Bahasa IBU (Ikatan Bathin Untukmu nak)

KUNINGAN (MASS) – Tanggal 21 Februari dinobatkan sebagai bahasa ibu internasional. Menurut Wikipedia, Bahasa Ibu dalam bahasa Inggris disebut native language adalah bahasa pertama yang dikuasai atau diperoleh anak. Di mana pun anak itu lahir, kemudian ia memperoleh atau menguasai bahasa pertamanya maka bahasa yang dikuasai itu merupakan bahasa Ibu. Apakah itu bahasa daerah, bahasa Nasional, hingga bahasa Internasional misalnya bahasa Inggris.

Umumnya, bahasa pertama yang dikuasai seorang anak adalah bahasa Ibu (bahasa daerahnya) bukan bahasa Nasional atau Internasional. Akan tetapi tidak menuntut kemungkinan bahasa pertama yang ia tahu dan gunakan adalah bahasa negaranya dan bahasa nasional atau Internasional. Bergantung pada siapa, di mana, dan atas kepentingan apa bahasa tersebut dibelajarkan.

Namun, ada yang lebih penting dari itu semua. Bahasa yang benar-benar tidak akan pernah memisahkan ikatan antara seorang ibu dan anaknya. Bahasa yang muncul ketika anak masih berada di dalam kandungan ibunya. Bahasa yang tak pernah lekang oleh zaman dan perubahan. Bahasa yang begitu bisa dirasa meskipun tidak diucapkan dengan kata.

Ya, ibu. Sosok makhluk yang luar biasa. Bahkan Islam memuliakannya 3 derajat dibanding ayah. Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata,

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Memang sangat masuk akal jika seorang ibu berhak mendapatkan posisi tersebut. Perjuangannya sangat luar biasa, mulai mengandung, melahirkan, dan membesarkan anaknya tidaklah dilewati dengan mudah. Penulis menjadi saksi itu semua ketika mendampingi proses melahirkan ketiga anak yang dilewati begitu mengharukan oleh sang istri. Dikuatkan dengan firman Alloh SWT yang artinya:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah.

Maka tidak heran jika terjadi sesuatu terhadap anak, seorang ibu bisa langsung merasakannya. Karena ikatan itu sudah terpatri dalam diri dan hati antara ibu dan anak. Dan itu merupakan bahasa ibu terbaik meski tidak harus diucapkan tapi sangat bisa dirasakan.

Selamat hari bahasa ibu internasional, semoga dengan menjaga bahasa ibu, kita bisa menjaga dan mempererat juga ikatan dengannya karena bahasa ibu adalah bahasa Ikatan Bathin Untukmu (nak)….

Oleh : Coach Ari (Trainer Amco / Leadership Trainer / Kepala Bagian Pembinaan Pondok Pesantren Terpadu Al-Multazam / Konsultan Permasalahan Pelajar dan Pemuda / Trainer Muda Kuningan / Mahasiswa Semester Akhir Pasca Sarjana Uniku Prodi Magister Manajemen / Instruktur Senam Kebugaran / Penulis Buku “Kembali Kepada Fitrah”)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com