Masa Depan Islam

Oleh : Awang Dadang Hermawan ; Pemerhati Intelijen, Sosial Politik dan “SARA”

Gambaran masa depan umat Islam telah dijanjikan dalam Q.S. al-Nur ayat 55:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰ لِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini mengutip hadits Imam Ahmad berikut:

“Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Salamah, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka’b yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: ‘Umat ini akan mendapat berita gembira memperoleh ketenaran, kedudukan yang tinggi, agama, kemenangan, dan kekuasaan yang mapan di muka bumi. Maka barang siapa di antara mereka yang mengerjakan amal akhirat untuk dunia(nya), maka tiada bagian baginya kelak di akhirat.”

Prediksi Beberapa Filosof Barat tentang Masa Depan Islam

Beberapa Pernyataan tokoh Filsafat Barat yang memprediksi masa depan Islam telah dikutip oleh Yakusai sebagai berikut :

1. Leo Tolstoy (1828-1910):
“Islam akan Menguasai Dunia suatu saat nanti, sebab Islam menggabungkan antara ilmu pengetahuan dan hikmah.”

2. Herbert Wells (1846-1946):
“Hingga akhirnya Islam kembali lagi, betapa banyak generasi yang akan merasakan kesengsaraan kemudian suatu waktu nanti dunia seluruhnya akan tunduk pada Islam. Pada saat itu Kedamaian
akan terwujud dan kembali menjadi tenang.”

3. Albert Einstein (1879-1955):
“Saya memahami bahwa kaum muslimin melakukan itu semua dikarenakan kecerdasan dan kesadaran mereka, sesuatu yang tidak mungkin mampu dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Dalam Islam ada kekuatan dan hikmah yang akan Membawa Kepada Kedamaian.”

4. Houston Smith (1919):
“Ada yang lebih baik daripada keimanan yang kita anut sekarang ini, dialah Islam. Jika kita Mau Membuka Hati dan Akal kita , itu akan sangat baik bagi kita.”

5. Michael Nostrodamus (1566-1503):
“Islam akan menjadi agama yang Berkuasa Di Eropa , dan salah satu kota terkenal di Eropa akan menjadi Ibu Kota Negara Islami.”

6. Bertrand Russell (1872-1970):
“Saya telah membaca tentang Islam dan saya akhirnya tahu bahwa Islamlah agama yang akan Menjadi Agama Seluruh Dunia dan semua manusia. Islam akan menyebar di seluruh sudut-sudut Eropa, dan akan datang waktunya Islam menjadi penggerak hakiki dunia ini.”

7. Gustaf Lebon (1841-1931):
“Islam Adalah Agama Satu Satunya Yang Berbicara Tentang Perdamaian dan Perbaikan serta Ajakan kepada orang-orang Nasrani untuk menghargai keimanan yang Membawa Kebaikan. Ini menjadi menarik karena satu satunya partai politik peserta pemilu 2019 Partai Bulan Bintang Dlm Misi Partai Itu Berbicara Pentingnya Perdamaian Dunia. Seperti Pengakuan Tokoh Nasrani Ilmuwan – Cendekiawan Kaliber Dunia Tersebut Diatas.
Oleh sebab itu pada point ke 7 tsb diatas perlu ditarik
garis lurus bahwa : Orang Muslim dan Non Muslim di Indonesia memiliki kewajiban yang sama utk sepakat komitmen * DAMAI DIHATI DAMAI DI BUMI , DAMAI ITU INDAH DI BUMI NKRI “. Jalin kemitraan yg Legal Formal Dgn Institusi Polri , Ajak Komponen Bangsa Indonesia Semuanya ! Dukung Sepenuhnya Langkah Operasional Institusi Polri Pada Konteks Tupoksi Polri Mewujudkan Kamtibmas Dari Sabang Sampai Merauke Dalam Kepemimpinan Jendral Tito Karnavian , Tanpa Reserve ! In Shaa Allah, Stabilitas Nasional Terwujud Dalam Spektrum ” NKRI “. Untuk Itu , Pendapat Saya pribadi ini berkenan kiranya Institusi Intelijen Negara ( BIN ) dan Badan Intelijen Strategis ( BAIS ) – Satuan Intelijen Strategis ( SIS ) Mengambil langkah pro aktif profesional menjaga keutuhan dan kokoh kuatnya ” NKRI ” ,dlm waktu dekat adalah ” Suksesi Pileg Dan Pilpres 2019 – Tanpa Ekses ! Termasuk ” Pantau dan Monitor Mahkamah Konstitusi” Jgn sampai persoalan Presidential Threshold Berlarut Dan Putusannya ” In Konstitusional”. Jgn Berikan Jalan Kepada Intelijen Asing Amerika : CIA dan Israel : MOSAD, Baik bersipat Contra Intelijen ataupun Berbentuk ” Intelijen Contra”.

Kenapa ? Perhatikan pertarungan USD vs CINA dan Gigihnya Satuan Tugas Intelijen Cina : MSS : Ministry State Security Dan Khusus Utk Persiapan Kebangkitan Indochina, 2025.

8. Bernard Shaw IAWAN (1856-1950):
“Suatu hari dunia keseluruhan akan menerima Islam sebagai satu-satunya agama. Seandainya mereka tidak menerima dengan namanya yang sebenarnya, pasti mereka akan meminjam subtansi ajaran Islam. Tapi pasti barat akan menerima Islam suatu hari. Dan ” Islam adalah satu-satunya agama yang akan memimpin dunia.”

9. Yohan Jits (1749-1832):
“Wajib bagi kita semua menerima Islam cepat atau lambat. Dialah agama yang sebenar-benarnya. Andai saya diajak masuk Islam saya tidak akan merasa sebagai sebuah keburukan, bahkan itu saya anggap sebagai sebuah kenyataan.”

(Diterjemahkan oleh Ahsanur Ahmad,
dari status Dr. Ali Asshallaby, Ahli Sejarah dan Penulis Ensiklopedi Sejarah Islam).

Fakta dan Analisis

Beberapa kutipan di atas menunjukkan adanya koherensi yang kuat dan konsisten, baik antar dalil naqli dan antar dalil aqli, maupun antara dalil naqli (ayat dan hadits) dengan dalil aqli dari beberapa pemikir terkemuka, tentang gambaran masa depan Islam.

Teori koherensi adalah satu dari tiga teori kebenaran dalam filsafat ilmu, selain teori korespondensi dan teori pragmatisme. Menurut teori koherensi, sesuatu harus dianggap benar bila antar pernyataan sejenis bersifat koheren (sesuai, cocok, saling melengkapi dan saling memperkuat).

Perhatikan pemikiran kontemplatif yang dikutip di muka, khususnya mereka yang hidup pada pergantian abad XX, ketika tanda-tanda keruntuhan peradaban barat mulai muncul: Tolstoy (1828-1910), Lebon (1841-1931), Wells (1846-1946), Shaw (1856-1950), dan Russell (1872-1970); hasil pemikiran mereka semuanya sangat koheren satu sama lain; mereka sedang mencari kandidat baru pemimpin peradaban dunia.

Apa yang difikirkan para filosof itu adalah apa yang mereka tangkap sebagai hukum alam, Sunnatullah yang mengatur setiap makhluk, baik yang nyata maupun yang ghaib, yang besar maupun yang kecil; semua sudah tertulis dalam Lauhul Mahfudz, Kitab Blue-print yang mencatat skenario dan semua yang terjadi di alam semesta (al-An’am: 59). Hasil upaya manusia dalam memahami Sunnatullah inilah yang kemudian menjadi pengetahuan, objek dan isi pemikiran manusia sepanjang sejarah.

Bumi ini hanya sebuah titik kecil di tengah sejumlah trilyunan, bilyunan bintang-bintang, yang sampai saat ini belum ada seorang pun yang tahu jumlah persisnya. Padahal bintang-bintang itu barulah di langit pertama, dan langit pertama hanyalah bagian kecil saja dari tujuh lapis langit, dan keseluruhan langit hanyalah bagian kecil dari keseluruhan alam semesta (al-Baqarah: 255). Sedangkan kita manusia, hanyalah bagian titik kecil saja dari keseluruhan isi bumi.

Bila alam semesta ini sudah ada sejak lebih dari 18 milyar tahun yang lalu, selama itu pula semuanya tentu telah berjalan sesuai pada taqdir sejarahnya, sesuai dengan Kehendak Sang Pembuat Skenario Alam . Sedangkan tentang kehidupan di bulan saja, planet (terdekat dari) bumi, belum ada cara untuk memahaminya, apalagi sejarahnya. Bagaimana pula dengan seluruh bintang dan alam semesta? Padahal Allah sendiri menegaskan bahwa semua itu dibuat tidak ada yang sia-sia (Ali Imran: 191-192).

Alam semesta terbentuk lewat sebuah Ledakan Besar, Big Bang. Bukti ilmiah adanya ledakan besar telah dipaparkan oleh Nasa. Pada 1989, George Smoot bersama Tim Nasa meluncurkan satelit untuk meneliti asal mula alam semesta.

Dari berbagai fakta ilmiah, akhirnya teori Big Bang mendapatkan persetujuan dunia ilmiah. Dalam sebuah artikel yang dimuat pada Oktober 2014, Scientific American menuliskan bahwa teori Big Bang adalah satu-satunya teori yang dapat menjelaskan asal mula alam semesta.

Jauh sebelum teori Big Bang dikemukakan ilmuwan : Al-Qur’an telah menjelaskan terkait terbentuknya alam semesta.

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”
(al-Anbiya: 30).

Dari ayat tersebut terlihat jelas kesesuaian antara ayat Al-Qur’an dan teori Big Bang. Persamaan keduanya tidak bisa dihindari.

Grup Facebook The Origin of Meaning mencoba menghitung umur alam semesta sejak terjadinya Ledakan Besar, Big Bang.

Angka-angka yang diperoleh dianalisis dari petunjuk yang diberikan Al-Qur’an Surat Fushshilat ayat 9-14, bahwa bumi diciptakan dalam 2 hari dari 6 hari jumlah keseluruhan waktu penciptaan, dikali perbandingan satu hari dunia dibandingkan satu hari di Sisi Allah.

Bumi tercipta bersamaan dengan matahari dan planet tetangga yang lain yang disebut solar system dalam 4,567 milyar tahun yang lalu. Dibandingkan dengan usia universe 13,701 milyar tahun, maka 4,567/13,701 = 1/3 = 2/6.

Dua masa penciptaan bumi = 4,567 milyar tahun, ini umur bumi; Dua masa sisa penciptaan langit = 4,567 milyar tahun. Jadi, 13,701 + 4,567 sisa usia = 18,262 milyar tahun. Maka 50.000 x 1000 (ini perbandingan satu hari dunia dengan satu hari di Sisi Allah) x 365,2422 (days in human year) = 18.262.110.000 atau 18,262 milyar tahun.
(Sumber: kanzunqalam.com).

Berapa umur manusia sejak Nabi Adam AS. sampai hari ini?

Studi terbaru yang dipublikasikan dalam European Journal of Human Genetics, sebagaimana dikutip Liputan6.com dari Situs Nature World News oleh Elin Yunita Kristanti pada 30 Januari 2014, menyimpulkan bahwa Nabi Adam AS hidup 209 ribu tahun yang lalu.

Pendapat para ulama konvensional berdasarkan usia para Nabi, sejak Nabi Adam AS sampai hari ini, menyimpulkan bahwa usia umat manusia modern belum genap 6000 tahun.

Ada juga pendapat lain berdasarkan jumlah 124.000 Nabi : menurut Ibnu Murduwaiyah dengan asumsi satu tahun diturunkan seorang Nabi, maka umur umat manusia sampai saat ini adalah 124.000 tahun.

Dan berapa usia kita? Empat puluh, lima puluh, enam bulan puluh, tujuh puluh? Bandingkan dengan 6000 atau 209 ribu tahun usia manusia, lalu bandingkan dengan 4,567 milyar tahun usia bumi, kemudian bandingkanlah dengan 18,262 milyar tahun usia alam semesta.

Uraian singkat di atas kiranya cukup untuk menjelaskan betapa sangat luasnya cakupan Pengaturan dan tentu saja Pengetahuan Sang Maha Pengatur (Rabb), dan betapa sangat sedikitnya pengetahuan kita tentang kosmologi (Islam). Selain sangat komprehensif, ternyata PengetahuanNya juga sangat detil; kapan setiap helai daun harus gugur dan dengan cara bagaimana, semuanya sudah diatur (al-An’am: 59). Bahkan bagaimana kelanjutan perjalanan taqdir sejarah setiap helai daun, fungsi dan kontribusinya terhadap keseimbangan ekosistem dan mata rantai kehidupan di bumi, sudah ada ukuran taqdirnya sendiri-sendiri (al-Thalaq: 3).

Bagaimana mungkin kehidupan manusia yang adalah khalifahNya di muka bumi (al-Baqarah: 30-34), serta perjalanan sejarah peradabannya akan dibiarkan berjalan dengan sendirinya tanpa campur TanganNya?

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadid: 22-23).

Inilah bedanya world-view Islam dengan pandangan dunia kaum sekuler; bila semua yang kita peroleh dan kita alami sepenuhnya disandarkan pada ikhtiyar kita manusia, lalu dimanakah Allah? “Dan sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan selain Allah, niscaya keduanya telah hancur binasa.” (al-Anbiya: 22).

Manusia, peradaban, bumi dan seluruh alam semesta ternyata tidak mungkin mampu mengatur dirinya sendiri tanpa keterlibatan Sang Maha Kreator Sejarah. Maka tidak ada seorang pun atau kekuatan mana pun yang bisa mengelak apalagi membelokkan arah taqdir sejarah. Manusia boleh membuat rencana, manusia boleh merencanakan makar, tapi Allah sebaik-baik Pembuat Rencana (Ali Imran: 54).

FirmanNya dalam Surat al-Hadid ayat 22-23 di atas, bahwa janganlah terlalu berbangga diri dengan apa yang kalian ikhtiyarkan, dan jangan terlalu risau dengan apa yang luput atau menimpa kalian, adalah sebuah filosofi tentang harmoni dan koherens*i antara *ikhtiyar manusia dengan *Taqdir Sejarah.

Zaman yang Semakin Memburuk

Imam Bukhari RA meriwayatkan:

عن الزبير بن عدي قال أتينا أنس بن مالك فشكونا إليه ما نلقى من الحجاج فقال اصبروا فإنه لا يأتي عليكم زمان إلا الذي بعده شر منه حتى تلقوا ربكم سمعته من نبيكم صلى الله عليه وسلم

Dari az-Zubair bin Adi, dia berkata : “Kami pernah mendatangi Anas bin Malik lalu kami mengeluhkan kepadanya mengenai apa-apa yang kami dapatkan dari al-Hajjaj -berupa tekanan dan kekejaman, maka beliau berpesan, “Sabarlah kalian : karena sesungguhnya tidaklah datang kepada kalian suatu zaman, kecuali Zaman ….. yang Sesudahnya lebih Buruk daripada Sebelumnya , sampa kalian bertemu dengan
dengan Rabb kalian. Aku mendengarnya dari Nabi kalian shallallahu’alaihi wa sallam.”
(HR. Bukhari dalam Kitab al-Fitan).

Dalam riwayat lain disebutkan tentang fase-fase sejarah yang sudah dan akan dilalui umat Islam:

“Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Setelah itu, masa kerajaan yang sombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.”
(H.R Ahmad).

Kini kita berada pada zaman keempat. Zaman ini disebut Zaman Mulkan Jabbariyan, karena kehidupan umat Islam berada di bawah kepemimpinan para penguasa yang memaksakan kehendak alias diktator.

Babak ini diawali dengan berakhirnya babak ketiga, yaitu era kepemimpinan Mulkan ‘Adhon atau para pemimpin yang menggigit. Yang dimaksud dengan para pemimpin yang menggigit ialah para khalifah Islam yang memimpin khilafah Islamiyah sejak Kerajaan Daulat Umayah lalu Daulat Abasiyah kemudian Kesultanan Turki Usmani. Total masa berlangsungnya babak ketiga mencapai kurang lebih empat belas abad.

Inilah babak keempat, di mana fitnah dan ujian terhebat akan terjadi di muka bumi terhadap umat islam. Inilah babak di mana syaitan sekuat tenaga mengumpulkan sebanyak-banyaknya kawan menuju neraka dengan tipuan-tipuan dunianya. Inilah zaman di mana akan terjadi pembuktian semua tanda kiamat yang telah digambarkan dalam hadist-hadist akhir zaman.

Banyaknya bangunan tinggi, lahirnya pemimpin-pemimpin dzalim, diberikannya amanah pada yang bukan ahlinya, seorang ibu melahirkan tuannya, betebarannya zina, mudahnya meminum khamr, tak terhindarnya seluruh manusia dari sistem riba, diangkat ilmu-ilmu dengan cara meninggalnya ulama-ulama penting, banyaknya jumlah wanita daripada pria, tatanan masyarakat yang sudah terbuai media sehingga yang dusta dianggap benar dan yang benar dianggap dusta, pagi beriman sore kufur, sore beriman pagi kufur, dan alharj (peperangan demi peperangan yang menyebabkan terjadinya pembunuhan besar-besaran)ِ *” Seperti Itulah Ciri Cirinya Akhir Zaman “.

Refleksi Kemerdekaan

Benarkah ciri-ciri Mulkan Jabbariyan itu kini sudah sempurna, dan seluruh “rukun” zaman ini sudah terpenuhi?

Boleh jadi jawabannya hanya tinggal menunggu Hasil Proses Politik 2019 ; apakah zaman Mulkan Jabbariyan ini masih akan berlanjut atau akan segera berakhir, lalu kita akan memasuki fase peralihan menuju zaman akhir?

Apa pun hasilnya, selalu ada ‘ibrah dan mau’idzah hasanah bagi orang beriman; bila zaman itu akan berakhir, janganlah terlalu berbangga diri dengan apa pun sumbangan kita terhadap proses ini karena memang begitulah skenario besarnya; dan bila masih akan berlanjut, jangan pula terlalu bersedih karena Setiap Pemimpin Adalah Cerminan Rakyatnya …….’.

Lihatlah, bagaimana Allah menjadikan Fir’aun sebagai penguasa bagi kaumnya, karena Karakter Umum Rakyatnya sama dengan Pemimpinnya …..”.

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu), lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (al-Zukhruf: 54).

Ayat ini menegaskan bahwa kaum Fir’aun adalah orang-orang fasik. Oleh karena itu Allâh Azza wa Jalla menjadikan orang yang Seperti Mereka sebagai Penguasa Mereka. Ibnu Taimiyah menambahkan bahwa ciri kaum Fir’aun itu adalah “orang-orang dungu, orang-orang yang tidak beramal dengan ilmunya, serta Selalu Mengikuti Hawa Nafsunya”.

Bagiamana dengan janji Allah tentang kemenangan umat Islam?

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan Kepada orang-orang kafir untuk (menguasai) orang-orang Yang Beriman ( An-Nisa: 141).

Andaikan kita semua sudah benar-benar beriman, tentu Allah tidak akan membiarkan kita dalam kondisi Menyedihkan seperti SEKARANG INI.

“Allah sekali-kali Tidak Akan Membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini.” (Ali Imran: 179).

Andai kita sudah benar-benar beriman Tentu Allah akan Bersama Kita dalam Segala Kondisi …………..’

“Dan sesunguhnya Allah bersama orang-orang Yang Beriman.” (al-Anfal: 19).

Namun kebanyakan umat ini masih berada pada level muslimin, belum meningkat hingga Level Mukminin:

“Dan kebanyakan mereka tidak beriman.” (al-Syu’ara: 8).

Lantas siapakah orang beriman?

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat , yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara Hukum Hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu.” (al-Taubah: 112).

Ayat di atas mengisyaratkan adanya Delapan kunci kemenangan; Enam kunci pertama terkait dengan Keshalihan Sikap Hidup Individual Dan Dua Kunci terakhir berkaitan dengan Keshalihan Sikap Hidup Sosial. Keshalihan individual merupakan prasyarat bagi keshalihan sosial, atau keshalihan sosial sebagai hasil atau refleksi keshalihan individual; tidak ada keshalihan sosial tanpa keshalihan individual, dan sebaliknya.

Dengan demikian, “amar ma’ruf dan nahi munkar”, dan “memelihara hukum Allah” adalah merupakan pembeda antara kaum muslimun dan kaum mukminun. Sayangnya Kita masih terus berdebat tentang definisi “amar ma’ruf dan nahi munkar” dan “memelihara hukum Allah”.

Akibatnya, batasannya menjadi kabur, mana yang ma’ruf dan mana yang munkar; mana yang memelihara dan mana yang menistakan hukum Allah. Selama amar ma’ruf dan nahi munkar serta hukum Allah belum ditegakkan, selama kita masih berdebat tentang definisi dan batasannya, selama itu pula fitnah zaman Mulkan Jabbariyan ini akan terus berlanjut.

Kondisi ini ternyata telah digambarkan dalam Surat al-Dzariyat ayat 7-11 berikut:

“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan,
sesungguhnya kamu benar-benar dalam Keadaan Berbeda…….”
Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta,
dipalingkan daripadanya (Rasul dan Al-Qur’an) orang yang dipalingkan.
(yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.”

Seperti inilah gambaran fitnah yang dalam banyak hadits digambarkan sebagai “Huru Hara Akhir Zaman”, yang ternyata juga sudah disebutkan ciri-ciri utamanya Dalam Al-Quran.

Tetapi apa yang tengah kita alami sekarang ini memang harus terjadi sebagai suatu Sunnatullah, suatu cara Pengaturan Allah untuk menyeleksi siapa di antara orang-orang yang Mengaku Beriman memang sungguh-sungguh beriman. Allah Tdk Akan memberikan kemenangan bagi Umat Islam sebelum mereka mengalami Penempaan yang semestinya, sampai derajatnya meningkat dari kaum muslimin menjadi kaum mukminin.

Pada tahap ini yang diperlukan adalah orang-orang beriman yang mampu menahan diri sambil terus Membina Pribadi dan Keluarganya serta Umat di sekelilingnya bersiap Siaga menghadapi masa-masa Kritis, yakni masa peralihan yang dalam banyak hadits digambarkan sebagai Fase Huru Hara fase Akhir Zaman ; suatu peralihan yang boleh jadi harus ditebus dengan Pengorbanan darah dan air mata.

Kabar baiknya, Allah akan menukar keadaan yang menakutkan ini menjadi keadaan aman sentosa, sebagaimana dijanjikan dalam Surat An-Nur ayat 55 dan hadits Imam Ahmad yang telah dikutip di awal muhasabah ini.

Inilah kondisi Zaman kelima, zaman Akhir……… Sebuah kondisi Ketika Bumi Manusia adalah Bumi yang seluruh negerinya penuh berkah, adil-makmur-aman-sentosa; bebas dari rasa lapar dan aman dari segala rasa takut, Alladzii At a’mahum Minjuu’ Iwwa Amanahum Min Khauf , Bumi Yang seluruhnya adalah ; baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur, dan gemah ripah repeh rapih loh jinawi; sebuah Ide Universal tentang cita2 luhur yang juga merupakan cita-cita para Founding Father bangsa.

Inilah Nikmat Kemerdekaan Yang Hakiki , buah dari sebuah Perjuangan Yang Panjang .

Dan……… setelah menjelaskan fase-fase sejarah perjalanan yang panjang ini, Rasul SAW pun terdiam. *والله اعل

Hadanallahu Waiyyakum Ajma’in………………….19530430 TITIK

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com