Dilematis Sampah Plastik: Antara Eco-Friendly, Bisnis dan Instagramable

KUNINGAN (MASS) – Tahukah kita? Sebagaimana dilansir Ciremaitoday.com (25 Februari 2020), eskalasi volume produksi sampah di Kabupaten Kuningan meningkat setiap tahunnya. Hingga kini telah mencapai 400 ton setiap harinya.

Sedangkan Dinas Lingkungan Hidup hanya dapat meng-cover 70 ton sampah per hari, maka 330 ton sisanya tidak terkelola—sesuai dengan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN).

Tentu fakta ini merupakan a big threat bagi lingkungan hidup di Kabupaten Kuningan yang harus segera diatasi, apalagi mengingat Kuningan adalah Kabupaten yang menjadikan keasrian alamnya sebagai tourist attraction.

Problematika sampah, khususnya sampah jenis anorganik memang sedang menjadi sorotan serius oleh setiap Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, termasuk Kabupaten Kuningan. Terlihat lewat media massa, Pemerintah Kabupaten Kuningan sedang gencar mengurus masalah sampah ini.

Mulai dari Study Banding ke Pemkab Ciamis yang sudah lebih dahulu memprogramkan Ciamis 2020 Zero Waste dengan membuat Bank Sampah dan melakukan pembudidayaan melalui pemanfaatan Black Soldier Fly (BSF) atau Maggot sejak 2017, hingga rapat tindak lanjut perihal program tersebut pada 21 Februari 2020 (dilansir Kuningankab.go.id).

Namun sampai saat ini, belum terlihat secara signifikan gerakan penanggulangan sampah tersebut di desa-desa ataupun di sudut kota. Hal ini tentu akan melahirkan stigma-stigma negatif masyarakat terhadap pemerintah atas ketidakjelasan ini.

Alih-alih membantu pemerintah dalam mengatasi problematika sampah plastik ini, banyak dari masyarakat (kita dan mereka) justru menambah berat problem tersebut, salah satunya para pengusaha kafe minuman di Kuningan.

Data pribadi penulis menyebutkan, dari 20 kafe yang penulis datangi ada 17 kafe yang menggunakan cup plastik untuk menghidangkan menu minumannya baik untuk customer dengan transaksi take away ataupun on the spot.

Ini sangat miris namun dilematis, beberapa alasan pengunaan plastik secara dominan di kafe-kafe tersebut adalah karena (1) dianggap lebih efisien dan fast serving, (2) mengikuti egoisme zaman yang menuntut hidangan kafe memberi kesan Uploadable atau Instagrammable agar menarik pembeli, (3) harga plastik dianggap lebih murah ketimbang gelas.

Satu sisi ini menyangkut tentang bisnis yang saling bekerjasama dari pebisnis plastik hingga pengguna plastik—kafe, di sisi lain asumsi bahwa sampah plastik merupakan ancaman besar bagi kelangsungan lingkungan hidup bumi, jelas ini sangat dilematis.

Maka, dalam skala lebih kecil dari problematika sampah tingkat Nasional, skala Kabupaten/Kota hingga desa-desa yang menjadi akarnya mesti kita pecahkan solusi pro-aktif dan win-win solution-nya sehingga kemudian dapat menjalar hingga seluruh dunia.

Sampah Plastik dan Dosa pada Bumi
Sampah tidak lagi sekadar sesuatu yang useless, unused, dan sisa-sisa kegiatan manusia. Lebih dari itu, sampah sudah menjadi sesuatu yang menjadi ancaman serius terhadap lingkungan hidup. Ancaman yang cukup konsisten hingga kini adalah sampah plastik.

Masalah ini lahir dari serangkaian proses yang cukup panjang. Dimulai dari aktivitas konsumsi, terbuang di lingkungan masyarakat lalu mengalir bersama aliran sungai hingga ke laut.

Ibu Pertiwi kita, Indonesia, kini tak hanya mengandung badan tetapi juga mengandung sampah. Menurut data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS)—yang dikutip sekolahrelawan.com, 2020—menyatakan produksi sampah plastik Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun, dan sekitar 3,2 juta tonnya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Fakta ini membuat Indonesia menjadi Negara dengan sampah terbesar di dunia, ke-2 setelah Tiongkok. 

Laut biru nan indah yang kita kenal, bisa jadi beberapa tahun yang datang akan mengalami transformasi-degradasi menjadi lautan sampah plastik. Pasalnya, 60-90 persen sampah di laut rupanya mengandung plastik. Keadaan ini tentu berpengaruh pada ekosistem laut, bayangkan saja sekitar lebih dari 50 persen penyu, paus dan burung-burung laut mati karena bahaya sampah plastik pada ekosistem laut kita.

Sebagai catatan, World Economic Forum (WEF) mengindikasikan produksi plastik di dunia akan mencapai 1.124 juta ton pada 2050, eskalasinya naik hingga empat kali lipat dari 2014 sebanyak 311 juta ton. Bisa jadi, jika trend urbanisasi; produksi; dan konsumsi manusia terus berlanjut seperti ini, sampah plastik dan ikan laut perbandingannya hingga 1:1, atau bahkan 1:0,5.

Sebelum berakhir di laut, sampah plastik merupakan output dari kesadaran manusia. Kesadaran diri untuk meminimalisasi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-sehari dapat dikatakan belum menjadi trend dan gaya hidup. Sampah kantong plastik—yang—berisikan banyak sampah, kemasan minuman gelas dan sedotannya, cup plastik, wa-akhwatuha yang begitu mudah ditemukan berserakan di lingkungan sekitar.

Selalu ada yang dijadikan rasionalisasi mengapa kita susah untuk membuang sampah pada tempatnya. Jawaban-jawabannya tidak akan jauh dari narasi seperti tidak adanya tempat sampah umum, minimnya fasilitas tempat sampah, dan jauhnya tempat sampah dari jangkauan seringkali menjadi alasan.

Tabiat manusia memang senang mencari-cari pembenaran dari kesalahan, padahal jelas bahwa kelakuan seperti ini merupakan bagian dari dosa-dosa kita terhadap bumi.

Sebagai warga masyarakat Kuningan yang baik dan bijak, tentu semestinya kita menjadi agent of value dalam memperjuangkan nilai-nilai lingkungan hidup, dan menjadi agent of change untuk merubah segala sesuatu yang buruk.

Jangan sampai mentang-mentang kita tidak punya laut, kemudian seenaknya menggunakan sampah plastik secara berlebihan atau bahkan dengan tampang tak berdosa semaunya membiarkan dan membuang sampah sembarangan. Ingat, Kuningan adalah Kabupaten dengan kualitas pariwisata unggul yang patut dijaga dan dilestarikan bersama.

Antara Eco-Friendly, Bisnis Plastik, dan Instagrammable

Gerakan Go-Green atau Eco-Friendly dewasa ini sedang marak dibicarakan publik. Isu sampah plastik yang kini semakin hangat tentu menjadi pemantik intensifitas gerakan tersebut karena mengingat semakin nyatanya ancaman sampah plastik ini bagi kelangsungan dan kestabilan lingkungan hidup.

Dibalik kemasifan gerakan tersebut, kontroversi pro-kontra lahir bersama sinisme bisnis dan modernitas. seperti halnya dua sisi mata uang, satu sisi pihak yang banyak tergabung dalam aktivis sosial mendukung penuh kampanye gerakan Eco-Friendly, namun ada pula pihak yang merasa dirugikan terkait dengan masifnya gerakan tersebut, khususnya terkait larangan penggunaan plastik.

Pihak-pihak itu antara lain dari pelaku usaha—mata rantai pengguna plastik, produsen PSP, hingga termasuk industri daur ulang.

Hal ini tentu menjadi dilematis bagi banyak pihak yang terlibat, mengurangi secara masif penggunaan plastik akan menyebabkan jatuhnya bisnis-bisnis plastik yang selama ini telah menghidupi banyak orang, sebaliknya membiarkan plastik dikonsumsi secara massal tanpa batasan akan semakin memperbesar kemungkinan kerusakan lingkungan hidup—sebagaimana diuraikan di atas.

Jika rasionalisasi kontroversi gerakan tersebut demikian, ini dirasa masih dalam tahap wajar dan berhak dilematis. Adapun kasus yang digambarkan pada alas wacana di atas, mengenai kafe-kafe yang rasionalisasi penggunaan plastik pada berbagai situasi transaksi dirasa cukup janggal karena hanya pada tataran up to date pada perkembangan zaman yang dekat dengan narsisme digital.

Seharusnya para pengusaha kafe tersebut berusaha meminimalisasi penggunaan plastik, dengan inisiatif cup plastik hanya untuk pembeli dengan pesanan take away dan tidak untuk pesanan on the spot tentu cukup untuk langkah minimalisasi tersebut.

Toh, gelas-gelas sekarang ini sudah tak kalah keren desainnya dengan cup plastik. Adapaun masalah budgeting, tentu dapat dipelajari lebih dalam lagi.

Literasi Visual, Kolaborasi, dan Plastics Recycles

Kampanye-kampanye tentang Eco-Friendly jangan berhenti pada tataran kelembagaan saja, akar dari struktur masyarakat adalah rakyat-rakyat desa. Gerakan Literasi Visual dapat menjadi solusi sederhana untuk membangun sendi-sendi kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup.

Iklan-iklan mencintai lingkungan seharusnya sampai pada tataran afektif dan persuasif—yang tentunya ringan dan interaktif. Dengan begitu, ranah psikologis masyarakat akan tersentuh dan ter-mind-blowing, sehingga jika dilakukan secara kontinu kesadaran masyarakat akan lahir dan tumbuh dengan sendirinya.

Pemerintah memiliki tugas dan peran besar dalam hal ini, fokus kerja membelah lapisan masyarakat dari hulu ke hilir harus menjadi progress utama. Selain lewat gagasan Literasi Visual, pemerintah juga dapat melakukan kolaborasi kerjasama antar daerah tetangga. Seperti Kuningan dengan Majalengka, Cirebon, Brebes, dan Ciamis; semuanya harus bersinergi bersama bahu-membahu dalam memperjuangkan lingkungan yang aman-sehat-rindang-indah.

Selain itu, kerjasama dalam bidang penggalakan gerakan gelas-gelas untuk kafe dapat dilakukan. Di Kuningan, belum ada perusahaan yang secara serius memproduksi gelas-gelas tersebut. Karena itu, Kuningan dapat menjalin kerjasama dengan Bogor—misalnya—yang memiliki perusahan yang fokus dalam bidang tersebut seperti Cangkirbogor.com dan Mug-app.com.

Dampak dari kerjasama ini tentu tidak hanya sampai pada ranah pengurangan sampah plastik, justru bisa lebih besar untuk memantik perkembangan ekonomi daerah.

Langkah-langkah pergerakan tersebut akhirnya akan bermuara pada pembangunan dan pengembangan Plastics Recycles. Tahap demi tahap, setelah kesadaran terbentuk—masyarakat sadar membuang sampah pada tempatnya lalu mengumpulkannya, mengurangi peredaran sampah plastik di masyarakat, hingga kolaborasi pemerintah dengan pemerintah—maka berafiliasi dengan asosiasi usaha yang mewadahi para pelaku usaha di bidang daur ulang plastik adalah the last steps yang akan membuat bumi ini semakin sehat.

Penulis: Ayi Yusri Ahmad Tirmidzi
Pena : Ayiyusril
Status : Mahasiswa IAIN Cirebon, Santri PP. Annidhom Cirebon
Alamat : Kuningan