Benarkah Kehadiran Medsos Membuat Kita Lebih Mudah Saling Membenci?

KUNINGAN (Mass)-  Dulu, sewaktu belum ada media sosial, kita bisa berjam-jam mengobrol sama teman, sama keluarga dan bahkan dengan orang yang baru kita kenalpun bisa kesana-kemari ngobrol terhadap sesuatu.

Namun, sejak kehadiran media sosial, orang lebih asyik bercengkerama sendiri melalui gawainya. Sebagai dari teman kita, saudara kita, bahkan kita sendiri berubah sejak kehadiran media sosial tersebut, Mereka bahkan kita terkadang asyik berselancar terus mengikuti berita yang muncul di timeline kita.

Kebangkitan era komunikasi canggih memang tidak bisa kita hindari, itu adalah sebuah keniscayaan. Dunia seakan dilipat berkat kehadiran media sosial, semua orang di dunia ini bisa saling berinteraksi kapanpun ia mau, tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Berbicara soal media sosial, tentu ada sisi baik dan buruknya, apalagi salah satu kecanggihan media sosial adalah kita bisa membagikan sebuah status, berita ataupun informasi dalam waktu hitungan detik. Semua bisa membaca status atau informasi tersebut. Tanpa jeda, langsung muncul seketika di beranda kita.

Sejak kehadiran media sosial pula, kita bisa menemukan kembali teman yang sudah puluhan tahun hilang bak ditelan bumi. Dengan media sosial pula, kita bisa mendapatkan rejeki melalui peluang bisnis, bahkan ada yang mendapatkan jodoh. Itu merupakan salah satu hal positif kehadiran media sosial.

Namun, jangan salah, kehadiran media sosial juga bisa membawa dampak negatif, seperti penculikan anak, penipuan dan lain sebagainya. Ibarat pisau bermata dua, jika kita tidak berhati-hati maka kita akan terluka.

Kita sebagai makhluk sosial, tentu harus terus belajar untuk melihat mana hal yang baik dan mana yang bukan, belajar untuk terus check and recheck terhadap segala sesuatu yang belum tentu benar adanya, dalam Bahasa Agamanya adalah kita harus ber-tabayyun terlebih dahulu terhadap segala sesuatu.

Mungkinkah Media Sosial Membuat Kita Lebih Mudah Saling Membenci ?

Kehadiran media sosial memunculkan istilah lovers dan haters, pencinta dan pembenci. Itu lazim ditemukan di era sekarang. Kehadirannya yang mampu menyihir hampir semua orang, bahkan sampai ada orang tua yang sudah membuatkan akun media sosial buat anaknya, walaupun masih berumur 3 tahunan. Bagi saya, itu sungguh keterlaluan, selayaknya membuat akun media sosial itu seharusnya ketika sudah dewasa.

Seperti contohnya misalkan, si A menyukai artis tertentu, lantas si B tidak menyukai artis tersebut, ketika sang artis mengunggah foto misalkan, maka si A akan memuji tapi si B akan terus mencaci. Terjadi perang argumenlah mereka berdua yang tidak berkesudahan. Padahal kenal saja enggak sama artis tersebut, iya kan ?

Misalkan yang lain adalah membanding-bandingkan, yang lagi ramai adalah ketika orang membanding-bandingkan lebih mana antara Isyana Sarasvati dan Raisa. Semua dibanding-bandingkan, perang antar fans di media sosial, padahal ke dua artis tersebut baik-baik saja, bahkan bersahabat baik pula.

Sampai-sampai keduanya membuat satu lagu bareng yang berjudul ‘Anganku Anganmu’, lagu tersebut menyuruh kita untuk berhenti membanding-bandingkan mana yang lebih baik, dan sudah saling membenci.

Berikut lirik lagu mereka berikut ini:

Tiada berbeda apa yang kurasakan

Tajam menusuk tak beralasan

Kita sudah dingin hati

Dulu kita saling memahami

Sekian merasa telah menyakiti

Kita telah lupa rasa

Setiap katamu cerminan hatimu

Jadikan berarti

Jangan sia-siakan waktumu tuk membenci

 

Menjadi pencinta dan pembenci memang sudah ada sejak dahulu, namun kehadiran media sosial yang serba cepat dan instan terkadang membuat orang lebih mudah untuk saling mencaci dan memaki.

Selain itu, kehadiran media sosial yang kita punyai saat ini ditunjang dengan adanya berita-berita yang disuguhkan oleh media-media online. Mereka berlomba-lomba untuk membuat akun media sosial media online mereka, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram dan lainnya.

Mereka juga berlomba-lomba untuk mendapatkan likers paling banyak. Karena memang media online tumbuh subur bak kecambah di musim hujan karena banyaknya orang menggunakan media sosial. Semua media skala nasional, regional sampai daerah membuat media online, bahkan dengan modal 100 ribu sudah bisa membuat sebuah website.

Karena media online ingin segera mendapatkan lebih banyak pembaca dan siapa yang paling duluan, maka terkadang integritas dan kelayakan berita menjadi dikesampingkan. Yang penting cepat, benar atau salah dinomor duakan.

Ini yang bahaya dan harus menjadi perhatian pengguna media sosial, kasus yang paling menyita perhatian publik adalah dimulai ketika pemilihan presiden tahun 2014 dan yang terbaru adalah pilkada DKI tahun 2017. Bagi yang tuna literasi, maka berita bersumber dari media online hanya dibaca judulnya saja, langsung dibagikan, tanpa check and recheck terlabih dahulu.

Kita tidak salah menyukai sebuah akun media online sehingga kita mendapatkan berita, namun kita juga harus melek literasi, sehingga ketika kita membagikan berita tersebut, yang terjadi adalah saling perang opini sesame pengguna media sosial, ujung-ujungnya adalah saling membenci.

Masyarakat Indonesia sebenarnya belum siap dengan kehadiran media sosial. Kenapa, karena daya literasi kita yang masih rendah. Coba bayangkan, ada sebuah berita, entah benar atau tidak langsung dibagikan. Ini disebabkan rendahnya masyarakat kita untuk mencari tahu.

Media sosial itu baik asalkan kita mampu mengelolanya dengan benar dan jangan lupa untuk terus belajar dan membaca, karena dengan membaca akan menjadikan kita sebagai masyarakat yang lebih kritis dalam menerima informasi apapun. Semoga***

Penulis : Ahmad Syaiful Bahri

(Koordinator USAID PRIORITAS Kuningan Jawa Barat)

 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com