Cerpen : Seorang Anak yang Terabaikan

KUNINGAN (MASS) –  “Bu, yah bolehkah aku minta waktu kalian untuk bermain bersamaku?” Tanya seorang anak perempuan yang menghampiri orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ya, ibunya itu adalah seorang model dan ayahnya sebagai pengusaha.

“Ada apa, sih? Sana kamu main aja sama temen-temen kamu!” Jawab ayahnya tanpa menoleh sedikitpun ke anaknya dan masih fokus ke arah laptopnya.

Dengan derai air mata anak itupun pergi ke kamarnya dengan membawa bonekanya. Saat pintu kamar hendak ditutup, baby siternya menahannya kemudian menarik tangan anak perempuan itu dan memeluknya. Seketika anak perempuan itu menangis sampai sesegukkan.

“Kamu main sama bibi aja, ya di kamar.” Ucap baby siternya itu sambil mengusap kedua pipi dan menghapus air mata anak itu. Dia paham betul apa yang anak perempuan itu rasakan.

“Iya, bi.” Jawab anak itu sambil menunduk dan masuk ke dalam kamar bersama baby siternya.

Mereka berdua tertawa riang di dalam kamar hingga terdengar oleh kedua orang tuanya. Ibunya yang merasa terganggu dengan tawa tersebut segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamar anaknya itu.

“Bibi..” Teriak ibunya itu dari luar sambil menggedor pintu kamar anaknya.
Baby siter yang mendengar teriakan itu segera membuka pintu kamarnya dan menunduk karena melihat raut muka nyonyanya itu sangat marah.

“I…I… Iya nyonya.”
“Kalian kalau tertawa itu pelan-pelan, saya terganggu dengan suara tawa kalian.” Jawabnya sambil mendorong bahu baby siternya itu. Dia hanya mengangguk kemudian masuk kembali ke dalam kamar.

Saat hendak duduk ditepi ranjang anak perempuan itu, tiba-tiba anak itu menangis kembali.

“Non, kenapa? Ada yang salah dari bibi?” Tanyanya dengan khawatir.
“Bukan karena bibi.” Jawabnya.

“Bi, apa kehadiranku ini mengganggu kedua orang tuaku?” Tanyanya kembali.
“Tidak, non.” Kemudian memeluk anak itu.
“Lantas kenapa aku tertawa bahagia aja tidak boleh, bi? Kenapa aku tidak seberuntung teman-temanku yang selalu bermain dengan orang tuanya. Apa aku punya salah, bi pada orang tuaku?” Tangis itu kembali pecah dalam pelukannya.

Baby siternya tidak kuat menahan air matanya. Dia tak tega dengan kondisi anak perempuan ini sekarang. “Andai kamu anak bibi.” Ucapnya dalam hati.

Tiba-tiba tangis anak perempuan itu berhenti dan tangannya terkulai lemas. Baby siternya yang menyadari hal itu segera melepas pelukannya dan menidurkan anak perempuan itu. Dia merasakan suatu hal yang aneh. Badan anak perempuan itu terlihat pucat dan dingin. Segera dia meraba denyut nadi anak perempuan itu, dan hasilnya ternyata dia meninggal dipelukannya dengan kondisi depresi karena sikap kedua orang tuanya.

Kemudian dia berlari ke ruang kerja tuannya itu hingga dia tak sengaja menabrak nyonyanya.
“Kamu ini kenapa? Kalau jalan tuh pake mata.” Bentaknya.
“Maaf, nyonya. Tapi, putri nyonya meninggal.” Jawabnya.

“Hahaha, kamu tidak usah berbohong. Tadi kamu sedang bermain dengannya kan?” Tawanya.
“Iya ini benar, nyonya saya tidak berbohong.” Jawabnya sambil menunduk.
“Awas aja kalau kamu bohong, saya akan laporkan kamu ke polisi.” Ucapnya sambil meninggalkan baby siternya itu dan berjalan menuju kamar anaknya.

Saat pintu kamar dibuka, dia kaget melihat kondisi anaknya yang pucat dan meraba denyut nadinya. Seketika tangisnya pecah dan berteriak memanggil suaminya. Tak lama suaminya itu datang ke kamar anaknya.

“Ada apa sih, Bu. Ayah lagi kerja belum selesai. Terus kenapa ibu nangis?” Tanyanya.
“Anak kita, yah. Anak kita.” Jawabnya sambil sesegukkan.

Kemudian ayahnya menoleh ke arah putri kecilnya itu. Ya, putri kecilnya itu sudah tiada. Mereka berdua menangis sambil memeluk tubuhnya yang pucat itu.

Kemudian, baby siternya membuka suara.
“Itu kesalahan kalian sendiri. Kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian hingga mengabaikan putri kalian. Dan inilah hasil jerih payah kalian. Putri kalian meninggal dalam keadaan depresi. Seharusnya kalian luangkan waktu sebentar saja untuk bermain dengannya. Dia tidak pernah meminta lebih, dia hanya meminta waktu kalian.” Ucapnya.

“Sayang, kamu mau main sama ibu dan ayah kan? Ayo sayang main. Ayo bangun jangan tidur dong. Katanya mau main.” Ujar ibunya sambil mencium tangan putrinya itu.
“Iya, sayang. Ayo ayah beliin mainan baru buat kamu. Kita jalan-jalan, ya.” Sambung ayahnya.

Percuma sekarang mereka mengajak putri kecilnya itu bermain. Semuanya sudah terlambat, dia sudah pergi kembali ke sang penciptanya. Akhirnya mereka menyesali semua perbuatannya. Mereka sadar telah mengabaikan dan mengorbankan anaknya demi sebuah popularitas.

Penulis : Ayu Nika S (Siswi SMAN 1 Subang)