Eksistensi Malaikat dan Jin

Eksistensi MALAIKAT

Alhamdulillah awal minggu pertama tahun 2020 kita dalam kondisi sehat wal afiat dan saya dari kota Kuda Kuningan kepada saudara saudara kita yang lagi ditimpa musibah banjir serta keprihatinan hidup lainnya mendoakan semoga diberi kekuatan untuk menghadapinya dan kembali dalam hidup serta Kehidupan yang mulia penuh berkah.

Allah Arrahmaani Arrahiimi
telah mengabarkan kepada manusia akan keberadaan Malaikat. Bahkan Allah jadikan keimanan kepada Malaikat sebagai salah satu rukun iman, yang tanpanya iman seseorang tidak akan diterima.
Dalam konteks ini menjadi penting bagi setiap muslim untuk mengenal alam Malaikat.

Dalam butir butir penafsirannya Abdullah Bin Qosyim mengatakan bahwa : Dengan mengenal mahluq malaikat kita akan lebih mengetahui kebesaran Allah yang memiliki tentara-tentara Malaikat. Dengan mengenal malaikat pula, kita akan merasakan kasih sayang Allah yang telah melindungi kita dengan mengutus para Malaikat untuk menjaga kita, mencatat amal amal kita, membisiki kita untuk berbuat baik dan lain sebagainya. Juga dengan mengenal Malaikat kita akan mencintai mereka, sebagai hamba Allah yang selalu taat kepada Nya.

Malaikat adalah jamak dari kata Malak, yang secara bahasa bermakna mursil, utusan1). Mereka adalah makhluk ghaib yang Allah ciptakan dari cahaya, tidak memiliki sifat ketuhanan2), selalu taat kepada perintah Allah dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah.3)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya Arasy, dan Jin diciptakan dari nyala api, dan Adam dari apa yang sudah diceritakan kepada kalian”4).

Jumlah Malaikat sangat banyak, tidak ada yang mengetahui selain Allah Ta’ala5): “dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhan mu melainkan dia sendiri.” (Qs. Al Muddatsir: 31).

Bahes menunjukan kepada banyaknya jumlah Malaikat, adalah apa yang dikatakan jibril AS ketika ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (dalam peristiwa Mikraj) tentang Baitul Makmur6), “Ini adalah Baitul Makmur, Shalat di dalamnya tiap hari tujuh puluh ribu Malaikat dan tidak kembali lagi”7). Maksudnya tujuh puluh ribu Malaikat yang shalat setiap hari berbeda beda.

Nash-nash yang ada menunjukan bahwa Malaikat memiliki jasad8). Bahkan jasad mereka sangat besar, meskipun berbeda beda. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menceritakan bagaimana besarnya malaikat pemikul Arasy, “aku diizinkan untuk menceritakan salah satu Malaikat Allah, yaitu Malaikat pemikul Arasy, sesungguhnya antara cuping telinga dan pundaknya sejauh perjalanan tujuh ratus tahun”9).

Mereka juga memiliki sayap. Meskipun berbeda beda jumlah sayapnya. Di antara mereka ada yang memiliki dua sayap, tiga atau empat sayap, bahkan ada yang memiliki enam ratus sayap sebagaimana malaikat Jibril. Allah Ta’ala berfirman, “Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat…” (Qs. Fathir: 1).

Mengenai Malaikat jibril, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melihat dalam bentuk aslinya selama dua kali. Yang pertama ketika di Abthah,10). Rasulullah melihat Jibril menampakkan dirinya dalam bentuk aslinya, dengan enam ratus sayap yang menutupi ufuk. Yang kedua adalah ketika beliau dinaikkan ke langit pada malam Mi’roaj11). Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha” (Qs. An-Najm: 13-14). Adapun selebihnya, Malaikat Jibril lebih sering datang dalam bentuk seorang sahabat bernama Dihyatul Kalbii12), atau terkadang dalam bentuk seorang laki laki asing yang tidak dikenal.13)

Malaikat juga memiliki akal tapi tidak memiliki hawa nafsu sebagaimana manusia14). Karena jika tidak memiliki akal, tidak mungkin Allah memuji mereka dengan menyebutkan sifat mereka, “tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Qs. At-Tahrim: 6).

Namun meskipun Malaikat memiliki jasad, mereka tidak membutuhkan makan dan minum sebagaimana manusia15). Sebagaimana disebutkan dalam kisah Nabi Ibrahim yang didatangi oleh Malaikat yang menyerupai manusia. ketika dihidangkan makanan kepada mereka, mereka tidak mau menyentuhnya16).

Beberapa Tugas Malaikat

Malaikat adalah makhluk Allah yang juga dibebankan tugas dan tanggung jawab. Namun tidak sebagaimana manusia, mereka diberi kekuatan penuh untuk melaksanakannya. Mereka juga tidak diberikan hawa nafsu, sehingga tidak ada salah satupun dari mereka yang menyelisihi perintah Allah. Semuanya melaksanakan tugas masing-masing dengan benar sesuai perintah Allah17).

Jika kita melihat tugas dan tanggung jawab Malaikat yang bermacam-macam, kita akan menemukan hubungan yang erat antara mereka dengan kita sebagai manusia2. Hubungan yang menunjukan kedekatan kita dengan mereka. Bahkan bisa dikatakan hampir seluruh18), (atau mungkin seluruh-wallahu ‘alam) tugas mereka adalah untuk kepentingan manusia. Hal ini selain menumbuhkan rasa cinta kepada mereka para Malaikat, juga menumbuhkan kesadaran akan Rahmat Allah yang begitu luas kepada kita, dengan menciptakan makhluk bernama Malaikat untuk kepentingan manusia.

Dari sekian banyak Malaikat, ada tiga yang menjadi pemimpin mereka19). Yaitu Malaikat Jibril yang bertugas menyampaikan wahyu. Malaikat Israfil yang bertugas meniup sangkakala di hari akhir. Dan Malaikat Mikail yang bertugas menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman. Ketiga Malaikat ini menjadi pemimpin Malaikat dikarenakan tugas mereka yang berkaitan dengan kehidupan. Jibril bertugas menyampaikan wahyu yang dengannya hati manusia akan hidup. Mikail menumbuhkan tumbuhan dan menurunkan hujan dengannya bumi akan hidup. Dan Israfil pun meniup sangkakala yang dengannya jasad manusia akan kembali hidup di hari kiamat.

Di antara Malaikat ada yang bertugas setiap waktu menjaga manusia. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Qs. Ar Ro’du: 11),20)

Mujahid berkata, “tidaklah seorang hamba, kecuali dia memiliki Malaikat yang diperintahkan untuk menjaganya–baik ketika tidur maupun terjaga- dari gangguan jin, manusia, dan hewan hewan penggganggu. Jika ada sesuatu yang akan mencelakakannya, Malaikat akan mengatakan kepadanya, “awas hati-hati!”, kecuali sesuatu yang sudah diizinkan oleh Allah untuk menimpanya.”21)

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ketika Rasulullah hijrah ke Thaif dan mendapatkan perlakuan yang tidak layak dari penduduk Thaif, beliau didatangi oleh Malaikat. Setelah mengucapkan salam, Malaikat tersebut berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang telah dikatakan oleh kaummu. Aku adalah Malaikat gunung. Aku telah diutus Tuhanmu untuk mendatangimu, agar engkau menyuruhku untuk membantu menyelesaikan urusanmu. Maka, apa yang engkau inginkan aku perbuat kepada mereka? Jika engkau mau, akan kuhimpit mereka itu dengan dua gunung batu (Abu Hubaisy dan Al-Ahmar).” Maka beliau bersabda, “Jangan! Aku berharap Allah Ta’ala melahirkan dari mereka generasi yang menyembah Allah Ta’ala dan tidak 1menyekutukan-Nya dengan suatu apapun.”22)

(Selanjutnya dikisahkan, atas do’a Rasulullah kemudian keturunan suku Thaif inilah yang berjuang dengan gagah berani di tanah Palestina).

Catatan Kaki

1. Muhammad bin Salih Utsaimin, Syarhul Akidah Al Wasathiyah, Hal 45, Muhammad bin Ibrahim Al Hamd, Rasaail Fil Akidah hal. 268.

2. Karena yang memiliki sifat ketuhanan hanyalah Allah Ta’ala. Adapun Malaikat adalah hamba Allah juga yang tidak selayaknya disembah.

3. Muhammad bin Ibrahim Al Hamd, Hal. 268.

4. HR Muslim No. 2966.

5. Muhammad Shalih Utsaimin Hal. 48.

6. Yaitu sebuah tempat ibadah penduduk langit (Malaikat) yang berada di atas langit ketujuh. Sebagaimana di bumi memiliki Ka’bah sebagai tempat ibadah, maka di setiap langit pun memiliki tempat ibadah. Tempat ibadah di langit pertama bernama baitul Izzah. (Lihat: Qs. At Thur : 4 dan tafsirnya, tafsir Ibnu Katsir).

7. HR. Bukhari No. 3207.

8. Muhammad bin Ibrahim Al Hamd, hal. 270 dan Muhammad Sholih Utsaimin hal. 49.

9. Shahih Sunan Abu Dawud No. 9353.

10. Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (2/107) dengan sanad yang shahih.

11. Hafidz Al Hakimi, hal. 810.

12. Ibn Abil Izz hal. 173.

13. Dr. Sulaiman Al Asyqar, ‘Alamul Malaikat, hal. 18.

14. Lihat kisah ini dalam Qs. Ad Dzariyat : 24-28 dan tafsirnya dalam tafsir Ibnu Katsir.

15. Muhammad bin Ibrahim Al Hamd, hal. 268.

16. Ibid, hal. 271.

17. Ibn Abil Izz menyatakan bahwa seluruh gerakan di alam semesta ini adalah Malaikat yang menggerakan (tentunya atas perintah Allah) lihat Syarh Tahawiyah (Muassasah Ar Risalah, cet.4 1434 H) hal. 169.

20. Muhammad Shalih Utsaimin, Syarhul Akidah Al Washatiyah hal. 45 dan Ibn Abil Izz Hal. 62.

21. Lihat tafsir Ibnu Katsir Qs Ar Ra’du: 11.
[10/1 22.06]

Eksistensi JIN

Tulisan ini berasal dari fatwa Sheikh M. S. Al-Munajjid, seorang dosen dan penulis Muslim terkemuka di Saudi.

Allah SWT telah menciptakan berbagai macam makhluk, beberapa di antaranya diketahui oleh kita dan beberapa yang lain tidak diketahui.

Dalam kapasitasnya sebagai wakil Allah di bumi, manusia ditahbiskan oleh Allah untuk menyembah Dia Sendiri tanpa sekutu. Akibatnya, kita tidak boleh terserap dalam cerita tentang jin, karena ini bukan bentuk pemujaan.

Alquran dan Sunnah menunjukkan bahwa jin ada, dan bahwa ada tujuan keberadaan mereka dalam kehidupan ini, yaitu menyembah Allah Sendiri tanpa pasangan atau rekan. Allah SWT berfirman: “Dan aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali mereka harus menyembah-Ku.” (Adh-Dhariyat: 56).

Para Ulama tidak sepakat mengenai perbedaan antara jin dan syetan. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa kata jin lebih jauh  mencakup jin dan syetan. Kata itu juga termasuk jin yang beriman dan tidak beriman. Allah SWT berfirman, “Dan di antara kita ada orang benar dan di antara kita ada yang jauh dari itu. Kita adalah kelompok yang memiliki peraturan yang berbeda.” (Al-Jinn: 11). “Dan ada di antara kita beberapa yang telah menyerah (kepada Allah) dan ada diantara kita beberapa yang tidak adil. Dan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, maka jalan itu benar.” (Al-Jinn: 14).

Namun, kata setan atau shaytan digunakan untuk menyebut orang-orang yang tidak percaya di antara jin. Allah SWT berfirman, “… dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya…” (Al-Isra’: 27).

Dunia jin adalah dunia yang independen dan terpisah dengan sifat dan sifatnya yang berbeda yang tersembunyi dari dunia manusia. Jin dan manusia memiliki kesamaan, seperti kemampuan untuk memahami dan memilih antara yang baik dan yang jahat. Kata jin berasal dari bahasa Arab yang berarti “tersembunyi dari pandangan”. Allah SWT berfirman: “… Sesungguhnya dia (setan) dan tentaranya dari jin atau sukunya melihat Anda dari tempat Anda tidak dapat melihat mereka…” (Al-A`raf: 27).

Allah telah memberi tahu kita di dalam Kitab-Nya esensi dari mana jin diciptakan. Dia berkata: “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr: 27).

Aisyah (semoga Allah berkenan dengan dia) mengatakan bahwa Nabi (saw) berkata: “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada Anda.” (HR. Muslim).

Jenis Jin

Allah telah menciptakan berbagai jenis jin. Di antara mereka ada beberapa yang bisa mengambil berbagai bentuk seperti anjing dan ular; beberapa yang seperti angin terbang dengan sayap; dan beberapa yang bisa bepergian dan beristirahat. Abu Tha’labah al-Khushni mengatakan bahwa Nabi (saw) mengatakan: “Jin terdiri dari tiga jenis: jenis yang memiliki sayap dan terbang di udara; jenis yang terlihat seperti ular dan anjing; dan tipe yang berhenti untuk beristirahat kemudian melanjutkan perjalanannya. (Dilaporkan oleh At-Tahawi di Mushkil Al-‘Athar).

Jin dan Anak-anak Adam

Setiap individu di antara anak-anak Adam memiliki jin yang telah ditunjuk untuk menjadi teman tetapnya (qarin). Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi (saw) bersabda: “Rasulullah saw. Bersabda: ‘Tidak ada satu di antara kamu yang tidak memiliki jin yang ditunjuk untuk menjadi pendampingnya terus menerus. “Mereka berkata, ‘Dan Anda juga, wahai Rasulullah?’ Dia berkata, ‘Aku juga, tapi Allah telah membantu saya dan dia telah menyerahkannya, sehingga dia hanya membantu saya untuk berbuat baik.” (Dilaporkan oleh Muslim).

Kekuatan Jin

Allah telah memberikan kekuatan jin yang tidak diberikannya kepada manusia. Allah telah memberi tahu kita tentang beberapa kekuatan mereka seperti kemampuan untuk bergerak dan melakukan perjalanan dengan cepat. Salah satu jin berkata kepada Nabi Sulaiman as bahwa dia akan membawa tahta Ratu Yaman ke Yerusalem dalam sekejap, lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan seseorang untuk bangkit dari tempat dia duduk.

Allah SWT berfirman: “Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. (38) Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” (An-Naml: 39-40).

Makanan dan Minuman Jin

“Dari Ibnu Mas’ud ra berkata: “Pada Suatu hari kami (para sahabat rasul) berkumpul bersama Rasulullah SAW. tiba-tiba kami kehilangan beliau, lalu kami mencarinya di lembah-lembah dan kampung-kampung (namun kami tidak menemukan Rasul). Kami lalu berkata: “Rasulullah Saw telah diculik dan disandera”. Pada malam itu, tidur kami betul-betul tidak menyenangkan.

Ketika pagi hari tiba, terlihat Rasulullah SAW sedang bergegas menemui kami dari arah sebuah gua yang berada di tengah padang pasir. Kami lalu berkata: “Ya Rasulullah Saw, malam tadi kami betul-betul kehilangan Anda, lalu kami cari-cari kesana kemari akan tetapi kami tidak menemukan anda. Lalu kami tidur dengan sangat tidak menyenangkan.:

Rasulullah SAW kemudian bersabda: “Malam tadi aku didatangi oleh utusan dari kelompok Jin, ia membawaku pergi menemui kaumnya untuk mengajarkan al-Qur’an”.

Ibnu Mas’ud kemudian berkata kembali: “Lalu kami diajak oleh Rasulullah untuk melihat bekas-bekas tempat dan perapian mereka (kelompok jin)”.

Para jin itu kemudian bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai makanan mereka. Rasulullah SAW menjawab: “Makanan kalian itu (wahai golongan jin) adalah setiap tulang yang masih ada sisa-sisa dagingnya yang berada di tangan kalian dan ketika memakannya tidak disebutkan nama Allah serta semua tahi (kotoran) binatang ternak kalian”.

Rasulullah SAW kemudian melanjutkan sabdanya: “Oleh karena itu, janganlah kalian (para sahabat) beristinja (membersihkan najis seperti habis buang air kecil atau besar dengan menggunakan batu atau benda lainnya selain air) dengan keduanya (tulang dan kotoran binatang), karena keduanya itu adalah makanan saudara kalian (golongan jin)” (H.R. Muslim No. 682).

Jin beriman dapat memakan tulang mana pun yang nama Allah telah disebutkan, karena Rasulullah saw. Tidak mengizinkan mereka untuk memiliki sesuatu yang nama Allah belum disebutkan – yaitu untuk jin yang kafir.

Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud, yang telah dikutip di atas, jin tersebut meminta Rasulullah saw. Untuk bekal, dan dia berkata kepada mereka: “… dan (Anda dapat memiliki) semua tahi (kotoran) binatang ternak kalian”.  ”

Tempat Tinggal Jin

Jin tinggal dimana kita tinggal di bumi ini. Mereka kebanyakan ditemukan di reruntuhan dan tempat-tempat najis seperti kamar mandi, tempat pembuangan kotoran, tempat pembuangan sampah dan kuburan. Oleh karena itu Nabi (saw) mengajari kita untuk berhati-hati saat memasuki tempat-tempat seperti itu, dengan membaca zikir (menyebutkan nama Allah) yang ditentukan oleh Islam.

Salah satu dari ini dilaporkan oleh Anas ibn Malik ra., Yang mengatakan: “Ketika Rasulullah (saw) masuk ke toilet, dia akan berkata, ‘Allahumma inni a’udhu bika min al-khubuthi wal-khaba’ith (ya Allah, aku mencari perlindungan denganmu dari semua kejahatan dan kejahatan (kejahatan dan kejahatan)]. ”

Beberapa jin berkata: “Dan ada diantara kita beberapa yang telah menyerah (kepada Allah) dan ada diantara kita beberapa yang tidak adil. Dan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, maka jalan itu benar.” (Al-Jinn: 14).

Perlindungan dari Bahaya Jin

Karena jin bisa melihat kita sementara kita tidak dapat melihat mereka, Nabi (saw) mengajari kita banyak cara untuk melindungi diri kita dari bahaya mereka. Mereka mencari perlindungan dari Allah dari syetan terkutuk, membaca surat Al-Falaq dan An-Nas, dan mengucapkan kata-kata yang diucapkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.  Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (Al-Mu’minun: 97-98).

Mengucapkan Bismillah (Dengan Nama Allah) sebelum memasuki rumah, makan atau minum seseorang, dan melakukan hubungan intim akan menjaganya dari Setan untuk masuk rumah atau mengambil bagian dalam makanan, minuman dan aktivitas seksualnya. Begitu pula menyebut nama Allah sebelum masuk toilet atau melepas pakaian seseorang akan mencegah jin untuk melihat seseorang dalam keadaan menanggalkan baju atau merugikannya. Nabi saw. Bersabda: “Untuk memasang penghalang yang akan mencegah jin untuk melihat anak-anak Adam, biarlah salah seorang dari kalian mengatakan ‘Bismillah’ saat memasuki toilet.” (Dilaporkan oleh At-Tirmidzi).

Kekuatan iman dan agama pada umumnya juga akan mencegah jin melukai seseorang, sehingga jika mereka bertengkar, orang yang memiliki keyakinan akan menang. Ibnu Mas’ud (ra dengan dia) berkata: “Seorang pria dari kalangan Sahabat Muhammad bertemu dengan seorang pria dari kalangan jin. Mereka bergumul, dan manusia merobohkan jin. Manusia berkata kepadanya, ‘Anda terlihat kecil dan kurus pada saya, dan lengan Anda terlihat seperti kaki depan seekor anjing. Apakah semua jin terlihat seperti ini, atau hanya Anda? ‘Dia berkata,’ Tidak, demi Allah, di antara mereka saya kuat, tapi mari kita bergulat lagi, dan jika Anda mengalahkan saya, saya akan mengajarkan sesuatu yang akan Anda lakukan dengan baik.

‘Orang itu lalu berkata,’ Baiklah. ‘Dia berkata,’ mengucapkan (ayat Kursi) artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. “(Al-Baqarah: 255) Manusia berkata, ‘Baiklah.’ Dia berkata, ‘Anda tidak akan pernah melafalkan ini di rumah Anda tkecuali syetan akan keluar dari sana seperti seekor keledai yang memecahkan angin, dan dia tidak akan pernah kembali sampai besok pagi. ‘”(Dilaporkan oleh Ad-Darami).

Untuk informasi lebih lanjut lihat `Aalam Al-Jinn wa Ash-Shayatin oleh `Umar Sulayman Al-Ashqa.

Hadanllahu Waiyyakum Ajma:in.

Awang Dadang Hermawan : 19530430TITIK

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com