahankan kehormatannya baik sebagai pemuda maupun pemudi.

Cinta selalu identik dengan pengorbanan. Hal yang wajar sebagai manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa mencintai kepada hal-hal duniawi seperti mencintai lawan jenis, keturunan, harta, kendaraan, kedudukan dan lain sebagainya dan kita selalu berkorban untuk mendapatkannya.

Hal tersebut terdapat dalam al-qur’an surat Ali Imran ayat 14. Akan tetapi janganlah terlalu fokus dengan kenikmatan duniawi sesaat, jangan terlalu mencintai dunia sehingga lupa bekal amal sholih untuk akhirat serta jangan terlalu berkorban untuk duniawi karena baginda tercinta rasulullah saw telah mengingatkan kepada kita semua terkait hal itu. Sebagaimana sabdanya :
حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ . ( رواه البيهقي )
“Cinta dunia adalah sumber kesalahan”. (HR. Al Baihaqi)

Momentum yang tepat untuk kita semuanya menguatkan cinta dan menumbuhkan pengorbanan. Saat ini kita masih berada di bulan ramadhan seyogyanya kita sebagai muslim untuk benar-benar menguatkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dengan memaksimalkan aktifitas amaliyah kita di bulan ini seperti menjaga shalat, shaum, tilawah dll. Berkorban harta, tenaga, waktu yang kita miliki saat ini karena kita tidak tahu sampai kapan berada di dunia ini. Hindari hal-hal yang akan menghancurkan cinta dan pengorbanan ibadah kita di bulan ini.

Demikian yang dapat disampaikan semoga bisa manfaat untuk penulis, keluarga sahabat dan para pembaca yang budiman.

Penulis: Devi Imron Rosadi, S.Pd.I