Mengenal Agis, Bikin Video Cuman dari HP, Menang Lomba Hingga Pernah di repost Hanindya

KUNINGAN (MASS) – Video tentang Kuningannya menyebar luas hingga direpost artist kenamaan Hanindya. Ternyata, kreatornya adalah seorang siswa SMA Jalaksana, Kuningan.

Namanya Agis Lukman Fadilah, warga Desa Sadamantra Jalaksana yang masih menempuh pendidikan di tahun terakhirnya jurusan IPA.

Usianya masih sangat belia, masuk 18 tahun. Di lomba video BNNK, SMA-nya pun mendapat juara di 3 besar.

Saat ditemui kuninganmass.com pada Sabtu (8/7/2020) pagi, Agis, sapaan akrabnya, mengaku video pendek berdurasi satu menit itu hanya iseng.

Dirinya menceritakan bahwa, sudah menyukai dunia vodeografer sejak SLTP.

“Dari masih MTs. Coba-coba di Hp aja pake aplikasi yang ada. Terus makin kesini, makin kemotivasi. Orang lain juga bisa bagus, kayaknya Agis juga bisa,” akunya dengan raut wajah senang.

Agis mebgaku, selama ini membuat video hanya dengan HP. Dari mulai recording, video, hongga editing.


Ngerekam ngedit juga pake hp. Kecuali yang terbaru kemarin, sebagian shootnya, menggunakan bantuan alat hasil meminjam.

“Dulu sih dilemparnya ke Youtube, kalo sekarang ke Instagram. Karena interaksinya ternyata lebih banyak,” jawabnya saat ditanya lewat apa publish karyanya tersebut.

Saat ini, video terbarunya itu dianggap sebagai hasil paling greget. Selain karena interaksi dan respon yang baik, ini juga merupakan satu dari keinginannya sejak lama, membuat video tentang Kuningan.

“Awalnya iseng, terus pengen deh tuh bikin video yang ada unsur Kuningan. Temen-temen juga nyaranin. Eh ternyata Hanindya juga sampe like koment terus share di Instastorynya,” ujarnya menceritakan vokalis dari lagu yang dipakainya di video, beautiful we are.

Dirinya menjelaskan, konsep dari video Kuningan itu, sengaja dibikin kesan klasik diawal dengan tema hitam-putih.
Tapi ketika penari mengangkat tangan, semua kembali jadi cerah, berwarna.

Dalam video, ada juga unsur Virus corona sebagai gambaran saat ini. Dalam video, terlihat penari yang tetap enerjik meski terjatuh dan dikelilingi gambar animasi virus. Menurutnya, itu adalah filosopi yang harus diaplikasikan. Meskipun jatuh, berat harus terus semangat dalam hidup. Dan perlu diketahui, semua talent dalam video ternyata teman-temannya sendiri.

“Kalo door transition emang kepengen aja udah lama. Jadi kan biasanya hanya cinematik,” ujarnya sembari menyebut beberapa idolanya dalam mengedit video.

Meski sudah terlihat cukup mahir, dirinya ternyata tidak bercita-cita sebagai vodeografer khusus.

Ada cita-cita dari kecil yang dia simpan, dan juga harapan orang tuanya, menjadi guru. Menjadi guru, masih menjadi tujuannya mengangkat derajat keluarga.

” Jujur belum ada sih kepikiran jadi videografer pro. Ini karena hobi aja. Tidak punya juga alat alatnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Dirinya berharap, setelah lulus sekolah SLTA ini bisa melanjutkan kuliah di luar kota. Tentu saja, cita-citanya menjadi guru tak pernah padam.

Sedangkan videografer, akan terus digarapnya sebagai hobi untuk mengisi waktu dengan positif.

“Ya bisa juga kok, jadi guru, tapi sampingannya videografer,” tuturnya. (eki)