Kisah Seorang Honorer

Oleh : El-huda

Aku sedang jenuh. Sungguh jenuh. Kesepian. Benar benar sepi yang mampu membunuh siapapun dengan perlahan. Menggerogoti setiap jengkal tubuhku dari dalam. Mengubur asa dari hati yang sudah berserakan. Sepi. Sangat sepi.
Bukan, bukan karena aku sedang dalam kesendirian. Di kedai ini sungguh banyak orang yang berdatangan, sendirian, berpasangan, atau bergerombol. Dari balik jendela kaca ini juga bisa kulihat banyak orang yang berlalu lalang. Manusia-manusia hamba.

Di luar, kendaraan bermotor terdengar saling berlomba memekakan telinga. Bising. Derasnya suara hujan diatas genting juga tak mau kalah, dentuman petir juga membuat kupingku terngiang-ngiang tak karuan. Sejatinya, hidup memang tak pernah senyap.

Tapi aku tetap merasa sepi. Bahkan segelas kopi yang biasanya asyik pun menjadi rumit. Diam membisu. Belum lagi sebatang rokok yang kuhirup dalam dalam asapnya, terasa hambar. Meja dan kursi yang kutempati pun tak lagi memberikan kenyamanan, tapi tak jua mengganggu. Semuanya seolah tahu, aku terjebak dalam kehampaan.

Lalu bayang-bayang itu muncul kembali. Bayangan seorang wanita yang pundaknya selalu lembut bila kusentuh. Rambutnya panjang menjuntai sampai punduk. Jalannya sedikit melenggok, dengan high hils 5 cm. Semua itu nyata, dia datang menghampiriku yang sedari tadi sendirian. Dia selalu ada di saat-saat kritis hidupku. Menyapaku, dan mendekapku. Dialah yang selalu menyelamatkan hidupku.

Dua tahun lalu aku hampir mati tergelincir di tebing Gunung. Tempat pelarianku. Dua puluh meter terperosok dari sebuah tebing itu membuatku putus harapan untuk hidup. Dan di saat itulah, pertama kali aku bertemu dengannya. Sepersekian detik sebelum aku benar benar tidak mengingat apapun.

Kejadian kejadian selanjutnya, menuntunku pada penglihatan yang lebih jelas pada perempuan berambut panjang itu. Tepat setahun lalu, saat aku menabrak sebuah pagar pembatas di salah satu jalan tol, kurasai dia menyapaku terlebih dahulu. Menanyakan kabar, dan kami mulai bisa mengobrol. Kejadian itu, adalah sepuluh detik sebelum darah yang mengalir memaksaku tidur beberapa jam kemudian.

Atau 6 bulan yang lalu. Di kedai yang sama, yang kutempati sekarang, saat aku bertemu denganya lagi, yang ketiga kalinya. Kami mengobrol lebih dalam, banyak hal. Dia berbagi keluh kesahnya padaku. Keluh kesah yang mirip denganku. Dia bercerita soal pasangannya yang kabur bersama wanita lain, dia bicara soal nasibnya di pekerjaan yang kian memburuk, dia bercerita soal orang tuanya yang sudah tiada. Bercerita banyak hal padaku. Sekira 15 menit sebelum duniaku hitam, gelap dan berbayang. Lalu terbangun di sebuah rumah sakit dengan infus yang menggantung.

Begitulah selama 6 bulan ini aku selalu sengaja pergi ke kedai ini. Memesan tempat duduk yang sama, pada hari dan jam yang sama, ahad selepas asar. Aku selalu menunggu bayangan itu muncul lagi. Aku butuh orang yang bisa berbagi denganku, dari hati, tanpa rahasia.

Begitulah kami menjadi lebih akrab dibanding kedatangan kedatangan sebelumnya. Bahkan kami mengobrol lebih lama, dan lama lagi. Bukan hanya dari saling beradu kata, canda dan tawa, perlahan, berani juga aku menggenggam tangannya.
Itu pertemuan ke empatku dengannya.

Tangannya sungguh hangat. Membakar bara di hatiku yang sudah lama membeku. Hangatnya menyentuh seluruh tubuhku, dari ujung kaki, hingga ubun ubun. Hangat, semakin hangat, dan terus saja meninggi. Hingga aku terkapar disana.

Waktu itu dokter memperingatkanku dengan keras, bahwa aku harus istirahat total. Tak boleh ada stres atau pikiran yang terlalu berat. Aku demam tinggi. Katanya, karena terlalu stress. Aku hanya mengangguk ngangguk saja. Tapi sejujurnya aku tak pernah merasa stress, aku bahkan tak pernah sebahagia ini lagi sejak dua tahun lalu memutuskan kabur dan mendaki sebuah gunung. Apa salahnya aku bertemu seorang wanita yang selalu ada di saat-saat kubutuhkan, di gunung, di jalan tol, di kedai, dimana saja sebelum duniaku menghilang sejenak. Memang tangannya hangat, aku tertular hangat kan sangat normal. Tapi hal ini tak bisa kuceritakan pada dokter.

Selang beberapa waktu, aku kembali lagi ke kedai. Sore itu tempatku sudah diisi. Meledaklah amarahku disana. Kupukuli orang yang menduduki tempatku bersua dengan perempuanku. Kuhajar dia disana. Sampai pemilik kedai itu meleraiku. Aku balas menghardiknya keras keras. Kubilang, siapa suruh dia duduk di tempatku, hah ?. benar saja, perempuanku tidak datang. Brengsek, tempatnya direbut. Pikirku.

Beberapa waktu kemudian aku datang lagi ke kedai ini. Tak ada siapa siapa di tempatku. Rupa rupanya tragedi tempo itu benar benar sudah memberikan dampak luar biasa di kedai itu. Tak ada lagi yang mau menempatinya selain aku, dan perempuanku. Itu tempat kami saling bercerita, berbagi rasa, dan romansa. Tentu saja orang orang harus mengerti aku. Ujarku dalam hati.

Setidaknya setiap hari minggu sore aku akan datang ke kedai itu. Kadang memang kami tak bertemu. Tapi setiap pertemuan tak pernah ku sia siakan.

Seperti tiga bulan lalu. Pertemuan kami yang ke lima. Tak sengaja aku bertemu dengannya diperjalanan menuju kedai. Kami berjalan bersama bergandengan tangan. Tak ada kecut lagi di bibirku. hanya ada senyum merekah di bibirku yang membiru. Aku ingat betul, perjalanan kami diiringi hujan rintik rintik yang mengguyur setiap jejak langkah yang kami pijak. Aku tak peduli dengan hujan deras yang membasahi tubuhku. Yang kuingat hanyalah bersamanya. Orang orang yang menatapku selalu kuacuhkan. Tentu saja, duniaku bersamanya lebih asyik dibanding seluruh dunia serta isinya.

Sore itu, tak ada yang kuingat lagi. aku hanya ingat membuka pintu kedai untuk perempuannya. Dan tak ada lagi dunia. Kecuali saat aku kembali tersadar di sebuah klinik.

Pertemuan berikutnya di balkon rumah kontrakanku yang sempit. Dia bilang ingin mengunjungiku untuk yang pertama kali dan terakhir kali. Tentu saja aku tak terima. Aku protes keras. Kau kan masih bisa kesini setiap waktu. pikirku. Malam itu, kuhabiskan mengobrol dengannya. Tak pernah lagi aku tahu obrolannya ketika dunia kembali gelap, dan aku sudah di kamar ketika sadar. Ibu kontrakan bilang, aku ditemukan pingsan di balkon depan. Untung ada mang ujang yang sedang ronda. Katanya.

Begitulah pertemuan terakhirku dengannya. Dengan perempuan yang dua bulan ini tak pernah kujumpai lagi. bahkan di kedai tempat biasa kami saling bersua. Tempat dimana aku membunuh sepi bersamanya. Tempat yang mengantarkanku pada kebahagiaan dan kegelapan sekaligus. Dan sore ini, yang kutunggu itu akhirnya datang.
Dia mendekatiku dan mengajaku bercengkrama. Kami tertawa terbahak bahak. Aku tahu orang orang sekelilingku selalu terganggu jika aku sudah mengobrol bersamanya. Sesekali aku aku mendengar juga mereka mengiraku orang stress. Mereka bilang aku ngobrol dan tertawa sendiri. Mereka saja yang tak mau melihat perempuanku. Payah. Pikirku.

Aku tak pernah peduli apapun yang mereka bicarakan tentangku. Kecuali hari ini, kudengar obrolan mereka mendengung di telinga kanan dan kiri. Mereka menggangguku yang sedang asyik mengobrol.

Kubentaki mereka semua. Diam. Ujarku. Sedetik kemudian kepalaku seperti melayang. Dunia ini seolah berputar. Perlahan duniaku yang terang meredup. Ah, memang pertemuanku dengannya selalu seperti ini. Tapi kali, mataku masih cukup jelas untuk melihat mereka yang kubentak berkerumun disekitarku. Mereka terlihat sedikit ketakutan, tapi sorot matanya seperti kasihan. Mata mereka seolah olah mengeluarkan huruf demi huruf yang mengantar kata dan menjadi sebuah kalimat yang jelas kubaca.

“Kasihan, karena tak ada istri dia jadi sering ngomong sendiri”

“Kasihan, dia jadi gila karena di tinggal istrinya, bunuh diri dua tahun lalu, soal ekonomi”

“Kasihan, dia sudah sering berhalusinasi, kata orang dulu, kalo sudah 7 kali, biasanya cepat mati”

“Kasihan, dia stress. Usianya sudah lebih dari 40 tahun, tidak bisa jadi pns.”
“Kasihan, pengabdiannya 15 tahun sia sia, pasti jadi stress”

“Kasihan, kerjanya banyak, tapi gajinya kecil”

“Kasihan, mati kesepian, atau mati tidak ada penghasilan, nanti sama saja”

“Kasihan, honorer” ***

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com