Kapan Terjadinya Dukhan?

KUNINGAN (MASS) – Karena Hari Kiamat tidak ada yang mengetahuinya selain Allah, maka demikian pula tentang tanda-tanda besar Kiamat pun dirahasiakan urutannya.

Namun mayoritas ulama sepakat, dukhan adalah tanda besar Kiamat yang pertama. Tidak ada perbedaan di kalangan para ulama bahwa apabila tanda besar Kiamat yang pertama sudah terjadi, maka tanda-tanda besar Kiamat lainnya akan segera menyusul.

Dari 10 tanda besar kiamat itu, kemunculan al-Mahdi tidak termasuk di dalamnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa kedatangan al-Mahdi akan terjadi sebelum atau akan mengawali datangnya tanda-tanda besar Kiamat dan mengakhiri seluruh tanda kecil Kiamat. Atau bisa juga kedatangan al-Mahdi akan terjadi bersamaan dengan munculnya tanda besar Kiamat yang pertama.

Seperti sudah dijelaskan, ada beberapa riwayat yang mengaitkan turunnya dukhan dengan kemunculan al-Mahdi.

Kapan terjadinya dukhan?

Ada yang mengaitkan dengan suara keras di pertengahan Ramadan di malam Jumat, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Nu’aim bin Hammad di dalam kitab Al-Fitan I/228, No. 638, dan Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, No. 39627.

Hadits ini secara sanad bermasalah, karena dianggap la ashla lahu, tidak ada asal usulnya.

Namun matan hadits itu bisa dikaitkan dengan hadits dukhan dan hujan asam. Maka bisa digunakan sebagai pertimbangan untuk mempersiapkan diri dalam menyikapi tanda-tanda besar Kiamat.

Ini teks lengkapnya:

قَالَ نُعَيْمٌ بْنُ حَمَّادٍ : حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ قَالَ : حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ حُسَيْنٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ الْحَارِثِ الْهَمْدَانِيِّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “إذا كانَتْ صَيْحَةٌ في رمضان فإنه تكون مَعْمَعَةٌ في شوال، وتميز القبائل في ذي القعدة، وتُسْفَكُ الدِّماءُ في ذي الحجة والمحرم.. قال: قلنا: وما الصيحة يا سول الله؟ قال: هذه في النصف من رمضان ليلة الجمعة فتكون هدة توقظ النائم وتقعد القائم وتخرج العواتق من خدورهن في ليلة جمعة في سنة كثيرة الزلازل ، فإذا صَلَّيْتُمْ الفَجْرَ من يوم الجمعة فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم، وسدوا كواكـم، ودَثِّرُوْا أَنْفُسَكُمْ، وَسُـدُّوْا آذَانَكُمْ إذا أَحْسَسْتُمْ بالصيحة فَخَرُّوْا للهِ سجدًا، وَقُوْلُوْا سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ اللهِ اْلقُدُّوْسِ ، ربنا القدوس فَمَنْ يَفْعَلُ ذَلك نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ

Nu’aim bin Hammad berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Umar, dari Ibnu Lahi’ah, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab bin Husain, dari Muhammad bin Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar suku) di bulan Dzul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan Muharram.

Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan salat Subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian.

Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”, karena barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan binasa.”

Riwayat di atas, menyebutkan bahwa setelah peristiwa dukhan itu akan ditandai atau diikuti oleh banyaknya gempa.

Namun demikian, hari Jumat di pertengahan Ramadhan tidak hanya terjadi pada 8 Mei tahun 2020. Itu bisa saja terjadi pada tahun-tahun yang akan datang.

Tetap jika melihat matannya tanpa bicara sanad, dan dirangkai pula dengan riwayat-riwayat lainnya, maka bisa diambil kesimpulan bahwa:

  1. Datangnya dukhan itu pasti, namun waktunya tidak ada yang bisa memastikan. Dukhan adalah asap tebal dan panas yang menyelimuti bumi akibat adanya meteor yang menabrak bumi. Asap itu menyebabkan pilek saja bagi orang beriman, namun menyebabkan penyakit parah bagi orang kafir. Kenapa?
  2. Karena tabrakan meteor itu terjadi di bulan Ramadhan (berdasarkan riwayat suara keras di bulan Ramadhan di atas, dan surat Ad-Dukhan), di mana orang-orang beriman sedang berpuasa. Kondisi setelah berpuasa selama 14 hari berturut-turut inilah yang memberikan kekebalan kepada orang-orang beriman. Dan kondisi ini pula yang membedakannya dengan orang-orang Non Muslim. .
  3. Asap awan itu menyebabkan terjadinya turun hujan yang merata di berbagai belahan bumi, namun hujan itu tidak menumbuhkan apa-apa, karena air hujannya mengandung tingkat keasaman yang tinggi.

Seperti diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُمْطَرَ النَّاسُ مَطَرًا عَامًّا وَلاَ تُنْبِتُ اْلأَرْضُ شَيْئًا

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga manusia dihujani dengan hujan secara merata, tetapi bumi tidak menumbuhkan sesuatu.” (Musnad Ahmad III/140, Muntakhab Kanz).

Karena itulah selama tiga tahun akan terjadi masa paceklik, seperti diungkap dalam riwayat Abi Umamah di atas.

Adapun tentang kapan terjadinya dukhan itu tidak terlalu penting, karena memang tidak ada dalil yang kuat tentang informasi waktu kejadiannya. Yang lebih penting adalah apa yang harus dilakukan jika hal itu terjadi, mengingat kepastian akan terjadinya, sudah tidak ada lagi perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

Sebagaimana tidak ada yang bisa memastikan dukhan itu akan terjadi pada pertengahan bulan Ramadlan sekarang ini, namun demikian pula tidak ada yang bisa memastikan bahwa dukhan itu tidak akan terjadi pada tahun ini.

Karena itu selagi masih ada waktu, perbanyaklah riyadlah, beristighfar, berzikir dan berdoa. Misalnya seperti doa Dzun Nun atau Nabi Yunus AS dalam kegelapan perut ikan:

دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa Dzun Nun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah: “Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minaz zaalimiin.” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya).”

“Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan Allah kabulkan baginya.” (HR. At-Tirmizi).

والله اعلم

Rujukan

https://suaramuslim .net/terjadi-ledakan-di-pertengahan-ramadhan-kajian-akhir-zaman-tentang-dukhon

https://kajianlagi .blogspot.com/2017/04/dukhan-akan-muncul-setelah-3-tanda

https://tauhidunaa .wordpress.com/2018/01/16/meteor-dukhan-dan-runtuhnya-sistem-kapitalis-dunia

https://palembang.tribunnews.com/2018/02/19/kiamat-semakin-dekat-inilah-tanda-tanda-kedatangan-imam-mahdi-sebagian-sudah-muncul

https://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/imam-mahdi-sosok-yang-diyakini-tiga-agama-besa

 

Derajat dan status Hadits marfu itu sudah dijelaskan dalam Kosmologi Islam seri 126 dan 127 dan lampirannya.

Namun dasar akan terjadinya dukhan bukan hanya hadits marfu atau mauquf itu. Ada beberapa hadits lain yang derajatnya hasan. Bahkan ada ayat, yaitu ayat 10 surat ad-Dukhan.

Bahwa dukhan itu pasti terjadi, sudah tidak ada perdebatan, karena sudah ditegaskan dalam Alqur’an, surat ad-Dukhan ayat 10:

فَا رْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِى السَّمَآءُ بِدُخَا نٍ مُّبِيْنٍ ۙ

“Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas,”

Jumhur Mufassir sependapat bahwa dukhan yang dimaksud dalam ayat 10 surat 44 itu adalah salah satu berita ghaib yang belum terjadi, namun pasti akan terjadi.

Yang diperdebatkan adalah kapan terjadinya?

Di sinilah terjadi perbedaan pendapat:

Pertama, pendapat yang mengaitkan dengan hadits marfu yang dijelaskan dalam kitab al-Fitan itu, bahwa dukhan bisa saja akan terjadi pada pertengahan ramadlan sekarang ini. Tapi ini harus diberi catatan, bahwa bila hadits marfu ini tidak bisa dijadikan dasar, hingga dukhan itu tidak akan terjadi pada pertengahan ramadlan ini, memang dukhan sebagai tanda besar kiamat waktunya dirahasiakan.

Mereka yang berpendapat demikian, menjadikannya sebagai patokan yang dikaitkan dengan tanda-tanda besar kiamat yang juga dikaitkan dengan hadits-hadits lain dan ayat 10 surat ad-Dukhan itu. Sehingga tidak ada salahnya kita bersiap-siap dan meningkatkan kewaspadaan, tanpa harus berlebih-lebihan menyikapinya.

Pendapat kedua mengatakan bahwa hadits ledakan pada pertengahan ramadlan ini derajatnya lemah bahkan palsu, sehingga tidak bisa dijadikan dasar, lalu dengan mudah mengatakan sebagai kedustaan belaka.

Namun catatannya, bagaimana menjelaskan ayat 10 surat ad-Dukhan itu dihubungkan dengan tanda-tanda besar kiamat dan fitnah akhir zaman? Ini yang mereka abaikan dan sama sekali tidak disinggung, sehingga cenderung menganggap remeh.

Menganggap remeh dukhan dan tanda-tanda akhir zaman, itu berbahaya karena bisa semakin membuat kita tidak peka.

Bukankah seluruh penyebab yang mendatangkan murka Allah pada umat-umat terdahulu, semuanya kini sudah berhimpun di zaman kita?

والله اعلم

Hadanallahu Waiyyakum Ajma’in

Awang Dadang Hermawan : 19530430TITIK