Kegagalan Pembangunan Generasi Millenial Pemda Kuningan

KUNINGAN (MASS) – Nun jauh di Afrika sana, saya sangat merindukan Kuningan. Tapi apalah daya, tangan tak sampai, hati yang menggapai.

Saya melihat perkembangan melalui media masa, media sosial, berkabar dengan sanak saudara dan sahabat disana atau sesekali pulang ke Kota Kuda untuk melepas rindu tanah air beta.

Namun, hati ini menangis, tergugah rasa kepemudaan sebagai diaspora di luar negara mendengar bahwa Gedung Pusat pemuda di taman kota akan menjadi rata dengan dalih pembangunan pariwisata.

Sejarah berawal ketika Sekda Kuningan, Bpk Dian Rahmat yanuar Yth yang merupakan mantan Ketua KNPI mengungkapkan bahwa Taman Kota akan direvitalisasi dan turut serta menggusur Gedung Pemuda tanpa membicarakan akan dialihkan kemana.

Gayung bersambut, Bupati lebih “mengentengkan” pengalihan Gedung Pemuda ini dengan mengatakan “soal penataan, dan lain sebagainya itu mah teknis lah ya” sesuai kutipan langsung yang tertera di kuninganmass.com tepat di Hari Sumpah pemuda 28 Okt 2019.

Padahal “keentengan’ bagi Kami para pemuda, bukanlah hal yang enteng. Sekaliber Sekda & Bupati ketika akan membuat keputusan strategis harus memiliki visi kedepan.Bukan sekedar mudah dan enteng. Miris sekali mendengar hal ini.

Ketika Kota/Kabupaten lain sedang rajin – rajinya membangun pusat kegiatan pemuda di tengah kota, cantik, indah dan penuh fasilitas.Di Kuningan malah sebaliknya membumi hanguskan “Rumah Pemuda”.

Hati ini kembali sedih mendengar Kepala Dinas PUPR menyerukan lagi rencana perataan Gedung Pemuda. Terlebih akan menyulapnya menjadi Pujasera, entah dari mana idenya.

Kalo Bapak yang terhormat tahu, itu pujasera di tengah kota Langlang Buana sekarang sepi, hanya menjadi lahan setengah mati.

Pujasera di taman kota juga sudah ada tempatnya juga tak ramai seperti apa yang direncakan di awal. Sekarang mau mengubah kembali lahan yang jelas – jelas baru saja menghabiskan uang negara untuk renovasi Milyaran rupiah lalu menggantinya.

Dimana perencanaan matangnya ? ini salah satu bentuk kegagalan. Tapi yang membuat Saya sangat sedih adalah:

Tiada satu orangpun dikalangan pemerintah baik Sekda, Bupati maupun Kepala Dinas atau Kabag Humas selaku jubir pemerintah mengungkapkan tentang pembangunan Kembali Rumah Pemuda yang kongkrit dan lebih baik.

Ini mengisyaratkan bahwa pemuda masih dianggap sebelah mata. Padahal bonus demografi sesaat lagi, jumlah pemuda mendominasi.

Kedua, premis utama yang selalu diungkapkan mereka adalah tentang revitalisasi pembangunan fisik. Belum pernah ada gagasan utama tentang pembangunan peradaban manusia seutuhnya khususnya pemuda. Dimana keberpihakan akan HR development ?

Langkah kita harus maju, bukan tetap apalagi mundur. Bukan lagi step by step harus ada lompatan maju dari pemerintah. Bukan lompatan mundur dengan degradasi wadah pemuda.

Ketiga, hal ini masih membicarakan tentang rencana penyerapan anggaran, belum tentang program pemuda dari Pemda yang nyaris hidup enggan, mati
mau.

Sudah sejauh mana membangaun pemuda ? Program unggulan apa yang dihidupkan untuk pengembangan pemuda? Berapa banyak beasiswa yang disalurkan untuk pemuda ? berapa modal stimulan yang diberikan untuk menghidupkan wirausaha muda?

Sudah memberikan apresiasi apa saja untuk pemuda yang berprestasi ? Fikirkan ini dulu, rumuskan dengan baik, anggarkan dengan pas, dan siapkan program berkelas baru Kuningan tidak akan gagal dalam pembangunan generasi millenial.

Tenang saja pa, Saya tidak akan membahas susahnya mengetahui APBD kuningan yang sepatutnya dipublikasikan, kekeringan yang selalu terjadi di Kuningan, Penghasilan PDAU yang tidak terlalu signifikan, PLT kepala dinas yang tak kunjung dibereskan, atau PDAM yang memiliki kendala ketika air dialirkan.

Terakhir, saya sangat bangga jika memiliki pemimpin yang berkenan berbalas ide gagasan melalui tulisan. Semoga didengar dan dibalas pesan***

Salam Rindu Dari Afrika
Zaidan Izzatulhaq Aljundi
Mahasiswa Internasional University of Africa
Faculty of Syaria and Law
Ketua Forum Osis Kuningan 2014