Cerpen : Negri Pura-Pura

Kini aku hidup di sebuah negri yang jauh dari planet asalku, Bumi. Disini, negri yang dihuni para aktor. Semua aktor, tentu saja punya keahlian yang sama. Pura-pura. Akting. Seolah-olah.

Hanya aku yang belum bisa. Maklum, aku adalah orang pindahan. Orang baru di negri ini. Masih banyak perlu penyesuaian, pikirku.

Seperti di muka bumi. Semua penghuni disini punya peran masing-masing. Ada pemimpin. Ada yang dipimpin. Ada pemerintahan. Ada juga rakyat dan wakil rakyatnya. Ada aparat keamanan. Ada juga penjahatnya. Bahkan ada juga yang teriak-teriak seperti aktivis, kritikus.

Mereka semua pura-pura. Hanya aktor belaka. Semuanya sudah dibagi peran sejak didaftarkan dalam kependudukan negri ini. Mereka dari planet yang beragam dan dikirim kesini dalam waktu yang bertahap.


Pemimpin disini sangat berwibawa. Apalagi saat masuk media massa. Kadang aku juga terkagum-kagum dan berdecak, hebatnya para pimpinanku.

Padahal aku lupa, mereka pura-pura saja. Memang begitu perannya. Di belakang layar. Di malam hari, dia kembali menjadi orang biasa. Tak punya kuasa apa-apa di negri ini. Ah iya, di malam hari. Semua peran disini berhenti. Semua sama dan berisitirahat dari perannya masing-masing. Pemimpin yang bergelora tadi, aktor handal pikirku.

Esoknya kulihat juga ada wakil rakyat yang koar-koar soal kebutuhan warga yang semakin sulit didapat. Pekerjaan, kesehatan, pangan, dan sederet persoalan yang biasa kutemui di muka bumi, ada juga disini. Semua dipaparkan wakil rakyat. Aku sempat kagum pula. Benar-benar mendengarkan rakyat. Berpihak pada orang lemah, pikirku.

Namun sebenarnya semua itu pura-pura. Selain untik menarik simpatik pada pemilu berikutnya. Wakil rakyat yang satu ini, memang berisik karena proyeknya kalah saing di rancangan belanja negri. Dua hari kemudian, benar saja tak ada lagi suara. Kukira perannya adalah wakil rakyat. Ternyata pengusaha yang cari proyek. Aku tertipu lagi.

Hari berikutnya aku dibuat berdecak kagum lagi. Kali ini pada sigapnya aparat keamanan menangkap penjahat kelas kakap. Katanya, selain berbuat korupsi besar, dia juga yang menggerakan bisnis obat-obatan terlarang. Aku sangat kagum. Terus memuji aparat keamanan yang tangguh.

Hingga aku sadar itu semua pura-pura. Setelah penangkapan, mereka makan bersama di satu meja. Penjahat dan aparat keamanan. Berbagi tips untuk menjadi kaya. Mereka membangun bisnis bersama. Aku tertipu lagi.

Sebulan aku di negri antah berantah. Barulah sebuah status peranku turun. Aku adalah tokoh sebuah organisasi yang kritis, kritikus. Aku setiap hari lantang berbunyi mengkritisi semuanya. Dari pemimpin, wakil rakyat, hingga aparat keamanan. Bersama tokoh masyarakat. Bersama tokoh agama. Bersama tokoh organisasi lainnya. Sebulan penuh aku tak mengendurkan semangatku. Bahkan, siang dan malam.

Hingga pada malam ke 30 inilah, semua yang kukritisi, mendatangiku secara bersamaan. Herannya, mereka datang dengan para tokoh lainnya yang di siang hari, satu suara denganku. Sama-sama kritikus.

“Hey, kenapa kau terus-terusan menyerang kami?” tanya pimpinan dan wakil rakyat.

“Kenapa kami juga diserang?” timbal aparat keamanan.

“Aku kan membela kepentingan rakyat. Aku kritikus. Itu tugasku,” jawabku singkat dan tegas.

_ hening sejenak_

“Aku yakin teman-temanku juga begitu, kenapa aku yang didatangi berbarengan begini?” tanyaku.

Seorang tokoh kritikus lainnya, dari kalangan agamawan datang padaku dan berbisik sesuatu. Mengingatkanku bahwa ini hanyalah negri antah berantah.

“Hey, disini kami semua pura-pura. Tak ada yang benar-benar jadi pemimpin. Tak ada yang benar-benar jadi wakil rakyat. Tak ada yang benar-benar jadi aparat. Tak ada yang benar-benar jadi kritikus. Kau harusnya tahu setelah datang ke negri ini,” ujar tokoh agama padaku.

” Tapi rakyat disini benar-benar kelaparan. Bukan hanya siang hari. Juga malam hari. Tak mungkin aku diam saja, ” kilahku.

” Ah, itumah biasa. Mereka memang bukan orang yang kebagian peran. Jadi biar saja. Kau nikmati saja peranmu, ” cela salah satu dari mereka.

Aku terheran-heran. Siang hari, temanku masih banyak, kukira. Kenapa sekarang semua speeti membenciku.

“Bagini saja, gimana kalau kita pergi berlibur bersama. Tak usah membayar tiket, semua sudah dianggarkan di rancangan belanja negara, kau ikut saja. Yang lain juga biasa begitu. Tenang saja, bisa belanja oleh-oleh, bisa bermain bersama wanita pula. Gratis,” kata salah satu dari mereka, menggoda.

Aku bersikeras dan tak bisa dikompromi. Aku tetap dengan pendirianku soal rakyat yang benar-benar sengsara.

Akhirnya pimpinan utama mereka turun tangan. Menjabat tanganku sembari senyum lebar yang dipaksakan. Lalu bersuara dengan nada yang cukup tinggi.

“Ini negri antah berantah. Semua yang kebagian peran disini punya akses khusus untuk terus memperkaya diri,” jelasnya.

“Tapi itu kan perannya para pengusaha,” sanggahku.

Dia menghela nafas. Mengeluarkan kartu tanda pengenal dan statusnya disana.

“Kau ternyata tak banyak belajar. Kami memang para pengusaha yang berpura-pura jadi pemimpin agar semua projek aman. Berpura-pura jadi wakil rakyat agar bagiannya jelas. Berpura-pura jadi aparat kemanan agar dapat jatah. Semua memperkaya diri.” jelasnya memburu nafas.

“Kalian para kritikus juga sama. Mereka para pengusaha yang pura-pura prontal agar masyarakat tak bergejolak. Hey, ini negri antah berantah. Tempat para aktor, ” lanjutnya sembari menunjuk beberapa pentolan tokoh.

” Kalian……? Keterlaluan, ” aku geram.

Mereka semua menggelengkan kepala dan menjelaskan sekali lagi bahwa ini hanyalah negri antah berantah. Sejak awal, memang ditugaskan untuk berpura-pura. Mereka bilang, aku saja yang terlalu mendalami peran.

Seharusnya, ketika malam, tidak ada lagi aktor yang diperankan. Ketika gelap datang, ketika tidak ketahuan, hilanglah sudah yang diperankan. Semua melebur dan saling bekerja sama. Itulah yang seharusnya terjadi.

“Kau ini aneh. Kami kesini, karena di dunia kami dulu semua serba jujur dan tak saling pura-pura. Disini, kita bisa mengasah akting,” tanya salah satu dari mereka.

Aku hanya diam tak menjawab. Aku masih geram. Setengah marah.

“Kau berasal darimana? Kenapa marahmu sangat asli. Apa dulu di duniamu juga seperti ini, semua tukang pura-pura dan membuat banyak rakyatnya sengsara ?” tanya salah satunya padaku.

Penulis adalah Eki Nurhuda A
Mahasiswa belum wisuda asal Subang Kuningan