Gagal Paham Cijangkelok

KUNINGAN (Mass) – Sangat menarik menyikapi pernyataan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung Ir Carisal Akdianmanu MSi yang mengatakan telah terjadi kerusakan yang cukup parah di Hulu Sungai Cijangkelok sehingga perlu sekali dilakukan upaya penghijauan terkait terjadinya Banjir bandang di Kecamatan Cibingbin pada Bulan Januari 2017 yang lalu, dimana pernyataan tersebut beliau sampaikan saat acara penanaman 1000 pohon dalam rangka Hari Air Sedunia di Situ Balong Dalem Kabupaten Kuningan, Rabu (22/03/2017).

Dari pernyataan di atas ada 2 hal menarik yang disampaikan asal-asalan, diantaranya, yang pertama kawasan hulu sungai Cijangkelok terjadi kerusakan cukup parah dan perlu penghijauan. Lalu,  yang kedua mengenai penyebab terjadinya banjir bandang Cibingbin.

Pernyataan kerusakan yang cukup parah di hulu Sungai Cijangkelok harusnya dibarengi dengan data yang valid bukan hanya asal pernyataan, dimana yang rusaknya, separah apa kerusakanya dan berapa luas yang rusaknya.

Hulu Sungai Cijangkelok yang cukup luas dimana catcment areanya tidak hanya ada di wilayah Kabupaten Kuningan akan tetapi berada di wilayah Kabupaten Brebes jawa Tengah. Disamping itu Sungai Cijangkelok juga ditopang oleh beberapa anak sungai diantaranya sungai Ciangir, sungai Cijantel, sungai Cigalagah, sungai Lebak Ciwaringin dll.

Hasil penelusuran lapangan di hulu sungai sungai Cijangkelok beserta anak sungainya, kondisi dikawasan hutan negara maupun hutan masyarakat cukup bagus dengan rapatnya tegakan dari berbagai jenis pepohonan dan tidak ditemukan kawasan lahan kritis.

Kalaupun ada penebangan pohon di lahan masyarakat itu pun tidak sampai membuat jadi lahan terbuka tanpa tegakan, karena tebangan pohon masyarakat juga dipilh pilih yang sudah memasuki umur tebangan.  Jadi pernyataan Kepala BBWS Cimanuk Citanduy yang mengatakan telah terjadi kerusakan yang cukup parah di Hulu Sungai Cijangkelok sehingga perlu sekali dilakukan upaya penghijauan terkait terjadinya banjir bandang di Kecamatan Cibingbin adalah pernyataan asal-asalan tanpa data dan bukti.

Sementara untuk penyebab terjadinya banjir bandang Cibingbin Januari 2017 serta mencari solusi antisipasi meminimalisir kejadian serupa dikemudian hari diperlukan kerja bersama dimulai dengan melakukan kajian bersama mengenai penyebab terjadinya banjir cibibgbin sekaligus solusi kedepanya.

Penyebab terjadinya banjir bandang Cibingbin sebenarnya kalau kita mau telusuri kelapangan terutama kebagian hulunya (bukan hanya mau menerima informasi tanpa data dan bukti) banyak hal yang perlu didiskusikan, dipikirkan dan dikerjakan bersama-sama.

Seperti catatan di atas, kondisi hutan bagian hulu sungai Cijangkelok sebenarnya tidak bermasalah kalau kita coba susuri alur rombakan sungai Cijangkelok, terutama di anak sungai lebak Ciwaringin Desa Cipondok, sungai Cijantel dan sungai Ciangir desa Ciangir Kecamatan  Cibingbin dimana diketiga anak sungai Cijangkelok tersebut terdapat kerusakan alur sungai yang cukup parah.

Berdasarkan pengamatan lapangan, beberapa lokasi di bawah ini yang merupakan pemasok utama air ke sungai Cijangkelok yaitu :

1. Sungai Cijantel yang bermuara dengan sungai Cijangkelok pada koordinat 7° 4’31.04″S 108°44’54.48″T diketinggian 90 mdpl merupakan anak sungai Cijangkelok dimana diatasnya kurang lebih sejauh 300 meter juga terdapat muara sungai antara Sungai Cijantel dengan sungai Ciangir pada koordinat 7° 4’39.65″S 108°44’54.52″T diketinggian 95 mdpl.

A. Pada hulu Sungai Cijantel koordinat 7° 6’14.48″S, 108°45’15.23″T dengan ketinggian 330 mdpl yang berjarak kurang lebih 4 Km di bagian hulunya teramati adanya bekas longsoran cukup besar dan longsoran kecil sepanjang alur sungai serta luapan air yang melimpasi sisi sungai.

B. Pada hulu Sungai Ciangir koordinat 7° 6’7.77″S, 108°44’19.65″Tdengan ketinggian 320 mdpl yang berjarak kurang lebih 4 Km di bagian hulunya teramati adanya bekas longsoran cukup besar dan longsoran kecil sepanjang alur sungai serta luapan air yang melimpasi sisi sungai.

2. Sungai Ciwaringin, yang bermuara dengan sungai Cijangkelok pada koordinat 7° 4’16.85″S 108°45’12.89″T diketinggian 81 mdpl merupakan anak sungai Cijangkelok dimana diatasnya kurang lebih sejauh 4,5 km pada koordinat 7° 5’51.56″S 108°45’48.28″T diketinggian 243 mdpl teramati adanya bekas longsoran cukup bedsar dan longsoran kecil sepanjang alur sungai serta luapan air yang melimpasi sisi sungai.

Berdasarkan data lapangan tersebut kalau kita kaji berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kec. Cibingbin Kab. Kuningan, lokasi banjir merupakan wilayah sepanjang aliran sungai yang berpotensi terjadinya aliran bahan rombakan. Pada lokasi tertentu, terutama yang memiliki kemiringan lereng agak terjal, termasuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah-Tinggi.

Kajian sementara berdasarkan kondisi lapangan dan berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah, terjadinya banjir bandang Cibingbin disebabkan karena adanya gerakan tanah yang cukup besar pada waktu bersamaan di anak sungai Cijangkelok (Ciangir, Cijantel, Lebak Ciwaringin) dimana hasil rombakanya menyumbat aliran sungai dan jebol, sehingga mengalirkan volume air yang cukup besar ke sungai Cijangkelok yang tidak bisa menampungnya yang akhirnya meluap.

Jadi penyebab banjir bandang Cibingbin berdasarkan hasil kajian tersebut terjadi karen kombinasi berbagai kondisi diantaranya : Tingkat sedimentasi sungai Cijangkelok yang cukup parah, Curah hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu yang lama, terjadinya gerakan tanah dibagian hulu sungai, kebiasaan membuang sampah ke sungai.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa di kemudian hari dan meminimalisir dampaknya diperlukan kerja bersama untuk melakukan normalisasi sungai dan pembuatan tanggul sungai/dam pengendali dibeberapa lokasi yang dianggap penting dan prioritas, membangun kesadaran dan kepedulian bersama untuk tidak membuang sampah kesungai dan memelihara kondisi hutan disekitar badan sungai dan bagian hulunya.

Tidak kalah pentingnya adalah penertiban dan memfungsikan kembali garis sempadan sungai sesuai dengan Permen Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 28/Prt/M/2015 Tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai dan garis sempadan danau. ***

penulis: Avo Juhartono (Penggiat lingkungan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com