Memaknai Hari Gunung Internasional Tidak Sebatas Seremonial

KUNINGAN (MASS) – Sejak beberapa jam yang lalu, tepatnya semenjak dari pukul 24.00 waktu setempat tanggal 11 desember 2019, bertebaran ucapan-ucapan yang begitu populis, normatif dan juga sekaligus klise. Ya, apalagi kalau bukan ucapan selamat hari gunung Internasional.

Secara historis, hari gunung internasional diperkenalkan pada tahun 2003 oleh United Nations General Assembly, untuk mewujudkan kesadaran akan pentingnya gunung. Baik bagi kelangsungan hidup manusia, maupun flora dan fauna di dalamnya. Sejalan dengan hal tersebut, timbul beberapa pertanyaan bernada sarkasme dan satire yang timbul dari para pegiat kelestarian alam.

Pertama, apakah implementasi rasa sadar akan pentingnya gunung, mesti dimanifestasikan di hari gunung internasional sebagai kulminasinya? Kedua, misal tidak ada hari gunung, apakah pesan-pesan penyadaran akan pentingnya menjaga kelestarian gunung dan seisinya tidak dapat disampaikan? Ketiga, bagaimana sebenarnya keparipurnaan pemaknaan terhadap hari gunung internasional? Pertanyaan-pertanyaan ini cukup berdasar jika dilihat dari sudut pandang keresahan pegiat kelestarian alam. Pasalnya, yang dikhawatirkan dari adanya hari gunung internasional ini adalah hanya jadi sekadar peringatan seremonial.

Tidak hanya itu, barangkali keresahan dan pertanyaan-pertanyaan tadi muncul atas fenomena pendakian gunung yang cenderung pada perburan eksistensi secara berlebihan. Tanpa mengindahkan konsep kelestarian alam. Dalam hal ini, memang telah terjadi degradasi orientasi terhadap entitas bernama eksistensi.

Mengutip dari bapak gerakan eksistensialis Kierkegaard, ia menegaskan bahwa yang pertama-tama penting bagi keadaan manusia yakni keadaannya sendiri atau eksistensinya sendiri. Kierkegaard berkata bahwa eksistensi manusia bukanlah ‘ada’ yang statis, melainkan ‘ada’ yang ‘menjadi’. Dalam artian, terjadi perpindahan dari ‘kemungkinan’ ke ‘kenyataan’. Apa yang semula berada sebagai kemungkinan berubah menjadi kenyataan. Ini terjadi karena manusia mempunyai kebebasan memilih. Dengan demikian, eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Bereksistensi berarti muncul dalam suatu perbedaan, yang harus dilakukan tiap orang bagi dirinya sendiri.

Yang terjadi saat ini soal eksistensi dan gunung adalah bahwa kebanyakan pendaki (yang berarti tidak semua pendaki), mendaki gunung hanya untuk mendapatkan pengakuan sebagai titik tertinggi eksistensi mereka, padahal seyogyanya menurut Zainal Abidin (2008) Eksistensi tidak bersifat kaku dan terhenti, melainkan lentur dan mengalami perkembangan atau sebaliknya kemunduran, tergantung pada kemampuan individu dalam mengaktualisasikan potensi-potensinya.

Belum lagi jika kita mendengar petuah dari bapak Decrates yang mengatakan bahwa “Corgito, ergo sum” yang artinya “Aku berpikir, maka aku ada” atau petuah dari Jean Jacques Rousseau yang berkata bahwa “Exister, pour nous, c’est sentir” yang kurang lebih artinya adalah “untuk kita, merasakan adalah eksistensi”. Maka konsep-konsep mendaki hanya untuk mendapatkan pengakuan (eksistensi yang sempit) tertolak mentah-mentah oleh konsep eksistensi para tokoh-tokoh di atas.

Meskipun pemahaman terhadap eksistensi sendiri cenderung relatif. Tetapi pegiat kelestarian alam kompak menolak perburuan eksistensi yang berlebihan, yang tidak menjadikan subjek tersebut berpikir atau bahkan merasakan bahkan sama sekali tidak memerhatikan kelestarian alam.

Ciri paling kasatmata yang mengafirmasi pernyataan di atas adalah bahwa tidak sedikit para pendaki yang tidak menggunakan akal dan hati mereka untuk berpikir juga merasakan bahwa gunung kita, terkhusus gunung-gunung yang sudah menjadi destinasi favorit pendaki pemula sedang tidak baik-baik saja. Dengan berserakannya sampah misalnya atau dengan maraknya kebakaran gunung yang terjadi akhir-akhir ini.

Fenomena pendaki gunung asal Prancis bernama Rémi Colbalchini misalnya, yang mendaki gunung di Indonesia dengan menjadikan sampah sebagai patokan bahwa ia masih berada di jalur (trek) pendakian. Misal ia tidak menemukan sampah, maka itu berarti ia sudah berada di luar jalur pendakian. Satu hal yang miris, namun perlu diakui bersama bahwa hal ini terjadi berkat kontribusi dan sumbangsih para pendaki yang tidak berpikir dan merasa bahwa gunung kita, sudah saatnya berhenti diberikan sampah secara terus menerus.

Fenomena kemirisan lainnya adalah terbakarnya 13 gunung pada tahun 2019. Menurut catatan kompas.com, Gunung tersebut di antaranya adalah Gunung Rinjani, Panderman, Arjuno, Sumbing, Batukaru, Guntur, Gunung Agung, Gunung Ciremai, Merbabu, Slamet, Ile Mandiri, Rasamala, dan Semeru.

Selain karena kondisi musim, penyebab teradinya kebakaran ini juga adalah dari puntung rokok pendaki yang dibuang sembarangan dan juga disebabkan oleh bekas api unggun yang dibuat oleh para pendaki ketika beristirahat di campground jalur pendakian.

Seyogyanya, di hari gunung internasional ini, para pendaki yang pemula maupun yang pemuka mesti sama-sama bahu membahu untuk menjaga gunung dan alam Indonesia agar tetap lestari. Ada begitu banyak cara untuk melakukan hal tersebut. Misalnya dengan cara gerakan sapu gunung, reward and punishment, zerowaste atau dengan cara ecobrick.

Agar peringatan hari gunung internasional ini tidak hanya jadi sekadar seremonial, cara terbaik untuk menjawab sinisme dan atau tuduhan (pencitraan, latah, musiman dan sebagainya) yang orang lain berikan terhadap upaya dan perbuatan baik kita adalah satu, konsistensi.***

Robi Zaenal M N
Kader IMK wilayah Cirebon bidang PKMB

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com