Cerpen : Jijik !

Oleh : El-huda

Aku sangat jijik pada tikus. Tidak ada hewan yang lebih aku benci daripada Tikus. Bukan tanpa alasan, aku dan tikus memang sudah bermusuhan sejak dulu. Sejak aku hidup di kampung dengan ayah dan ibu, tikus itulah yang memaksa panen kami gagal. Memaksa aku yang waktu itu masih berusia enam tahun, belajar berpuasa daud, puasa selang satu hari.

Dulu, tentu aku masih sempat senang senang saja saat berpuasa, kalo aku sudah mulai mengeluh, ibuku selalu bilang, rajin puasa, jaminanya surga. Dan surga yang kubayangkan waktu itu, adalah tempat yang banyak makanan. Aku puasa, agar diganjar tuhan untuk bisa makan. Pemikiran anak kecil memang sangat sederhana. Meki belakangan, aku tahu, padi-ku dirampok tikus.

Di kampung, bukan cuman keluarga kami korbannya. Hampir seluruh warga jadi korban Tikus. Semua kelaparan. Memaksa kami bersama sama menimbun padi di lumbung desa. Berpuasa Daud. Sial, lumbung desa juga kecolongan tikus. Orang-orang cemas.

Kondisi di kampung kami cukup parah. Beberapa tahun kedepannya, hama yang menyerang tetap tikus. Orrang orang mulai tak sabar, maka tak heran, terucaplah seumbar seorang warga soal tikus, “juancoook, wirog gembleng. Tikus brengek.”

Sejak itulah aku tahu nama Tikus. Nama yang kujadikan dendam seumur umur.

Kepindahanku ke ibukota adalah pelarian sempurna, pikirku. Pergi merantau jauh dari kampung halaman, agar keluargaku tidak perlu membajak sawah. Kan hanya akan rugi, sebab diganggu tikus. Soal makan, aku bisa kirimkan uang, pikirku. Tapi ternyata salah, aku memang benar benar pergi ke kota, bisa mendapatkan uang, tapi soal tikus, aku salah besar, mereka selalu ada di dekatku. Entah itu dari dapur, dari atap, ataupun dari got depan, tentu saja dengan baunya yang busuk.

Beberapa kali aku sempat pindah tempat kontrakan. Tapi selalu ada tikus. Selalu ada saja ulah yang dibuatnya padaku. Dari mulai mencuri makanan simpananku. Menggerogoti berkas berkas penting yang ku simpan dilaci. Membuat bau sekeliling kamarku dengan air kencingnya yang sembarangan. dan hal hal yang membuatku tak nyaman.

Aku memilih pindah. Menyicil perumahan menurutku akan sangat nyaman. Pemilik rumah bilang, dia bosan disana. Jadi bisa aku beli dan lanjutkan cicilannya. Dan aku jauh dari tikus.

Hanya dua bulan aku benar benar tenang tinggal di perumahan yang masih nyicil. Tapi tikus itu sudah mulai berdatangan lagi. Semakin menjadi jadi. Semakin sinting aku dibuatnya. Mula mula hanya sekedar lewat di ruangan tempatku menonton televisi. Atau di ruangan dapur. Aku hanya menggubris sebisanya. Tak pernah kubunuh. Balasannya, tikus itu berkembang biak di rumahku.

Semakin lama, tikus jadi lebih berani. Setelah mencuri hartaku, mereka mulai mengganggu kesenanganku. Aku senang membaca, mereka gerogoti buku-ku. Aku hobi mendengar radio, mereka juga gerogoti kabel dan antenenya. Aku suka menonton, mereka maerusak tombol tombol dan remot.

Aku putuskan untuk mencari kesenangan di luar rumah.

Aku senang jalan jalan. Tapi belakangan, saat aku mengisi bensin, sudah tidak ada lagi bensin murah. Petugas pom bilang, yang murahan, habis diminum tikus.Aku berhenti dari semua hobiku. Aku jijik. Tapi aku mulai terbiasa dengan tikus.

Selang beberapa waktu lalu, aku seperti diserang halusinasi berat. Tiba tiba mataku terbiasa melihat tikus. Beberapa manusia yang kulihat juga mendadak berubah kepalanya menjadi tikus. Awalnya, tentu saja aku ngeri. Lama lama, aku mulai menyukainya, lucu.

Kadangkala, kudapati manusia manusia setengah tikus itu dipinggir jalan, di halaman gedung, di gerbang gerbang kantor dan sekolah, sesekali juga kulihat di lapangan olahraga. Lucu saja, manusia tikus ikut sepakbola. Dan, hal ini terus berlanjut, bahkan ketika aku pulang kampung.

Di kampung sudah tidak kulihat lagi lumbung padi yang terserang tikus. Lumbungnya roboh, dan dibakar. Kata warga, lumbungnya sudah tidak bisa diselamatkan, isinya tikus semua. Jadi dibakar saja. Sawah sawah juga sudah berganti menjadi beton beton. Kata orang kampung, beton ini tak mudah kena hama. Bentuknya bisa dibuat sendiri. Dan yang pasti, keuntungannya lebih besar. Mereka bisa untung empat kali lipat lebih besar daripada panen padi yang cuman setahun dua kali. Kan beton bisa bisa dibuat dari tanah. Tanah kan tak mungkin habis, kata mereka.

Tentu saja aku hanya mengangguk ngangguk. Mungkin mereka benar.

Tapi di kampung yang terus membuatku tertawa terbahak bahak adalah, ada tikus bisa bicara. Mereka bisa naik motor dan mobil juga. Hebatnya, tikus tikus itu bergerombol. Mereka koar koar tentang sesuatu. Aku tak sempat dengar, aku tak tahan tertawa. Waktu itu, musim pemilihan kuwu, kepala desa.

Sejak saat itu, kudapati banyak manusia manusia yang kepalanya tikus.

Tidak berhenti sampai disana. Di televisi dan media media lainnya, tikus mulai muncul. Banyak sekali. Mereka sangat sering muncul disana, kebanyakan melawak. Tentu saja aku terhibur. Sebelumnya, mana ada tikus bisa atraksi di Televisi. Lucu bukan ? apalagi mereka didandani rapih. Mereka juga dilatih mengucapkan kata kata yang biasa dipakai para pahlawan. Merdeka, kemakmuran rakyat, hidup rakyat, dan banyak lagi. Sempat kutanya ke teman temanku apa yang mereka lihat di siaran televisi, mereka bilang, caleg dewan.

Tapi seketika kelucuanku pada tikus hilang, setelah sebulan lalu kiranya, rumahku yang dikota disita. Mereka bilang, si penjual rumah tak memiliki izin. Aku sempat memaki maki pada mereka yang menyita rumahku. Aku coba menelpon pemilik sebelumnya berkali kali. Tapi kontaknya hilang, hanya ada kontak atas nama tikus.

Aku putuskan untuk tidak lagi pergi ke kota. Aku akan menetap di kampung.

Di kampung juga ternyata sama. Kampung kami terkena gusuran. Kabrnya, menurut Bappeda setempat, kampung kami termasuk wilayah yang diproyeksikan untuk membuat sebuah bendungan raksasa. Memang gila, setelah nenek moyang kami puluhan tahun kami hidup disini, kami harus terusir dari tanah kami sendiri. Tentu saja, seperti proyek proyek pemerintah lainnya, masyarakat tabu akan ganti rugi. Banyak yang protes. Tapi tak ada jawaban. Para pegawai penggusur (kontraktor) tetap datang. Dipimpin seekor tikus yang membawa mobil beko. Dia bilang, soal ganti rugi bukan urusan mereka. Itu urusan penguasa.

Kami di kampung berdiskusi. Terus memantau semua media. Termasuk televisi. Orang orang kampung selalu geram. Mereka memaki maki tak karuan. Tentu saja aku kesal pula. Siapa juga yang mau tanahnya dikasihkan secara sukarela tanpa memikirkan masa depannya sendiri, masa depan keluarga dan keturunannya. Keta orang kampung, lihat saja itu di televisi, kami ditagih nasionalis. Tapi aku tidak melihat apa apa di televisi. Hanya tikus.

Sudah dua bulan itulah kami tertahan di kampung yang setengahnya sudah tergusur. Kami bertahan di posko posko sambil terus memantau tayangan televisi. Itu membuat kebencianku terhadap tikus kembali mencuat. Aku selalu memaki maki mereka, dalam hati. Orang-orang kampung juga, lebih vulgar.

“Pejabat pejabat gila, yang benar saja kita harus menyengsarakan diri untuk negri, tapi mereka tetap kaya,” kata seorang warga.

“Omong kosong soal, nasionalis, patriotis, mereka bisnis, juancook” timpal yang lain.

“Juancook, iki sih arane pembunuhan massal, ora” yang lain berseru.

Aku tidak mengerti soal apa yang mereka komentari dari liputan televisi. Aku cuman ikut kesal saja, tiba tiba jadi banyak lagi tikus. Bahkan beberapa tokoh warga juga ikut ikutan berubah kepalanya jadi tikus.

“Sial. Aku benci tikus”.

“Aku sangat benci tikus”.

“Aku jijik”

“Aku benci mereka, tikus tikus, apalagi yang berdasi !”

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com