Cara Mengikhtiarkan Jodoh (Jomblo mapan wajib mampir)

KUNINGAN (MASS) – Work From Home dan masa-masa PSBB seperti sekarang ini mungkin membuat sebagian orang merasa bosan karena harus tetap di rumah selama ada wabah.

Apalagi ditambah dengan tidak adanya fasilitas hiburan, rekreasi dan olah raga yang buka ditengah pandemi.

Situasi ini tentu saja semakin dirasa oleh para pemuda mapan nan rupawan atau jomblowati dirundung sepi, yang sebenarnya siap hidup berumahtangga.

Menikah mungkin merupakan salah satu solusi untuk mengisi hari-hari menjadi penuh warna. Namun apa daya, jodoh yang diinginkan nyatanya tak kunjung tiba.

Beberapa waktu yang lalu penulis sudah membuat artikel tentang bagaimana cara kita merayu Allah.

Salah satu yang menjadi pembahasan adalah bahwa setiap keinginan untuk mendapatkan sesuatu.

Selain perlu doa juga seyogyanya diiringi dengan ikhtiar. Termasuk dalam hal keinginan mendapatkan jodoh. Bagaimana ikhtiarnya?

Menikah merupakan bukanlah sekedar salah satu syarat pemenuhan kebutuhan biologis semata. Ia adalah rangkaian dari ibadah terpanjang.

Ibadah dari pernikahan bukan saja pada waktu akad dilakukan, namun setiap detik pasca akad pernikahan sesungguhnya merupakan potensi amal ibadah yang akan berlangsung bertahun-tahun bahkan seumur hidup lamanya.

Karena panjangnya ibadah pasca akad nikah berlangsung, maka tidak sedikit keberhasilan dalam pernikahan ini yang mengantarkan manusia kepada kesuksesan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Rosulullah sendiri menyebutkan bahwa menikah merupakan jalan untuk menyempurnakan setengah agama.
إذا تزوج العبد فقد استكمل نصف الدين فليتق الله في النصف الباقي

Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah pada setengah sisanya.

Oleh karena itu, persiapan menuju pernikahan tentulah harus serius dan penuh pertimbangan yang matang supaya tidak ada sesal di akhirnya.

Demikian pula dengan upaya mencari pendamping hidup yang nantinya disatukan dalam pernikahan, tentulah harus diikhtiarkan dengan baik.

Tidak boleh main-main karena pernikahan bukan permainan. Tak boleh setengah-setengah, sebab pernikahan adalah untuk seumur hidup.

Nabi Muhammad SAW sebenarnya sudah memberi rambu-rambu kepada kita mengenai 4 kriteria dalam memilih jodoh.

Tinggal kita amalkan :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya.

Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”

Nah, berikut ini beberapa ikhtiar (diiringi doa) yang bisa para jomblowan dan jomblowati lakukan untuk bisa mendapatkan pasangan hidup secara benar (baca : Syar’ie)

Awali dengan niat yang baik
Niat sangat penting dalam mengawali aktivitas kebaikan. Mencari jodoh pun termasuk bagian dari aktivitas yang baik apabila diawali dengan niat yang baik.

Apabila pernikahan yang anda impikan diniatkan sebagai ibadah, maka segala hal yang mendukung terealisasinya impian tersebut insyaAllah juga menjadi pahala.

Sebaliknya, kalau ajang mencari jodoh diniatkan hanya untuk main-main, iseng-iseng, atau hanya untuk kesenangan dunia saja, maka ya hanya itu yang akan didapatkan.

Minta tolong kepada orang lain untuk dicarikan jodoh

Pertama, minta tolong kepada orang tua. Umumnya pemuda jaman sekarang akan gengsi dengan rumus yang satu ini.

Padahal, kalau kita percaya dengan orang tua, pasti mereka akan memilihkan kita calon pendamping hidup yang terbaik. Karena mereka tahu, bahwa akad nikah itu menjadi awal kehidupan baru sang anak.

Tak mungkin orang tua memilihkan calon pendamping yang akan merugikan masa depan anaknya.

Kedua, minta bantuan teman atau saudara yang dipercaya. Bisa juga minta bantuan kepada kyai, guru, atasan yang sekiranya bisa membantu menemukan calon pasangan yang sesuai visi-misi hidup anda.

Juga Tentukan kriteria khusus calon pendamping idaman anda. Sampaikan ke orang yang anda percayai untuk mencarikan yang sesuai dengan kriteria itu.

Perlu sedikit bersabar, sertai dengan doa agar segera mendapatkan calon yang sesuai dengan keinginan.
Ketiga, Hubungi Biro Jodoh atau Lembaga tertentu yang siap membantu proses pernikahan.

Di dunia nyata, banyak sekali pernikahan yang terjadi atas jasa biro jodoh. Itu juga bagian dari ikhtiar yang diperbolehkan, asalkan tidak melanggar aturan agama pada prosesnya.

Bidik “target” dengan tepat
Bagi anda yang sudah punya gambaran dengan siapa anda ingin menikah, pastikan cara yang anda gunakan benar sehingga bidikan anda tepat sasaran dan terhindar dari “diskualifikasi” (baca : dosa).

Cara berikut mungkin bisa membantu anda.


Pertama, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, libatkan pihak ketiga untuk membantu.

Anda bisa minta bantuan kepada orang yang sekiranya kenal dengan “target” (bisa saudara, teman dekat) mengenai kepribadian orang yang akan anda jadikan pasangan hidup tersebut.

Jangan sampai anda tertipu dengan penampilan fisik. Bila perlu, pastikan orang yang ingin anda nikahi mempunyai kriteria khusus (misalya tidak memiliki penyakit tertentu.

Perlu diketahui juga latar belakang keluarganya, aktivitas/pekerjaannya, dan segala hal yang kemungkinan akan mempengaruhi kehidupan anda setelah menikah nanti.

Kedua, tanyakan juga tentang kesiapan si dia hidup berumah tangga. Selain itu, pastikan bahwa orang yang ingin anda nikahi belum dilamar oleh orang lain.

“Dari Uqbah bin Amir, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: seorang mukmin adalah saudara dari mukmin yang lain. Seorang mukmin tidak halal menjual atas penjualan saudaranya, dan tidak halal melamar atas lamaran saudaranya sebelum ia meniggalkannya,”. (H.R Muslim)

Ketiga, apabila si dia telah siap menikah dan belum ada yang melamar, maka anda perlu memberanikan diri untuk menanyakan apakah mau diajak hidup berumah tangga atau tidak.

Bisa secara langsung (bertemu), tidak langsung (dengan perantara orang). Boleh secara lugas (to the point), bisa juga dengan kalimat sindiran. Kita bisa memilih cara yang paling pas sesuai dengan tingkat keberanian yang kita miliki.

Oh iya. Langkah ini bukan hanya monopoli kaum adam. Seorang wanita boleh-boleh saja punya keinginan menikah dengan seseorang, lantas memberanikan diri mengajak nikah laki-laki tersebut.

Tentunya cara yang digunakan harus sesuai dengan koridor agama. Cara demikian dicontohkan oleh sababat nabi saat mencarikan jodoh untuk saudara perempuannya.

Dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan berkata : “Wahai Rasulullah kawinlah dengan saudara perempuanku putri Abu Sufyan.

Beliau bertanya:Apakah kamu menyukai yang demikian itu? Saya (Ummu Habibah) menjawab: Saya tidak asing lagi bagimu dan engkaulah yang paling kuinginkan untuk menyertaiku dalam kebaikan saudara perempuanku” (H.R. Bukhari)

Nah, bila beberapa langkah di atas sudah ditempuh, maka bisa berlanjut ke proses berikutnya : datangi orang tuanya, khitbah (lamaran), lalu ke proses pernikahan.

Pantaskan diri, jalin silaturahmi
Sembari menunggu jodoh yang kita impikan benar-benar datang, kita perlu memantaskan diri kita (dengan perbanyak ilmu, tingkatkan ibadah, dll) sebab jodoh merupakan cerminan jiwa seseorang.

Jika kita menginginkan jodoh yang baik, maka kita harus baik dulu. Kita harus berusaha memiliki level (ketaqwaan) yang sama dengan jodoh yang kita inginkan.

Selain itu, terus perkuat tali silaturahmi. Semoga dengan silaturahmi yang kita jalin, Allah akan memberikan jalan kemudahan rizki, termasuk kemudahan kita dalam meniti jalan menuju pernikahan.

Tidak putus asa
Pada praktiknya, mencari jodoh memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selalu ada halangan dan rintangannya.

Begitu pun ketika proses sudah berlangsung, akad nikah sudah hendak digelar, bisa saja tiba-tiba tidak jadi dilaksanakan karena suatu hal.

Namun, betapapun berat perjuangan yang harus dilakukan, kita tidak boleh berputus asa dalam berikhtiar. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan jalan terbaik. Wallahu a’lam bisshowab***

Edi Gunarto, S.Pd
Penulis adalah pengajar di Ponpes Al-Multazam, blog : edigunarto.wordpress.com