Cikal Bakal Kuningan yang “Dilupakan” Pemerintah

KUNINGAN (MASS) – Tidak seperti yang sering digaung-gaungkan oleh pemerintah bahwa Kuningan saat ini sedang gencar berbenah diri dalam sektor pariwisata demi mewujudkan Kuningan MAJU berbasis desa. Akan tetapi realita di lapangan masih jauh dari harapan masyarakat. Ini tentu sangat disayangkan, karena ketika pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan program unggulan 100 desa pinunjul dan 25 desa wisata, itu tentu sudah melalui mekanisme yang sangat panjang dalam menetapkan program unggulan tersebut.

Mulai dari mengkaji beberapa tahapan, mulai dari rencana, konsep, hingga tantangan di lapangan dalam mewujudkan program tersebut. Pariwisata dan budaya tentu sangat kental kaitannya dengan sejarah, akan tetapi dari sisi sejarah inilah yang tidak diperhatikan oleh pemerintah. Hal ini dirasakan dan dialami secara langsung oleh para pegiat sejarah di Kabupaten Kuningan.

Salah satunya saya yang merupakan warga Kelurahan Winduherang Kecamatan Cigugur. Sudah sejak lama mencintai sejarah terutama “Sejarah Kuningan”. Dalam hal ini, saya yang biasa merawat beberapa situs bersejarah para leluhur Kuningan terdahulu yang terletak di Winduherang, seperti Pangeran Arya Adipati Ewangga, Pangeran Ramajaksa Patikusuma, Cihulu Kuningan dan beberapa peninggalan sejarah lainnya.

Saya menyayangkan sikap Pemerintah yang terkesan melupakan sejarah berdirinya Kuningan itu sendiri. Bahkan ada satu lokasi yang memang benar-benar sakral dan berjasa keberadaannya untuk Kabupaten Kuningan, akan tetapi sampai detik ini belum ada itikad baik dari pemerintah untuk menjaga dan melestarikannya.

Tempat tersebut yaitu, Curug Citenjo Winduherang. Konon pada zaman dahulu para leluhur dan pejuang kita melemparkan bokor dari curug tersebut untuk menentukan titik dimana akan dijadikan pusat Kuningan.

Kini setelah menjadi Kabupaten Kuningan yang sudah ditunjang dengan segala ketersediaan anggaran dan kekayaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni dibidangnya, Cikal Bakal Kuningan seolah dengan sengaja dilupakan begitu saja.

Saya berani berbicara seperti ini demi kemaslahatan Kabupaten Kuningan, karena saya masih berpegang prinsip bahwa “Bangsa yang Besar Adalah Bangsa yang Menghargai Sejarahnya”, bukan melupakannya.

Saya berharap penuh khususnya kepada Bupati Kuningan beserta dinas terkait, untuk bisa lebih memberikan perhatian dari aspek nilai sejarah yang berada di Kuningan. Karena seyogyanya para pejuang kita terdahulu berjuang keras untuk mencapai hingga saat ini.

Saya terkadang sudah merasa jenuh menerima tamu dari beberapa luar kota seperti, Jakarta, Surabaya, Bandung, Garut, Sukabumi, bahkan juga menerima kedatangan tamu dari Luar Negeri untuk datang berziarah ke Winduherang. Akan tetapi berbanding terbalik hal ini seolah tidak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah sendiri.

Sangat disayangkan ketika melihat kunjungan tahunan rombongan bupati bersama seluruh pejabat untuk berkunjung dan berziarah ke Winduherang dalam rangka menyambut datangnya Hari Jadi Kuningan 1 September. Hal itu seolah hanya menjadi acara seremonial semata sebagai syarat rutin tahunan yang dilakukan dalam hitungan jam. Setelahnya di Kabupaten Kuningan sendiri melaksanakan Pesta Euporia yang begitu megahnya selama kurang lebih 2 pekan.

Saya sangat menaruh harapan besar kepada pemerintah, untuk bisa bersama-sama menjaga dan melestarikan sejarah berdirinya Kuningan. Kini Curug Citenjo Winduherang kumuh dan tak bertuan, bahkan akses untuk menuju ke curug tersebut sangat sulit karena sudah lama jarang terjamah oleh aktivitas masyarakat. Lebih parahnya lagi, kini Curug Citenjo dikotori oleh limbah kotoran sapi yang berasal dari para peternak sapi di Kelurahan Cipari.

Ironis Curug yang dianggap sakral, kini tercemari oleh ulah para peternak yang tidak bertanggungjawab. Kami masyarakat Kelurahan Winduherang sangat mengutuk keras kebiasaan buruk para peternak yang hanya memikirkan untung semata, tanpa berpikir dampak terhadap daerah lain atau lingkungan yang tercemari.

Semoga Pemerintah bisa segera memperbaiki kondisi ini, agar bisa menjadi edukasi untuk seluruh masyarakat Kabupaten Kuningan tentang keberadaan awal mula berdirinya Kuningan.

Hal ini sering dirasakan oleh masyarakat ketika ditanya tentang sejarah kuningan seperti apa dan bagaimana. Kadangkala jawaban kita terhadap pertanyaan itu terkesan berbeda-beda versi bahkan lebih parahnya lagi tidak mengetahui sejarah. Akan tetapi ketika Pemerintah bisa konsen, hal itu tidak akan terjadi dikemudian hari. Jangan sampai Sejarah Kuningan hanya menjadi sebuah anggapan sejarah fiktif yang belum pernah terjadi.

Sedikit saya ulas, Bahwa 1 September merupakan Hari Jadi Kuningan. Sebetulnya ini sudah tidak lagi harus menjadi perdebatan yang panjang, karena menentukan Hari Jadi Kuningan sudah melalui mekanisme diantara para pemangku kebijakan dan para pelaku sejarah. Dimana pada 1 September 1498 merupakan titimangsa dinobatkannya Raden Suranggajaya oleh Syekh Syarif Hidayatullah sebagai Pemimpin Kuningan yang kemudian beliau dikenal dengan nama Pangeran Adipati Kuningan.***

Penulis: Dadi Sunardi (Pegiat Sejarah Kabupaten Kuningan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com