Mengokohkan Tradisi, Menjaga Lemah Cai, Memakmurkan Incu Putu

BISMILLAHIROHMANIRROHIM
ASSALAMUALAIKUM WR.WB.
SALAM SEJAHTERA BAGI KITA SEKALIAN

S A M P U R A S U N …………..?

PUN SAMPUN SALAKSA AMPUN
SAKETI NEDA PARALUN
WIWITAN KA SANG RUMUHUN
SADAYA PARA KARUHUN
KERERENGAN GIRANG PUUN
SADAYA PARA LINUHUNG
JAGASATRU KUMNA KAMPUNG
AMIT JABUNG TUMALAPUNG

PADA KESEMPATAN YANG BERBAHAGIA INI, DALAM SUASANA MEMPERINGATI HARI JADI KABUPATEN KUNINGAN KE 521. USIA YANG SUDAH DEWASA DAN MATANG DALAM PERJALANAN KEMANUSIAAN DAN KEBUDAYAAN DI ATAS TANAH KUNINGAN INI. MAKA DALAM SUASANA INI PULA SAYA SAMPAIKAN ATAS NAMA PRIBADI DAN INSTITUSI DPRD KABUPATEN KUNINGAN, DENGAN PENUH RASA SYUKUR, MENYAMPAIKAN SELAMAT ATAS HARI JADI KUNINGAN KE-521. SERAYA MEMANJATKAN DOA SEMOGA, ALLOH SWT MEMBERKATI KUNINGAN, PARA PENDUDUKNYA DAN MEMBERKATI USAHA-USAHA KITA UNTUK MEMAKMURKANNYA. RAHAYU LEMAH CAINA, RAHAYU PARA PEMIMPINNYA, RAHAYU INCUPUTUNA. RAHAYU SAPURATINA. AAMIIN YAA ROBBALALAMIIN.

HADIRIN YANG KAMI MULYAKAN
DALAM PENGANTAR RAPAT PARIPURNA INI PIMPINAN MENGAJAK UNTUK BERILUSTRASI TENTANG
MENGOKOHKAN TRADISI, MENJAGA LEMAH CAI, MEMAKMURKAN INCU PUTU

SELALU ADA MOMENT PENTING DIMANA KITA TERBUKA KEPADA EKSISTENSI KITA. YAITU MEMPERTANYAKAN LAGI ARTI KEBERADAAN KITA, MENILAI APA YANG TELAH DILAKUKAN DAN MEMBUAT ANTISIPASI, KEMUNGKINAN DI MASA YANG AKAN DATANG. DAN SALAH SATU MOMEN ITU ADALAH MEMPERINGATI HARI KELAHIRAN.

MANUSIA ADALAH MAHLUK YANG SENANTIASA MENCARI MAKNA DARI SETIAP PERISTIWA DAN FENOMENA.
PERISTIWA DAN FENOMENA TIDAK DATANG BEGITU SAJA, DIA ADALAH TANDA-TANDA YANG HARUS DI BACA. DAN YANG DI BACA ADALAH MAKNA DI BALIK TANDA-TANDA. SESUNGGUHNYA DALAM PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI, DAN BERGANTINYA SIANG DAN MALAM TERDAPAT MAKNA-MAKNA BAGI ORANG YANG BERFIKIR MENDALAM. BEGITU ISYARAT DALAM AL-QURAN.

MAKA, SAAT INI SANGAT TEPAT, DALAM SUASANA BATIN YANG LEBIH TERBUKA UNTUK MEMAKNAI KEBERADAAN KUNINGAN, TERKAIT APA KEBERHASILAN YANG TELAH KITA RAIH, APA KEKURANGANNYA DAN HARAPAN-HARAPAN YANG AKAN KITA RAIH DI MASA DEPAN YANG AKRAB DIINGATAN DAN KESADARAN KITA HARI INI. KITA MERENUNGKAN KEMBALI DAN MENGAMBIL MAKNA DARI PERISTIWA INI.

MAKA, DISINILAH KITA MENEMUKAN RELEVANSINYA UNTUK PERINGATAN SAAT INI, YAITU JIKA KITA BERHASIL MENGGALI MAKNA UNTUK MENJAWAB TANTANGAN, DAN MERUMUSKAN PONDASI YANG KOKOH UNTUK ANTISIPASI MASA DEPAN KITA YANG LEBIH BAIK. JIKA TIDAK TERJADI DAN TIDAK MENJADI NILAI YANG MENGIKAT DARI PARA PEMIMPIN KUNINGAN. MAKA, SESUNGGUHNYA KITA TERJEBAK PADA ACARA RUTINITAS DAN SEREMONIAL TAHUNAN BELAKA.

HADIRIN YANG KAMI MULIAKAN
MEMPERINGATI ADALAH MENGOKOHKAN KEMBALI IDENTITAS KITA SEBAGAI KUNINGAN DAN MASYARAKAT KUNINGAN, KARENA IDENTITAS PERLU UNTUK POSISI BERDIRI DALAM MERESPON PERUBAHAN ZAMAN DENGAN TANTANGAN DAN PERSONAL-PERSOALNNYA, JUGA MEMBUAT AGENDA ANTISIPASI MASA DEPAN, SEBAGAI MILIK KITA, KARENA TANPA IDENTITAS DAN POSISI ITU, HANYALAH TEROMBANG-AMBING DALAM ARUS PERUBAHAN YANG BELUM TENTU BERPIHAK KEPADA KITA. DENGAN IDENTITAS YANG BERKARAKTER DAN POSISI BERDIRI YANG KOKOH, AKAN SANGGUP NGIGELAN ZAMAN YANG SENANTISA BERUBAH SEHINGGA ZAMAN INI DALAM KENDALI DAN MILIK KITA, KARENA KITA TIDAK INGIN JADI KORBAN DARI SEBUAH ZAMAN.
SOAL IDENTITAS DAN OBAHNA ZAMAN, SAYA INGIN MEMBERIKAN SEDIKIT ILUSTRASI. MENGAMBIL INSPIRASI DARI SALAH SATU PANTUN BOGOR YAITU : UGA WANGSIT SILIWANGI ”
TENTU DENGAN PENAFSIRAN SAYA SENDIRI

PAJAJARAN DENGAN CAPAIAN PERADABAN DAN TOKOH SENTRALNYA PRABU SILIWANGI ADALAH SEBUAH TRADISI. TRADISI ADALAH SESUATU, DIMANA KITA BISA MERUJUK DAN MENGGALI NILAI-NILAINYA. KARENA DISITU ADA KEASLIAN, KEMURNIAN DAN KEAGUNGAN. SEPERTI BARAT ATAU EROPA YANG MENGAMBIL TRADISI YUNANI, UNTUK MELANCARKAN GERAKAN RENAISANCE DAN PENCERAHANNYA. DALAM ISLAM FASE MEKAH DAN MADINAH ADALAH TRADISI DENGAN TOKOH NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI USWATUN HASANAH.

KEMBALI PADA UGA WANGSIT SILIWANGI. DETIK-DETIK SAAT KERAJAAN PAJAJARAN AKAN BURAK DAN MENJELANG PRABU SILIWANGI NGAHIANG. BELIAU BERBICARA PADA PARA PENGIKUTNYA. MENAWARKAN PILIHAN UNTUK MENJALANI KEHIDUPAN BERIKUTNYA YANG MAKMUR, SEJAHTERA, SUPAYA SUATU SAAT BISA MENDIRIKAN LAGI PAJAJARAN ANYAR.
YANG TIDAK MENGIKUTINYA PERGI KE SEBELAH SELATAN, YANG INGIN KEMBALI KE DAYEUH PERGI KE SEBELAH UTARA, YANG INGIN BERGABUNG DENGAN PENGUASA YANG BARU PERGI KE TIMUR, DAN YANG TIDAK AKAN MENGIKUTI SIAPA-SIAPA SUPAYA PERGI KE BARAT.

KEMUDIAN PRABU SILIWANGI MEMBERI GAMBARAN APA YANG AKAN DIALAMI OLEH PARA PENGIKUT DAN TURUNANNYA (SEUWEU SIWI SILIWANGI) DALAM MELEWATI FASE-FASE PERUBAHAN OBAHNA JAMAN, MELALUI ADANYA FASE RAJA PANYELANG, SETELAH ITU LAHIRNYA RAJA DARI TURUNAN PULAU DEWATA, MUNCULNYA PENGUASA BUTA, BUKAN BUTA PENGLIHATANNYA TAPI YANG MENYENGSARAKAN RAKYAT, MUNCULNYA BUDAK BUNCIREUNG YANG SERAKAH, LALU AKAN MUNCULNYA BUDAK JANGGOTAN DAN BUDAK ANGON SEBAGAI PENYELAMAT ZAMAN.

AKAN HALNYA PARA PENGIKUT DAN SEUWEU SIWI SILIWANGI TERKAIT OBAHNA ZAMAN, DAN GANTI LALAKON HARUS TETAP WASPADA, KARENA ADA YANG IKUT LARUT ATAU KAJONGJONAN DALAM OBAHNA ZAMAN, ADA YANG LALAJO TAPI KABALERANGAN, ADA YANG SEPERTI BUDAK ANGON, NGANGON KALAKAY JEUNG TUTUNGGUL, NGOREHAN BARI NGALAWAN, NGALAWAN BARI SEURI.

DALAM NARASI PANTUN BOGOR ADA GAMBARAN BAGI KITA, BAHWA IDENTITAS YANG MERUJUK PADA TRADISI TANGGUH MENGHADAPI OBAHNA ZAMAN JEUNG GANTINA LALAKON.
DALAM PENAFSIRAN SAYA TRADISI PAJAJARAN DENGAN TOKOH SENTRALNYA PRABU SILIWANGI DIANTARANYA KESADARAN AKAN DIRI SEJATI, DIRI YANG MEMPUNYAI KESADARAN NGAHIYANG (MAKRIFATULLOH), DARI KESADARAN AKAN NGAHIYANG ITU MELAHIRKAN TEKAD, UCAP JEUNG LAMPAH YANG MENEBARKAN WAWANGI, SILIH ASAH, SILIH ASIH, SILIH ASUH. NAMUN PRIBADI YANG SEPERTI INI AKAN MELAMPAUI MENJADI BUDAK BUNCIREUNG, YAITU DIRI YANG MASIH DIKUASAI NAFSU – NAFSU AMARAH. MENJADI BUDAK JANGGOTAN, YAITU DIRI YANG DEWASA DAN WASPADA, DAN PADA GILIRANNYA AKAN BERPRIBADIAN SEPERTI BUDAK ANGON, SEORANG PEMIMPIN YANG MAMPU MENJAGA DAN MEMELIHARA, MENGEMBANGKAN DAN MEMAKMURKAN.
LALU APA TANTANGAN ZAMAN YANG HARUS KITA RESPON DAN JAWAB DENGAN KEASLIAN IDENTITAS KITA. DIMANA SETIAP PERUBAHAN DAN OBAHNA ZAMAN SELALU ADA PELUANG DAN TANTANGAN, PELUANG UNTUK MEMBERIKAN KEBAIKAN DAN TANTANGAN YANG BISA MENGHAMBAT BAHKAN MEMBAWA KERUSAKAN.

HADIRIN YANG KAMI MULYAKAN
SAAT KITA BERKUMPUL DISINI SEMENTARA DUNIA SEDANG BERUBAH CEPAT, DAN PERUBAHAN ITU TERKONEKSI SECARA GLOBAL YANG MAMPU MEMPENGARUHI SAMPAI KE SUDUT BUMI, SEHINGGA POLITIK DUNIA YANG SEHARUSNYA MENJAGA TATA KELOLA KEMANUSIAAN DAN PERADABAN BERUBAH ARUS DENGAN DIDUKUNG TEKNOLOGI INFORMASI YANG CANGGIH DAN BERPIHAK KEPADA PERKEMBANGAN MODAL KAPITAL, SEHINGGA KAPITALISME MENANCAPKAN KUKU HEGEMONINYA. HAL INI MENGUNDANG BANYAK TANYA TENTANG KEDAULATAN POLITIK, KEMANDIRIAN EKONOMI, DAN KEPRIBADIAN BUDAYA INDONESIA.

SOAL KRISIS NILAI DAN KEPRIBADIN BANGSA AKIBAT PESATNYA GAYA POST MODERNISME MELALUI MEDIA SOCIAL YANG SAMPAI DI GENERASI KITA, YANG MENAWARKAN GAYA TETAPI DIBALIK SEMUA ITU ADA IDEOLOGY YANG HARUS DIAMINI DAN SEPAKATI. JIKA PERTAHANAN NILAI DAN BUDAYA KITA LEMAH PASTI AKAN MEMPENGARUHI FIKIRAN, ACUAN NILAI DAN PERILAKU GENERASI KITA. INILAH SEBABNYA KITA HARUS MERUMUSKAN STRATEGI KEBUDAYAAN KITA.

BELUM LAGI SOAL KERUSAKAN ALAM YANG SEMAKIN INTENSIF DAN MELUAS. SERTA SUMBER-SUMBER DAYA ALAM YANG TIDAK BISA DIKELOLA MAKSIMAL OLEH ANAK BANGSA SEHINGGA PEMANFAATANYAPUN MILIK ORANG LAIN. ALAM LINGKUNGAN YANG NOTABENE SYARAT DASAR HIDUP KITA, KINI MULAI RUSAK OLEH TANGAN-TANGAN MANUSIA DAN KEPENTINGAN KELOMPOK YANG KUAT, KERUKSAKAN ALAM SUDAH PADA TITIK NADIR, DIMANA ALAM MEREFORMASI DIRINYA SENDIRI, YANG KEMUDIAN OLEH KITA KENAL DENGAN BENCANA ALAM.
PERUBAHAN DAN PERMASALAH ZAMAN YANG BERSKALA GLOBAL DAN NASIONAL ITU LAMBAT LAUN AKAN MENGHAMPIRI DAERAH SEPERTI KUNINGAN INI. MAKA DIPERLUKAN RESPON CEPAT, ANITISIPASI DINI, DENGAN SENANTIASA MEMPERSIAPKAN LANDASAN YANG KOKOH UNTUK MENJAWAB SEMUA ITU, MAKA DENGAN HIKMAH PERINGATAN HARI JADI INILAH KITA TINGKATKAN KESADARAN DAN KEWASPADAAN AKAN HAL TERSEBUT DI ATAS.

DARI PEMIKIRAN TERSEBUT, KITA HARUS BICARA KUNINGAN. YANG MAMPUH DIPRESENTASIKAN MESKIPUN TIDAK AKAN UTUH, KITA PRESENTASIKAN.

JIKA KITA MENGATAKAN KUNINGAN, KEMUDIAN DITANYA YANG MANA KUNINGAN ITU ?
MUNGKIN JAWABANNYA AKAN BERAGAM. ADA YANG MENUNJUK NAMA SEBUAH KABUPATEN DENGAN CIRI-CIRINYA, ADA YANG MENYEBUTKAN CIRI KHAS MAKANANYA, KESENIANNYA, ADA JUGA YANG MENYEBUTKAN CIRI ALAMNYA, SEPERTI KUNINGAN YANG ADA GUNUNG CIREMAI. SEMUA ITU TENTU JAWABAN TEPAT, TETAPI BELUM TENTU BENAR, KARENA BARU MENYEBUT HAL-HAL YANG AKSIDENNYA, BELUM YANG SUBSTANSINYA.

BELUM LAGI JIKA DITANYA SIAPAKAH MASYARAKAT KUNINGAN ? APAKAH SAMA DENGAN ORANG CIREBON, INDRAMAYU, MAJALENGKA ATAU CIAMIS ? INI AKAN LEBIH PELIK LAGI. INI SEPERTI PERTANYAAN YANG MENGADA-NGADA DAN TIDAK PERLU, TAPI MENURUT HEMAT SAYA INI PERTANYAAN YANG URGEN DAN GAWAT.

SEBUAH PERTANYAAN YANG MENUNTUT KITA UNTUK TERUS MENGGALI, MEMAHAMI BAGAIMANA KUNINGAN DAN SIAPA MASYARAKAT KUNINGAN.
JIKA KITA TERUS MENCARI JAWABAN AKAN PERTANYAAN TERSEBUT, MAKA TERBAYANG OLEH KITA AKAN BERGELUT DENGAN PARA SEJARAWAN, ARKEOLOG, BUDAYAWAN DAN AGAMAWAN. HANYA DENGAN PERTANYAAN SESEDERHANA ITU SERTA MENJADI KERJA YANG SERIUS, BERKELANJUTAN DAN LUAS CAKUPANNYA. PERTANYAAN ABSTRAK TERSEBUT MEMANG BUKAN PERTANYAAN UNTUK AWAM, DAN HEMAT SAYA PARA ELIT DAN PEMIMPIN KUNINGAN PERLU MENGGELUTI PERTANYAAN ITU, JIKA KITA MEYAKINI PADA KEPRIBADIAN DALAM KEBUDAYAAN DARI TRISAKTI YANG BUNG KARNO AJARKAN, SEHINGGA
MEMILIKI SISI SUBSTASNI DAN AKSIDENSINYA, SUBSTANSI ADALAH HAL YANG TETAP, LANA DAN MENYELURUH SEDANG AKSIDENSI ADALAH HAL-HAL YANG BERUBAH, TEMPORAL DAN SPECIAL.
SECARA SUBSTANTIF KUNINGAN ADALAH TERITORIAL, KAWASAN, TEMPAT PEMUKIMAN DULU WILAYAH KERAJAAN, DAN KINI PEMERINTAHAN KABUPATEN. TETAPI KUNINGAN , BISA BERUBAH, SEPERTI, GUNUNGNYA BISA DI LEBUR, BERWARNA HEJO LEMOH DADAUNAN MENJADI KERING, GERSANG, CAINA HERANG NGAGEUNCLANG MENJADI KIRUH PIKAGEULEHEN, ITULAH CIRI AKSIDENTAL DARI KUNINGAN.
JIKA KITA DITANYA APAKAH ITU KUNINGAN, TENTU KITA BISA MENYEBUT SISI SUBSTANSINYA ATAU SISI AKSIDENSINYA. DAN KETIKA DITANYA KUNINGAN, SAAT INI SAYA INGIN MENGENALI SISI SUBSTANSINYA.
LALU MANAKAH SISI SUBSTANSI KUNINGAN ? UNTUK ITU SAYA MENUNJUK, KEPADA TRADISI DAN LEMAH CAI..

TRADISI ADALAH BUDAYA YANG SUDAH DIMAPANKAN DAN ITU BERASAL DARI MASA LALU SERTA MEMPENGARUHI KITA HARI INI, DISADARI ATAU TIDAK, KITA MEWARISI TRADISI DARI MASA LALU DAN MEMPENGARUHI KITA HARI INI. CARA KITA MERASA, CARA KITA BERUCAP DAN CARA KITA BERPERILAKU SESUNGGUHNYA ADA TRADISI YANG SEDANG BERLAKU DI SITU.

HARI JADI ADALAH HARI LAHIR, DALAM SEBUAH HADIS NABI DISABDAKAN ,SETIAP YANG DILAHIRKAN DALAM KEADAAN FITRAH . MEMEPERINGATI HARI JADI ATAU HARI LAHIR BERARTI MENGINGAT SESUATU YANG FITRAH, SUCI DAN ASLI DARI DIRI KITA. DENGAN KEFITRAHAN ITU KITA AKAN BAHAGIA DAN MEMILIKI KEPRIBADIAN YANG KUAT UNTUK MENJALANI KEHIDUPAN.

BUDAYA PADA AKHIRNYA INGIN MENCAPAI KEFITRAHAN ITU. BUDAYA ADALAH KEKUATAN BUDHI, SEDANG BUDHI TERDIRI DARI FIKIRAN DAN RASA. BUDAYA ADALAH MENCAPAI SEJERNIH-JERNIHNYA FIKIRAN DAN SEHALU-HALUSNYA RASA.
FIKIRAN JERNIH ITU ADALAH IDE YANG TERBEBAS DARI HASRAT RENDAHAN SEPETI UANG, KEKUASAAN DAN SEX. GUGUSAN IDE MANUSIA TENTANG KEBAIKAN DAN KEBENARAN TIDAK SEPI DARI HASRAT ITU. MAKANYA KARL MARX, MENGKRITIK IDEOLOGY SEBAGAI KESADARAN PALSU KARENA MENYEMBUNYIKAN HASRAT UNTUK AKUMULASI CAPITAL (UANG), NIETSCZHE MENGKRITIK IDE KITA YANG MENYIMPAN HASRAT TO WILL THE POWER (KEHENDAK KEKUASAAN) DAN SIGMUND FRUED MEMBUKA KEDOK KESADARAN KITA YANG MUNGKIN PANTULAN DARI ALAM BAWAH SADAR, YAITU NALURI PURBA SEKSUALITAS, TETAPI FIKIRAN ADALAH JERNIH DAN TERBEBAS DARI UNSUR SEMUA ITU.

RASA YANG HALUS ADALAH RASA YANG MENYENTUH KEINDAHAN-KEINDAHAN. PADA GILIRANNYA BUDAYA, YAITU KEJERNIHAN FIKIRAN DAN KEHALUSAN RASA YANG DIHASILKAN OLEH MANUSIA YANG DITERIMA SEBAGAI ACUAN OLEH SUATU MASYARAKAT DAN TEREKSPRESIKAN DALAM NORMA DAN INSTITUSI, KESENIAN DAN ARTEFAK. ITULAH KEBUDAYAAN, HAL IHWAL KEJERNIHAN FIKIRAN DAN KEHALUSAN RASA YANG MENJADI MAPAN DISUATU MASYARAKAT.

KEMUDIAN KEBUDAYAAN INI DIWARISKAN SECARA TURUN-TEMURUN MENJADI TRADISI. JADI ISI TRADISI ADALAH BUDAYA. TRADISI ATAU BUDAYA BUKAN KESENIAN, ATAU OLAHAN MAKANAN. OLAHAN MAKANAN DAN KESENIAN HANYALAH EKPRESI DARI KEHALUSAN RASA DAN CITRA RASA. KEHALUSAN RASA INI TEREKSPRESI DALAM SENI ESTETIKA, SENI SUARA, SENI GERAK, SENI RUPA, DAN SEBAGAINYA BERIKUT DENGAN INSTRUMENT-INSTRUMEN KESENIANNYA. DAN JIKA POLITIK ADALAH KEJERNIHAN FIKIRAN DAN KEHALUSAN RASA DALAM NGASUH RATU NGAYAK MENAK, NGABATARA, ATAU NGERTAKEUN BUMI LAMBA DAN NGAHEUYEUK DAYEUH NGOLAH NAGARA, MULASARA LEMBUR MATUH KARANG BANJAR PAMIDANGAN, MAKA JADIKANLAH POLITIK SEBAGAI SENI POLITIK.

DENGAN DEMIKIAN TRADISI MASIH MENYIMPAN KEFITRAHAN, KESUCIAN DAN KEASLIAN KITA. TINGGAL BAGAIMANA MENJAGA, MEMELIHARA, MENGUATKAN SERTA MENGEMBANGKANNYA.

KEMUDIAN, MERUJUK CIRI SUBSTANSI KUNINGAN YAITU LEMAH CAI, ATAU TANAH AIR, MENURUT ISTILAH NASKAH SUNDA ADALAH GUNUNG PANGAUBAN, ATAU BAHASA PERUNDANG-UNDANGANNYA ADALAH LINGKUNGAN ALAM.

MULAI DARI SEBUAH DIKSI SUNDA YANG MENGATAKAN, LEMAH CAI AMPARAN JATI, SARAKAN JADI , SEBUAH DIKSI YANG INDAH YANG MAMPU MENGGAMBARKAN SUBSTANSI LEMAH CAI.
BAHWA LEMAH CAI ATAU PALEMAHAN-PALEMAHAN JEUNG PANGCAIAN-PANGCAIAN YANG DIHAMPARKAN ADALAH AMPARAN UNTUK MENEMUKAN KESEJATIAN KITA DAN SARAKAN, ATAU TEMPAT TUMBUH DAN MENJADI KITA.

LEMAH CAI ADALAH AMPARAN YANG MANA DI ATAS LANDASAN ITULAH MANUSIA TERGELAR DAN MEMBUAT SEJARAH DALAM ALIRAN WAKTU DARI DAHULU KALA, SEKARANG, DAN MASA YANG AKAN DATANG. DI ATAS LEMAH CAI INILAH KITA TUMBUH, MEMBUAT KEBUDAYAAN, MENEMUKAN KESEJATIAN DAN KEMBALI KE LEMAH CAI SETELAH KEMATIAN KITA.

DALAM TRADISI SUNDA, MENYADARI LEMAH CAI BEGITU FUNDAMENTAL BAGI EKSISTENSI DAN JATI DIRI MANUSIA. TIDAK HANYA FUNGSI-FUNGSI ALAMNYA UNTUK MENYEDIAKAN KEBUTUHAN HIDUP MANUSIA DAN MAHLUK TUHAN YANG LAINNYA, TETAPI SOAL KEBERADAANYA YANG SEJAJAR DENGAN KEBERADAAN MANUSIA, BAHKAN KEBERADAAN LEMAH CAI TELAH ADA JAUH SEBELUM MANUSIA DILAHIRKAN DAN AKAN ADA JAUH SETELAH MANUSIA ITU DIMATIKAN, SUNDA MEMILIKI SIKAP MUPUSTI KA LEMAH CAI. BAHKAN LEBIH TEGAS LAGI SEHINGGA DI KELUARKAN DALAM BENTUK SUPATA BAGI MEREKA YANG MERUSAK LEMAH CAI DALAM HAL INI KAWASAN LEUWEUNG LARANGAN.
CERCAAN KERAS DALAM NASKAH AMANAT GALUNGGUNG BAGI RAJA PUTRA (PARA PEMIMPIN) YANG TIDAK BISA MEMELIHARA LEMAH CAI ATAU KABUYUTAN, DAN JATUH KE TANGAN MUSUH, NASKAH MENYEBUTKAN MULYANA KULIT LASUN DIJARIAN MADANA RAJA PUTRA, ANTUKNA BONING KU SAKALIH LEBIH BERHARGA KULIT LASUN/MUSANG DI TEMPAT SAMPAH DARI PADA RAJA PUTRA TIDAK MAMPUH MENJAGA KABUYUTAN DAN JATUH KE TANGAN ORANG LAIN.
BERBEDA DENGAN MANUSIA BARAT MODERN YANG MENGUSUNG CARA BERFIKIR ANTROPOSENTRISNYA, DAN SEKARANG SECARA MASIF TELAH MERASUKI FIKIRAN MANUSIA INDONESIA, BAHKAN KELOMPOK TERDIDIKNYA. MANUSIA BARAT MODERN TELAH MEMBENTANGKAN SECARA TEGAS SUBJEK OBJEK TERHADAP LEMAH CAI ATAU ALAM. MANUSIA BARAT ADALAH SUBJEK DAN ALAM ADALAH OBJEKNYA, YANG PADA GILIRANNYA TIDAK HANYA ALAM YANG MENJADI OBJEK, TETAPI MANUSIA PUN, MEREKA KOTAK-KOTAKAN DALAM RAS, BANGSA DAN AGAMA. MAKA TERJADILAH EKSPLOITASI TERHADAP ALAM UNTUK MEMENUHI HASRAT KUASANYA MANUSIA BARAT MODERN, PADA RAS, BANGSA YANG BERBEDA FIKIRAN ANTROPOSENTRIS ITU, TELAH MENGGELAR APA YANG KITA SEBUT KOLONIALISME, DAN BANGSA INDONESIA ADALAH SALAH SATU KORBANNYA DIMASALALU.

MAKA DAPAT DIMENGERTI JIKA KAUM AGAMAWAN TRADISONAL DALAM HAL INI NAHDLATUL ULAMA SELALU MENGUNGKAPKAN , HUBBUL WATHON MINAL IMAN, MENCINTAI TANAH AIR ADALAH BAGIAN DARI IMAN. BAHKAN DIBUAT MARS JUANG OLEH KH. ABDUL WAHAB HASBULLAH DENGAN MARS ”YALAL WATHON”. KARENA BETAPA PENTINGNYA LEMAH CAI BAGI KITA. MASYARAKAT SUNDA HAL ITU SUDAH TIDAK ASING LAGI. KECINTAAN TERHADAP LEMAH CAI ADALAH SATU TARIKANNAFAS HIDUPNYA DALAM KESEHARIAN. LIHATLAH NAMA-NAMA TEMPAT DAN WEWENGKON DI SUNDA, BANYAK YANG MEMAKAI KATA CI DAN NAMA POHON.

DAN PERLU SAYA SAMPAIKAN DALAM RANGKA PEMELIHARAAN LEMAH CAI DAN LINGKUNGAN ALAM INI. ALHAMDULILLAH PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN MELALUI INISIATIF DPRD KUNINGAN TELAH MENETAPKAN PERDA PEMELIHARAAN MATA AIR BERBASIS KEARIFAN BUDAYA DAERAH PATANJALA . INI SEBAGAI BUKTI CINTA KITA PADA LEMAH CAI DAN ANTISIPASI KITA UNTUK INCUPUTU BERIKUTNYA DALAM MENJAGA, MEMELIHARA DAN MENGAMBIL KEBERKAHAN DARI LEMAH CAI SEBAGAI WARISAN DARI LELUHUR DAN KEBUDAYAAN KUNINGAN.
DALAM HAL LEMAH CAI HARUS PAHAM KEWILAYAHAN SEPERTI PEPATAH ORANG TUA, ”MO BASA MUN TEU SABA” KALAU DI ARTIKAN MOAL BISA DIBASA LAMUN CAN DI SABA.
SABA UNTUK MENDIDIK DIRI, MEMAHAMI DAN MENGETAHUI BATAS BATAS PALEMAHAN JEUNG PANGCAIAN DIMANA KITA TINGGAL, SEHINGGA KITA MENGETAHUI MANA WILAYAH LARANGAN, TUTUPAN DAN BALADAHAN DARI LEMAH CAI KITA. DAN KITA SEBAGAI INCUPUTUNYA DALAM SATUAN TERITORIAL LEMAH CAI YANG BATASNYA ADALAH GUNUNG DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI WAJIB MENGETAHUI APA YANG DISEBUT ORGAN TUBUH GUNUNG DAN SUNGAI ATAU TITIPAN TUJUH TANGTU OPAT BELAS, DARI PUNCAK GUNUNG SAMPAI MUARA.
DEMIKIANLAH, LEMAH CAI SEBAGAI CIRI SUBSTANSI DARI KUNINGAN DAN MANUSIA KUNINGAN.

HADIRIN YANG KAMI MULYAKAN
KALAU MELIHAT PEMIKIRAN PARA PENDAHULU DAN KONDISI SEKARANG, TUGAS POLITIK ADALAH MENJAGA KESUCIAN DAN MENGATUR HAL-IHWAL YANG DUNIAWI, UNTUK KEMASLAHATAN, KESELAMATAN DAN KERAHAYUAN BERSAMA.
SETELAH MENYELAMI MAKNA HARI JADI ADALAH MENEMUKAN SESUATU YANG SUBSTANSI DARI KUNINGAN DAN MANUSIA KUNINGAN, MAKA SELANJUTNYA ADALAH TUGAS POLITIK, HARUS MERESPON CEPAT DALAM NGIGELAN JAMAN DENGAN IDENTITAS OTENTIK KITA, SEHINGGA KITA TIDAK TERSERET OLEH ARUS PERUBAHAN DAN EFEK PERMASALAHAN NEGATIFNYA.
TEU KAIRID KU CI KI’IH, TEU PALID KU CILEUNCANG. DALAM HAL INI KITA MUSTI BISA MERUMUSKAN AGENDA STRATEGIS UNTUK MENGUKUHKAN DAN MENGOKOHKAN HAL-IHWAL IDENTITAS YANG OTENTIK, ASLI DAN FITRAH SERTA MERUMUSKAN AGENDA PEMBANGUNAN KEMAKMURAN INCUPUTU ATAU PENDUDUK KUNINGAN.

KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH HARUS MEMBUAT AGENDA ANTISIPASI STRATEGIS UNTUK MENGOKOHKAN, MENGUKUHKAN, MEMELIHARA DAN MENGEMBANGKAN TRADISI DAN LEMAH CAI KITA SEBAGAI CIRI SUBSTANSI KUNINGAN. PLUS AGENDA KARAHAYUAN BAGI PENDUDUK KUNINGAN.

AL-QURAN, SURAT AL-BALAD, YANG BERBUNYI :

LAA UQSIMU BIHADZAL BALAD
WA ANTA HILUM BIHADZAL BALAD
WAWALIDIW WA MAA WALAD,

AKU BERSUMPAH DENGAN NEGERI INI
DAN ENGKAU (WAHAI NABI) TINGGAL DI NEGERI INI
DAN DEMI BAPAK DAN ANAKNYA..

SEMOGA KITA TERINSPIRASI OLEH AYAT INI, UNTUK BERSUMPAH DEMI NEGERI DAN PENDUDUK NEGERI INI, RAPIH WINGANUN KERTA RAHARJA.

SELAMAT TERLAHIR KEMBALI MASA KE-EMASAN KUNINGAN
RAHAYUSEGENAP ALAM DAN MASYARAKAT KUNINGAN
CAG RAMPES
BILLAHI TAUFIQ WAL HIDAYAH
WASSALAMUALAIKUM WR. WB.

Rana Suparman SSos (Ketua DPRD Kab. Kuningan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com