Kisah Kakek Casim Pengamen yang menggunakan Biola

KUNINGAN (MASS) – Disaaat orang lain masih terlelap tidur, Casim (75) Warga Pasaleman Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon sudah berada di dalam mobil angkutan umum. Seperti biasa pagi itu ia akan menuju Kabupaten Kuningan.

Usia renta tidak menghalangi untuk mencari nafkah. Satu-satunya keahlian yang dimiliki adalah memainkan biola. Maka, ayah lima anak ini memilih jadi pengamen.

“Usia saya sekarang adalah 75, siapa yang mau menerima saya bekerja, maka saya memilih jadi pengamen dari pada meminta-minta,” ucap Casim mengawali cerita kuninganmass.com suatu ketika Jumat pagi.

Casim yang biasa mengamen di depan SDN 17 atau di depan SMAN 1 Kuningan  menerangkan, meski terkadang ada perrasaan malu, tapi ia tepis karena untuk menafkahi istri.

Ke lima anaknya sudah menyebar di berbagai kota sehingga ia harus terus menafkahi istri. Hal ini ia lakukan agar tidak menjadi beban anak.

“Saya tidak mau menjadi beban, maka saya berusaha bekerja meski menjadi pengamen,” ucap dia yang terus menggesek dawai biola.

Lengkingan suara dawai biola seolah menerangkan getirnya kehidupan yang ia hadapi. Di saat orang lain diusia seperti itu di jamin oleh anaknya justru dia ada di jalanan.

Ada dua tempat favorit yang setiap hari jadi tempat ngamen yakni depan pintu gerbang SMAN I Kuningan dan depan SDN 17 Kuningan. Berapun yang diperoleh dari ngamen selalu disyukuri.

“Yang namanya rejeki tidak menentu, maka saya selalu syukuri yang terpenting bisa menafkahi istri,” ucap Casim yang mengaku istrinya berusia 61 tahun.

 

Ia mengaku, selain, biola terkadang juga suka memainkan alat musik kecapi. Namun, karena ukuran, kecapi jarang dibawa, lebih memilih biola yang lebih mudah.

Kemahiran dalam memaikan dawai biola diperoleh secara otodidak. Mengenai lagu yang kerap dinyanyikan kebanyakan adalah lagu perjuangan dan lagu masa lalu.

Dikatakan, setelah cukup mendapatkan rejeki langsung pulang ke Ciledug. Dari Kuningan biasanya jam 12 siang. Ia sudah mematok ramai tidak ramai harus pulang.

“Dikala sepi dari ngamen saya selalu mencakul. Tapi, karena sekarang banyak menggunakan traktor maka jasa saya tidak terpakai,” jelasnya.

Ia mengaku, tidak mengetahui sampai kapan menjadi pengamen. Dikala usianya terus bertamba harapannya adalah sehat dan selalu mendapatkan rejeki dari mengamen.(agus “sagi” mustawan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com