Cerita Pilu Kakak Beradik Lansia, yang Satu Lumpuh, Satu Lagi Struk

KUNINGAN (MASS)- Rambutnya sudah memutih. Ditambah kondisi kakinya tidak sempurna ketika berjalan karena menderita struk ringan. Tapi Sorot matanya masih terlihat tajam. Usianya sudah 70 tahun. Namun, tidak pikun. Itulah gambaran Warsuni nenek yang berusia 70 tahun.

Sementara itu, Carim (65) tidak jauh berbeda kondisinya. Namun, adik dari Warsuni itu tergeletak di kasur karena lumpuh sejak empat tahun lalu.  Mereka berdua adalah lansia yang diusia senja harus menghadapi kondisi hidup yang sangat getir.

Ketika Senin sore awak media mengunjunginya, udara Kuningan terasa sejuk karena baru saja diguyur. Meski begitu di Dusun Wage Desa Ciomas Kecamatan Ciawigebang tempat tinggal mereka berdua tidak turun hujan kendati langit mendung.

Karena keterbatasan fisik itu mereka hidup menghandalkan belas kasihan dari warga sekitar.  Untungnya setiap hari ada yang berbaik hati mengirimkan makananan. Bukan tidak bisa memasak, namun apa harus dimasak lansia kakak beradik itu karena mereka tidak  punya uang.

Untungnya rumah  yang mereka tempat masih terlihat kokoh meski konon katanya rumah itu sudah terjual.  Uang dari penjualan rumah tersebut, dibayar dengan cara dicicil untuk biaya makan mereka sehari-hari.

Setiap hari Warsuni tidak bisa jauh dari Carmi. Dengan kondisi yang lumpuh maka Carmi setiap hari harus dirawat. Terlebih semua aktivitas dilakukan di kasur.

“Harapan Ema diusia yang sudah tua adalah pemerintah bisa membantu kehidupannya. Ema tidak punya anak. Punya satu adik di Desa Pangkalan tapi kehidupunya seperti Ema,” ucap Warsuni kepada awak media yang datang meliputnya.

Kondisi rumahnya sendiri sudah pasti tidak beraturan. Terlihat ada atu sofa rusak  yang terlihat kotor dan berantakan. Mereka tidak punya tempat memasak, maka tidak heran untuk minum pun mereka diberi oleh tetangga.

Sementara di ruang tengah, hanya ada meja makan yang hanya diisi gelas dan piring plastik dengan kondisi lusuh. Begitu juga lantai rumah pun penuh dengan debu. Jangan untuk memberisihkan, mengurus mereka sendiri repot setengah mati karena sudah lansia.

Lili Saili salah saeorang tetangga Warsuni memberikan  rumah yang ditempati itu sudah dijual. Uang dari penjualan rumah tersebut, dibayar dengan cara dicicil untuk biaya makan mereka sehari-hari. Mereka sama sekali tidak bekerja karena sudah sepuh.

Suyami (55), tetangga yang selama ini selalu berbagi makanan mengaku, tidak tega melihatnya sehingga setiap hari selalu mengirimkan makanan dan minuman. Sebagai manusia tentu harus saling membantu.

Suyami didampingi suaminya, Edi Nadi mengatakan, apa yang diberikan ikhlas dan memang harus membantu. Mereka berdua tidak pernah membeda-bedakan makanan yang diberikan. Ketika mereka makan enak maka dua lansia itu juga makan enak. Begitu sebaliknya. (agus)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com