Melupakan Namamu

Daun pintu dan kusen jendela rumah ini memang berwarna putih. Tetapi ketika melangkah keluar, dan sesampainya di ujung beranda, pintu itu seolah-olah menjadi hitam. Entah syarafku yang rusak atau penglihatanku yang tidak baik-baik saja.

Kendati demikian, aku membiarkannya saja, “Biarlah,” ucapku dalam hati. Aku menganggapnya sebagai kesempurnaan dan keseimbangan, “Semoga saja aku menemukan makna adil di dalamnya, semoga,” harapku.

Alih-alih tidak membuat hitam itu berbeda. Lebih baik aku menjaga putih agar tetap berkilau, tidak kusam atau menjadi hitam. Biarlah hitam itu seakan-akan hajar aswad, walau tidak mungkin dan tidak, tidak akan.

Kamu, satu-satunya perempuan, yang tidak akan aku ingat namanya, yang pernah berbisik, “Kamu sudah terlalu dewasa. Jadikanlah dirimu seperti yang kamu mau. Bukan orang lain mau, termasuk aku.”

Mungkin aku sudah menemukan seni dalam bersikap bodoh, atau memang ingatan ini telah hilang separuh, atau pikiran ini telah memilih untuk mengingat ucapan dan wajahnya daripada namanya. Sungguh menjengkelkan.

Tidak seperti film-film yang penuh klise. Sewaktu-waktu pemeran tokoh utama menjadi over-power dan menggapai semua keinginannya (omong kosong). Masalah seperti ini layaknya zero sum game, aku dan yang lainnya hanya bertaruh dengan segala modal yang dimiliki.

Entah siapa yang mendapatkan. Jelas hasilnya yaitu: ada yang mendapatkan dan ada yang tidak. Itulah aturannya, adil kan? Percayailah takdir, cintailah dia, anggaplah dia anugerah yang tidak tergantikan.

Berusaha mengubah nasib merupakan salah satu cara untuk mendapatkan perkara mengadili diri, agar tidak diadili orang lain.

“Setiap hari yang berlalu, barang sekali dalam seminggu. Lewatilah semua dengan bijak dengan lapang dada dan senang hati,” tuturmu. Dengan kata-kata menjengkelkan. Mungkin sudah kesenanganmu jadi motivator bagiku, sayangnya selalu menjengkelkan.

Memang, sewaktu satu rumah denganmu menjadikan aku seseorang yang sanggup bersabar. Malahan, melatihku menjadi orang yang lihai berkata lembut. Iya, kamu, si perempuan yang aku lupakan namanya dengan wajah yang selalu menggangguku.

Sesekali aku paksa mencoba menghibur diri. Membaca semua kumpulan tulisan. Mencatat segala sesuatu kecuali nama dirimu, si perempuan itu.

Seperti yang kamu tanyakan waktu itu, semoga tidak salah ya, “Berapa kali kamu gagal dalam mendapatkan sesuatu?” tanyamu padaku.

Sesuatu tanyamu! Tidak ada sesuatu hal yang terlalu aku damba-dambakan. Apa boleh buat, sesuatu seperti namamu saja aku tidak peduli. Bukan berarti enggan. Hanya saja, dirimu terlalu abai dan banyak bicara.

Asal kamu tahu, semua sudah diakhiri. Aku percaya pada takdir; percaya pada mati. Aku tahu suatu nanti diri ini akan serapuh rumah itu. Pernahkah kamu berpikir untuk mengatakan pada yang aku percayai, pada yang aku paksa akhiri, dan aku takuti? Seperti biasanya, kamu selalu menjengkelkan sama dengan ucapan-ucapanmu itu.

Suatu saat jika memang kamu membaca ini, ingat-ingatlah siapa aku dan bertanya-tanyalah padaku. Bukan hanya kesal! Ya, memang, bahkan benci. Seperti malam itu. Malam terakhir aku bisa melihatmu di tempat pesakitan, menuju sesuatu yang tidak bisa aku lawan, apalagi berontak. Sia-sia semuanya.

Patut kamu perhatikan, aku tidak pernah mencoba mendapatkan dirimu. Kamu telah pergi dengannya yang menurutmu itu adil. Prasangka bodoh dan berlebihan jika sesuatu yang adil telah membunuh dirimu.

Oh ya, kalau pun memang masih ada hidup setelah ini. Aku harap kita tidak bertemu lagi. Semoga kamu hidup kembali dan bacalah ini! Kalau sempat, gantilah semua kata ganti “Kamu” dengan namamu. Abadikanlah.

Cukup tulisan ini saja yang mengenangmu. Biar orang-orang tahu, bahwa kita pernah hidup dan mengoceh kata-kata paling menjengkelkan. Terima kasih.

Penulis: Inggil Abdul Kahfi (Pengurus Ikatan Mahasiswa Kuningan)