Cerpen: Dua Burung Beo Membuat Konten Video

Selama tiga hari ke depan, aku dan Beo akan membuat konten Youtube berupa sebuah pertanyaan yang akan kami lontarkan kepada orang-orang yang ditemui di tempat tertentu—khususnya anak-anak muda. Tidaklah sulit. Pertanyaan ini bertemakan sejarah kabupaten Kuningan.

Membuat konten Youtube ini sudah kami rencanakan dua minggu yang lalu. Melalui pesan singkat aku mengajak Gio bertemu di Waja Kopi desa Palutungan. Beo sepakat. Akhirnya kita bertemu dan membicarakan perihal rencana pembuatan konten ini.

“Aku ingin konten yang kita buat ini memiliki sisi pendidikan untuk masyarakat yang menonton…,” Beo menyulut satu batang rokok, “dan unik tentunya.”

“Memang ini tujuan aku dari dulu. Tentang ‘unik’-nya kamu memang tepat. Tapi ada satu lagi”
“Apa?” Beo mengernyitkan dahi.
“Kita harus memiliki karakter.”

Suara knalpot motor tiba-tiba saja berhenti di depan rumah. Aku mengintipnya di balik jendela. Beo sudah menjemput. Aku segera menggendong tas abu-abu itu dan berjalan menuju lantai bawah.

“Siap Bro?” Beo menyapa.
Aku mengacungken jempol.
“Kita akan kemana dulu, Pit?” Kata Beo sembari memakai helm.
“Kita ke Waduk Darma.”

Semenjak diberlakukannya new normal oleh pemerintah kabupaten Kuningan, Wisata Waduk Darma menjadi tujuan utama oleh masyarakat dari pelbagai daerah. Oleh sebab itu, aku memilih Waduk Darma sebagai tempat pertama dalam pembuatan konten. Melihat wisatawan yang berjubel-jubel memenuhi pelataran Waduk Darma—membuat kami tergugup-gugup memulai pembuatan konten tesebut. Akhirnya, Beo mengajak aku minum kopi untuk menenangkan diri.

Angin yang berhembus kencang seolah menyambut kedatangan kami berdua. Kami segera menyiapkan peralatan yang akan digunakan dan melakukan ritual doa agar diberi keselamatan dan kelancaran.
“Siap.” Kata Beo sembari memegang kamera.

Aku menyambangi satu orang pemuda yang tengah sibuk memainkan ponselnya.
“Kang, boleh tanya sebentar?”
“Boleh…,” Kata pemuda itu mendongak.
“Siapakah raja pertama di kerajaan Saunggalah yang berhasil diungkapkan oleh naskah kuno Carita Parahyangan?”

“(A) Sang Pandawa. (B) Sang Tumanggal.”
Pemuda itu mengernyitkan dahi sebagai tanda berpikir. Tak berselang lama pemuda itu menjawab, “(A) mungkin ya.” Katanya tertawa.
“Yeay! Benar. Terimakasih, Kang.”

Kemudian kami berjalan ke arah Utara. Di Gazebo ada beberapa orang wanita yang tengah sibuk bercerita.

“Selamat pagi.”
“Pagi.” Kata mereka serentak.
“Boleh kami bertanya?”
“Boleh-boleh.” Kata wanita berkerudung coklat. Sementara yang lainnya saling berpandangan.
“Siapakah nama anak raja pertama kerajaan Saunggalah?”
“(A) Putri Candra Wulan. (B) Dewi Sangkari.”
“Kerajaan Saunggalah itu dimana?” Tanya salah satu dari mereka.
“Kuningan, Tari…” Kata wanita berbaju putih sembari menepuk kaki Tari.

Aku tersenyum.
“Bentar-bentar…,” Wanita berbaju coklat itu berpikir, “Aku pernah baca di Majalah Kuningan. Kalau enggak salah, Dewi Sangkari deuh.”
“Yeay! Benar.”
“Tepuk tangan buat Ana.” Kata Tari sembari mengangkat tangan Ana.
“Terimakasih semuanya.”

“Berapa pertanyaan untuk hari ini?” Tanya Beo.
“Setiap buat konten hanya tiga pertanyaan. Waktu yang lainnya kita gunakan buat edit video.” Kataku menyulut satu barang rokok.
“Siap Komandan.”

“Gi..Gi…,” Bisikku sembari mengarahkan arah mata kepada orang yang tengah berpacaran, “Terakhir…terakhir.”
“Permisi, Kak. Mau tanya nih, sebentar.”
“Boleh.”
“Siapakah pengganti Sang Pandawa setelah dipindah-tugaskan ke Layuwatang oleh Sempakwaja?”

“(A) Pangeran Kuningan. (B) Demunawan.”
“Wah, sejarah ya. Kamu tau gak, Yang?” Kata lelaki itu menoleh kepada pacarnya.
“Pas aja deuh, Kang. Soalnya aku enggak tau sejarah.”
“Oh iya-iya. Terimakasih ya atas waktunya.”
Mereka mengangguk.


Asap rokok memenuhi langit-langit kedai kopi 26. Teriakkan ‘maju’ dari salah satu meja anak muda yang tengah asyik bermain game online menjadi perhatian bagi anak muda lainnya. Pelbagai aktivitas pada malam itu sangatlah beragam: ada yang sibuk dengan kamera ponselnya, bermain game online, pertemuan antara pebisnis muda, dua anak manusia yang tengah berpacaran, dan si kutu buku yang nyempil di sudut kedai.

“Nih, Kang, kopinya.” Ucap pelayan kedai mengantarkan dua gelas kopi di meja kami yang bernomor 4.
“Terimakasih, Teh.”
Pelayan itu tersenyum sebelum memunggungi kami.
“Mulai?”
Angga mengacungkan jempol.
Kami menuju meja si kutu buku. “Boleh bertanya Kang?”

Si kutu buku itu menutup bukunya lantas menyimpannya di atas meja, “Boleh.”
“Siapakah penyebar Islam pertama di Luragung?”
“(A) Syarif Hidayatullah. (B) Pangeran Walangsungsang.”

“Siapa ya…?” Si kutu buku itu menggaruk-garuk kepalanya, “Skip-skip.”
“Oke”
“Siapakah tokoh yang menolak penyebaran Islam di Kuningan?”
“(A) Ki Gedeng Lurangung. (B) Ki Padara Cigugur.”

“Hmmm…,” Si kutu buku itu menatap langit-langit kedai, “Kayaknya, (A) deuh.”
“Oke. Terimakasih, Kang.”
Kemudian kami beralih dari tempat si kutu buku bersemedi ke meja sebelah kanannya.
“Mau nanya boleh?”
“Boleh-boleh. Youtuber ya?”
“Bukan, Teh. Kita mulai ya.”

Kedua wanita itu memasang wajah menyimak pertanyaan dari kami.
“Siapakah wanita yang menjadi penguasa pada zaman Islam di Kuningan?”
“(A) Putri Ongtien. (B) Ratu Selawati.”

“Ratu Selawati” Kata mereka serentak.
“Yeay! Benar.”
Mereka bertepuk tangan.
“Lagi ya”
“Siap”
“Siapakah penyebar Islam pertama di Luragung?”
“(A) Syarif Hidayatullah. (B) Pangeran Walangsungsang.”

Mereka saling berpandangan.
“Syarif Hidayatullah” Kata mereka percaya diri.
“Oke. Terimakasih, Teh.”

Jam di tangan sudah menunjukkan angka sepuluh malam. Mata Beo sudah mulai redup. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang saja.
“Kang…,” Panggil salah satu penghuni meja yang tengah asyik bermain game online, “Kami enggak ditanya?” Mereka tertawa.

Aku tersenyum lantas menghampiri meja mereka.
“Tadi saya lihat lagi sibuk. Langsung saja ya.”
“Siapakah penyebar Islam pertama di Luragung?”
“(A) Syarif Hidayatullah. (B) Pangeran Walangsungsang.”
“Alucard” Kata salah satu dari mereka yang disambangi gelak-tawa.

Aku dan Beo hanya tersenyum.
“Yang saya tahu dan saya dengar hanya Syarif Hidayatullah. Oke deuh, saya pilih (A) saja, Syarif Hidayatullah.”


Tak lekang oleh lelah. Pada hari ketiga kami membuat konten Youtube demi dapat bersaing dengan para artis di dunia sana. Beo yang sedari tadi telah menungguku di depan rumah telah menyulut lima batang rokok yang ia sisakan kuntungnya di depan rumah.

Minggu pagi itu kami harus bergegas demi medapatkan tempat parkir yang mudah keluar-masuk. Kami dapat menerka masyarakat yang datang ke taman kota dipastikan membludak bak semut yang kegirangan dengan gula, setelah pandemi.

Setiba di taman kota, kami mendengar sorak-sorai kerumunan manusia yang tengah menyaksikan atraksi pemilik ular python. Meski dilanda rasa takut mereka berusaha memberanikan diri untuk memegang ataupun menyimpan ular itu yang dibiarkan melingkar di badan demi mendapatkan satu jepretan foto.

Ya seperti pada umumnya, hasil jepretan itu akan di unggah ke sosial medianya masing-masing dengan menuliskan nama yang sebelumnya telah ditanyakan kepada pemilik ular tersebut. Kami tidak terlena dengan atraksi tersebut, sebab sebelum berangkat kami telah berkomitmen untuk menyelesaikan konten video yang akan kami unggah di Youtube.

“Kapan hari jadi kabupaten Kuningan?”
“(A) 5 Januari. (B) 1 September.”
“Kapan ya, bingung nih. Soalnya, katanya hari lahir Kuningan itu berubah. Ya udah deh, aku pilih (B) aja yang biasa dirayakan pada tahun-tahun sebelumnya.”

Dari seorang gadis yang berbaju hitam itu kami berjalan kembali menyusuri kerumunan masyarakat yang ‘katanya’ sedang berolahraga sembari memegangi ponsel.

“Kapan hari jadi Kuningan?”
“(A) 1 September. (B) 5 Januari.”
“Kalau enggak salah sempat ada masalah mengenai hari jadi Kuningan itu ya. Yaudah deh aku pilih yang baru aja, 5 Januari.”

Kami terus saja masuk ke dalam kerumunan yang memenuhi jalan Siliwangi sembari ‘cuci mata’ kata Beo. Dalam benak, banyak juga pedagang kaki lima yang memanfaatkan keramaian di tempat umum. Dari mulai pedagang aksesoris, cilok, cireng, es kopi, dan es teh. Di bukanya kembali tempat umum di tengah pandemi ini mungkin membuat hati mereka kegirangan tak berkesudahan.

“Pit, apakah konten ini bermanfaat?”
“Entahlah, nanti tanyain ke manusia?”

Penulis: Rifki Abdul Rofik
Nama Pena: Yazi Tarina
Alamat: Ds. Ciputat Kec. Ciawigebang Kab. Kuningan
IG: yazitarina
*Dalam rangka: 60 menit 1000 kata.