Memaknai Hakikat Nuzulul Qur’an

KUNINGAN (MASS) – Salah satu kemuliaan Bulan Ramadhan ialah adanya satu objek penting bagi kemaslahatan umat seluruh alam. Ramadhan juga sering disebut Syahrul Qur’an karena bulan ini terdapat peristiwa penting yang sangat berdampak bagi umat. Tidak hanya bagi umat Islam, bahkan bagi umat manusia. Tepatnya pada tanggal ke 17 Ramadhan semua umat Islam sepakat adanya peristiwa Nuzulul Qur’an.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan mengenai tanggal turunnya Al-Qur’an ini. Ia menfsirkan Q.S. Al-Baqarah ayat 185, kemudian ia menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an yaitu pada hari ke 24 Ramadhan. Tetapi kebanyakan ulama sepakat peristiwa Nuzulul Qur’an ini terjadi pada 17 Ramadhan. Informasi termasyhur mengenai penurunan Al-qur’an yaitu selama berangsur-angsur, yaitu selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Ini juga merupakan alasan umat Islam sangat memuliakan Bulan Ramadhan. Survei membuktikan 99% tingkat membaca Al-Qur’an pada Bulan Ramadhan meningkat. Hal ini terbukti ketika Bulan Ramadhan banyak haflah-haflah atau kegiatan yang isinya memotivasi agar mempunyai girah untuk membaca Al-Qur’an, hingga muncul lah gerakan ODOJ (One Day One Juz). Tidak hanya itu, kebiasaan yang sudah memasyarakat yaitu berlomba-lomba untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Dan itu semua merupakan kebanggaan tersendiri bagi diri masing-masing ketika bisa mencapainya.

Tetapi tidak sedikit pula umat Islam mengabaikan peristiwa ini. Keberadaan teknologi yang serba praktis menjadi alasan untuk perkembangan minat baca kitab suci ini. Adanya Qur’an digital merupakan inovasi yang baik, tapi ada buruknya juga. Memang tujuan adanya media ini tida lain untuk memudahkan semua orang dalam membaca Al-Qur’an dimana saja dan kapan saja. Kesempatan ini menjadi alasan terbaik juga bagi orang yang malas dalam meningkatkan kualitas baca dan kecintaan menjaga Al-Qur’an.

Sudah menjadi sebuah tradisi masyarakat muslim Indonesia hampir setiap tahun menyambut hari turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) mulai. Dan semua daerah pun mempunyai ciri khasnya tersendiri dalam menyambutnya. Salah satunya di daerah Mantingan, kecamatan Jaken, kabupaten Pati Jawa Tengah. Mereka menyambut Nuzulul Qur’an dengan mengadakan Khataman Qur’an kemudian menyembelih Ayam dan tujuan diadakannya kebiasaan ini selain memperingati Nuzulul Qur’an masayarakat setempat berupaya menyatukan persaudaraan melalui acara ini.

Akan tetapi sebenarnya kebiasaan-kebiasaan itu hanya menimbulkan fit back ketika acara tengah dilaksanakan. Biasanya masyarakat hanya menyukai acara tersebut tanpa memaknai apa itu peristiwa di balik turunnya kitab suci umat Islam ini. Seharusnya ini merupakan PR terbesar bagi umat muslim khusunya di Indonesia. Padahal sebenarnya umat Islam sudah mengetahui sejarah turunnya Al-Qur’an Al-kariim, sayangnya mereka enggan mengemplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hakikat yang nyata mengenai peristiwa Nuzulul Quran bisa dengan sering membacanya. Tetapi, tidak hanya membaca saja melainkan memahami susunan kalimatnya atau nahwu shorofnya. Kemudian agar lebih memaknai lagi sebaiknya mempelajari artinya dengan tafsirnya. Karena tidak sedikit orang banyak membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengetahui maknanya, ekstrim nya lagi hanya membacanya secara literasi dalam teks saja sehingga terjadi penyimpangan-penyimpanga akibat pemahaman yang sempit mengenai Al-Qur’an.

Disamping itu, agar lebih dalam dan faham akan konteksnya pelajari juga ilmu-ilmu dalam Al-Qur’an juga. Seperti ilmu balagah, mantiq, naskh mansukh, dan sebagainya yang mendukung untuk memahami Al-Qur’an. Dan hasilnya untuk menjadi pribadi yang memilki jiwa qur’ani, muslim sesungguhnya mengaplikasikan semua yang telah dipahaminya itu dalam kehidupannya. Dan inilah hakikat dari Nuzulul Qur’an yang harus meningkat tiap tahunnya.

Sebagai generasi muslim, sudah sepatutnya tergerak niat dan aksinya untuk menjaga keaslian Al-Qur’an pula. Lebih baiknya lagi bila di hafal. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda “Sebaik-baiknya diantara kalian adalah orang yang mau belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”. Jadi, makna dari kehakikatan dalam memperingati Nuzulul Qur’an tidak hanya mengarak-arakan acara tetapi juga harus mampu mengimplementasikan isi Al-Qur’an itu pada kehidupa sehari-hari sebab semua aturan kehidupan sudah terangkum sempurna dalam kitab suci ini.

Tidak ada kalimat yang indah dan menyayat hati selain kalam Al-Qur’an. Puisi ternama pun akan terkalahkan dengan rima yang runtut lagi menarik dengan kalam-Nya. Bahkan ketika orang yahudi berusaha membuat sebuah syair yang serupa dengan satu surah dalam Al-Qur’an pun maknanya tidak sedalam Al-Qur’an. Tingginya bahasa kitab ini mampu menyihir hati orang yang mendengarnya. Oleh kaena itu, maknailah moment Nuzulul Qur’an yang hampir setiap tahun ini, dengan lebih giat membaca, memahami serta mengaplikasikannya. Wallahu A’lam Bii Al-Shawaab.

Penulis: Syifa Fauziah
Alumni Pondok Pesantren Al-Mutawally dan Mahasiswi Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon