Kisah Kurir Jasa Ekspedisi : Mulai dari Medan Berat Hingga Nyawa Jadi Taruhan

KUNINGAN (MASS) – Merebaknya dunia perdagangan melaui internet dan online membuat penggunaan jasa ekspedisi juga meningkat. Penggunaan aplikasi marketplace, maupun marketplace di medsos membuat dunia kuriri paket merebak dimana-mana, baik itu di kota maupun di daerah.

Apalagi saat ini, ketika masyarakat diimbau untuk tetap di rumah, padahal kebutuhan hidup harus tetap dipenuhi, maka jasa ekspedisi menjadi salah satu alternative memenuhi kebutuhan, bahkan sekedar keinginan.

Salah satu yang sering luput dari perhatian adalah kurir pengantar paket. Setiap harinya ke semua pelosok yang tertera di alamat paket harus dijangkaunya.

Meski mungkin jauh, akses sulit, serta cuaca tidak mendukung, kewajiban menyampaikan paket tetap berjalan. Salah satunya adalah Ade Arbi Juliano, salah satu kurir dari jasa ekspedisi yang ada di Kuningan.

Dirinya yang tinggal di Kecamatan Cigandamekar tersebut, ternyata setiap harinya dalam 4 bulannya bekerja harus mengelilingi kecamatan terluar di Kabupaten Kuningan, Darma, Selajambe, Subang hingga Cilebak.

“Saya biasanya berangkat dari rumah, sampe ke kantor di Bandorasa jam 8-nan. Biasanya kita sortir dulu , itu lumayan makan waktulah, bisa sampe jam 11. Selesai itu, baru kita kirim,” ujarnya pada kuninganmass.com pada Minggu (22/3/2020) siang.

Rider Arbi, sebutan untuk kurir, mengaku sejak pertama kali bekerja di perushaannya hingga saat ini, selalu memegang bagian selatan Kuningan. Paket-paket yang dikirimkan pun cukup beragam jaraknya, karena termasuk kecamatan terluar. Kadang dirinya mengirim paket hingga ke perbatasan Ciamis ataupun Cilacap.

“Perbatasan Cilacap itu, kita pernah sampe Mandapa. Kalau perbatasan Ciamis itu, Tangkolo,” jelasnya.

Meski menempuh jarak yang jauh, dirinya mengaku masih enjoy melakukannya. Dirinya malah lebih merasa sulit ketika aksesnya susah atau ada gejala alam yang menghambat.

Arbi  mencontohkan Desa Gunungaci ketika ditanyai pengiriman paling sulit, pasalnya selain akses yang susah, ia  juga sempat terhalang longsor.

“Kalau hujan mah udah sering, kita juga sedia jas hujan. Tapi waktu itu mah baru psai, pertama kali liat secara langsung bencana longsor. Untung aja masih ada jalan kecil setapak, cukup motor aja,” ceritanya dengan antusias.

Pada saat ini, ketika penyebaran covid-19 sedang gencar, ternyata tidak mempermudah pekerjaan. Pasalnya, permintaan pengiriman barang secara online ternyata cukup tinggi. Apalagi himbauan tetap di rumah, tentu berakibat pada meningkatnya permintaan belanja secara online.

“Masker sama sarung tangan mah pasti a, harus,” ujarnya.

Dalam sehari, Arbi mengaku bisa menghantarkan lebih dari 40 paket yang tersebar di 4 kecamatan. Namun, karena saat ini tersedia layanan Cash on Delivery (COD), terkadang malah membuatnya harus banyak bersabar menghadapi costumer.

“Kadang lama di nunggunya, karena gak bisa dititp. Kan COD. Kadang juga ngeselinnya tuh, udah dikirim ke tempat, orangnya malah cancel. Pernah tuh, udah mah jauh lagi,” terangnya.

Saking tidak menentunya jam kerja karena bergantung jarak dan situasi, dirinya kadang sampai di rumah hingga larut malam. Tentu saja bukan tanpa resiko,  ia juga sempat khawatir ketika memasuki waktu malam, padahal jarak tempuh masih lama dan sedang berada di tengah perjalanan di tempat sepi.

“Ke costumer paling malem isyaan a, waktu itu di Cilebak. Jadi aja nyampe rumah tuh jam 12 malem. Soalnya kan tetep harus ke kantor dulu,” imbuhnya.

Dengan berbagai resiko di jalanan, serta dengan adanya penyebaran wabah covid 19, dirinya selau berdoa dijauhkan. Bahkan, sebagai usahanya dan bentuk doanya, dalam perjalanan pengantaran paket, dirinya selalu menyempatkan diri ke mesjid untuk beribadah, tentu hal tersebut bermanfaat karena sebelum beribadah dirinya melakukan wudhu, bagian dari kebersihan anggota tubuh terluar. (eki)